Erupsi Anak Krakatau Berubah, Suplai Magma Masih Terpantau
Erupsi Gunung Anak Krakatau mengalami perubahan karakter sejak Sabtu (15/7/2023). Badan Geologi dan Mineral Nasional (BGMN) melaporkan bahwa aktivitas vulkanik tersebut menunjukkan pola yang berbeda dengan periode sebelumnya. Meskipun demikian, suplai magma ke kawah masih terpantau secara intensif oleh tim vulkanologi.
Perubahan Aktivitas Vulkanik
Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Hanum, perubahan erupsi terdeteksi sejak Sabtu lalu. Sebelumnya, erupsi Anak Krakatau bersifat eksplosif dengan tinggi kolom abu yang mencapai 800-1.200 meter di atas puncak. Namun dalam beberapa hari terakhir, karakter erupsi beralih menjadi erupsi freatik.
"Erupsi freatik terjadi ketika air hujan atau air permukaan kontak dengan magma panas, mengakibatkan ledakan yang lebih kecil namun lebih frekuens," jelas Hanum dalam rilis resmi yang diterima pada Minggu (16/7/2023).
Tim PVMBG yang melakukan pengamatan langsung di sekitar perairan Anak Krakatau melaporkan bahwa frekuensi erupsi saat ini mencapai 5-10 kali per jam dengan durasi 30-60 detik per erupsi. Tinggi kolom abu tercatat antara 200-500 meter di atas puncak gunung.
Suplai Magma Terus Terpantau
Meskipun karakter erupsi berubah, PVMBG menyatakan bahwa suplai magma ke kawah masih terjadi. Data dari stasiun seismograf menunjukkan adanya getaran frekuensi rendah yang menandakan adanya gerakan magma di dalam sistem vulkanik.
"Hasil analisis data visual dan instrumental menunjukkan bahwa adanya suplai magma masih terjadi ke dalam sistem vulkanik Anak Krakatau," kata Kepala Divisi Vulkanologi PVMBG, Devy Kamil Syahban.
Tim vulkanologi juga mencatat adanya deformasi permukaan yang terdeteksi melalui GPS dan InSAR. Deformasi ini menunjukkan adanya tekanan dari magma yang masih bergerak ke atas meskipun dengan kecepatan yang lebih lambat dibandingkan periode sebelumnya.
Status Gunung Berapi Tetap Siaga
Berdasarkan pengamatan tersebut, PVMBG mempertahankan status Anak Krakatau pada Level II (Waspada) dengan radius bahaya 2 kilometer dari puncak atau area sekitar kawah. Warga dan wisatawan dilarang mendekati area tersebut.
"Kami masih memantau perkembangan aktivitas Anak Krakatau secara intensif. Meskipun karakter erupsi berubah, potensi bahaya masih ada," tambah Hanum.
Untuk memantau aktivitas gunung berapi tersebut, PVMBG telah menempatkan tim di Pos Pengamatan Anak Krakatau yang berlokasi di Pulau Rakata. Tim tersebut dilengkapi dengan alat pemantauan seismograf, deformasi, dan gas vulkanik.
Dampak terhadap Aktivitas Pariwisata
Perubahan status aktivitas Anak Krakatau berdampak pada rencana wisata di sekitar perairan Selat Sunda. Beberapa operator wisata bahari telah menyesuaikan rute agar tidak melintasi area bahaya yang ditetapkan PVMBG.
"Kami sudah meminta semua operator wisata untuk patuh pada aturan yang ditetapkan. Keselamatan wisatawan menjadi prioritas utama," ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Selatan.
Riwayah Erupsi Sebelumnya
Anak Krakatau dikenal sebagai gunung berapi aktif yang lahir dari letusan dahsyat pada tahun 1883. Letusan tersebut menghancurkan dua pertiga pulau dan mengakibatkan tsunami yang menewaskan lebih dari 36.000 orang.
Pada tahun 2018, Anak Krakatau kembali mengalami erupsi besar yang mengakibatkan tsunami dan menewaskan sekitar 400 orang. Sejak insiden tersebut, PVMBG meningkatkan sistem pemantauan di sekitak gunung berapi tersebut.
Tim vulkanologi akan terus memantau perkembangan aktivitas Anak Krakatau dan akan memberikan update jika terjadi perubahan signifikan. Warga diminta tetap waspada dan mengikuti anjuran dari pihak berwenang.
Komentar (0)