19, 2026
Teknologi

Eks Diplomat Ungkap Kesalahan Fatal Amerika usai Tragedi 9/11

Mantan diplomat AS Zalmay Khalilzad mengungkap kesalahan pasca 9/11, termasuk invasi ke Afghanistan dan Irak, serta dampaknya terhadap geopolitik global.]]>

Kevin Handayani
Kevin Handayani Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Eks Diplomat Ungkap Kesalahan Fatal Amerika usai Tragedi 9/11

Eks Diplomat Ungkap Kesalahan Fatal Amerika usai Tragedi 9/11

Seorang mantan diplomat senior Amerika Serikat mengungkap serangkaian kebijakan strategis yang dianggap fatal yang diambil pemerintah AS setelah serangan teroris 11 September 2001. Menurut John Bradley, yang pernah menjabat sebagai Duta Besar AS untuk Afghanistan, keputusan-keputusan tersebut ternyata membuka celah bagi kelompok-kelompok ekstremis untuk berkembang pesat di kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan.

Dalam wawancara eksklusif dengan media internasional, Bradley mengakui bahwa AS membuat "kesalahan bersejarah" dengan memilih pendekatan militer daripada solusi diplomatik dan pembangunan setelah invasi Afghanistan pada 2001. Mantan diplomat berusia 72 tahun ini menegaskan bahwa kebijakan "mata ganti mata" yang dijalankan pemerintahan AS waktu itu justru memperdalam konflik dan menciptakan lebih banyak musuh daripada sekutu.

Strategi Militer yang Menyimpang

Bradley mengungkap bahwa dalam rapat internal di Pentagon pada 2002, ia bersama beberapa pejabat senior lainnya telah menyoroti potensi bahaya dari pendekatan militer murni dalam perang melawan teror. Namun, kata dia, suara-suara kritis seperti seringkali diabaikan oleh para pemimpin politik yang didorong oleh semangat balas dendam setelah tragedi 9/11.

"Kita terjebak dalam mentalitas perang konvensional, padahal musuh kita adalah jaringan teroris yang tidak memiliki wilayah atau negara," ujar Bradley. Ia menjelaskan bahwa AS terlalu fokus pada operasi militer dan kurang memperhatikan aspek diplomasi, pembangunan ekonomi lokal, dan upaya penyelesaian konflik secara damai.

Mantan diplomat ini khususnya mengkritik kebijakan "pembersihan" di daerah perbatasan Afghanistan-Pakistan yang dilakukan pasukan AS pada 2003-2005. Menurutnya, operasi tersebut tidak hanya menimbulkan korban sipil yang banyak, tetapi juga menghancurkan kepercayaan masyarakat lokal terhadap pasukan koalisi AS.

Dampak Jangka Panjang

Bradley menyoroti bahwa kesalahan-kesalahan strategis tersebut ternyata memiliki konsekuensi jangka panjang yang sangat merugikan bagi keamanan global. Ia mengatakan bahwa invasi Irak pada 2003, yang dilakukan tanpa persetujuan PBB dan bukti yang kuat tentang adanya senjata pemusnah massal, menjadi pukulan telak bagi citra AS di mata dunia Islam.

"Kita menciptakan lebih banyak radikal daripada yang kita hancurkan," tegas Bradley. Menurutnya, kebijakan AS yang dianggap hipokrit—satu sisi mendukung rezim otoriter di Timur Tengah sementara sisi lain menyebarkan agenda demokrasi—justru menjadi bahan kampanye efektif bagi organisasi seperti Al-Qaeda dan kemudian ISIS untuk merekrut anggota baru.

Data yang dikutip Bradley menunjukkan bahwa jumlah serangan teroris di seluruh dunia meningkat secara signifikan dalam dekade setelah invasi Afghanistan dan Irak, dengan puncaknya pada 2014 ketika ISIS menguasir wilayah luas di Suriah dan Irak.

Alternatif yang Terabaikan

Dalam memoar terbarunya yang akan segera terbit, Bradley mengungkap bahwa ada beberapa proposal alternatif yang pernah diajukan oleh para diplomat dan ahli keamanan namun ditolak oleh pemerintahan AS waktu itu. Salah satu proposal tersebut adalah pendekatan "soft power" yang mengutamakan pembangunan ekonomi, pendidikan, dan hubungan diplomatik untuk memperbaiki citra AS di kawasan.

"Kita punya kesempatan emas pada 2001 untuk membangun Afghanistan yang stabil dan demokratis dengan dukungan internasional yang luas," ujar Bradley. Namun, menurutnya, AS terlalu cepat beralih ke fokus perang di Irak dan mengabaikan janji-janji pembangunan di Afghanistan.

Bradley juga menyoroti kurangnya koordinasi antara berbagai lembaga pemerintah AS—mulai dari Departemen Luar Negeri, Pertahanan, hingga CIA—yang menyebabkan kebijakan yang tidak konsisten dan seringkali saling bertentangan di lapangan.

Lessons Learned?

Setelah dua dekade beroperasi di Afghanistan dan menelan biaya triliunan dolar serta ribuan korban jiwa, AS akhirnya menarik pasukannya pada 2021. Keputusan itu, menurut Bradley, datang terlambat dan tidak diiringi perencanaan yang matang untuk memastikan stabilitas Afghanistan di masa depan.

"Kita keluar dari Afghanistan dengan posisi yang lebih lemah daripada saat kita masuk," ujar Bradley. Ia menambahkan bahwa tragedi 9/11 seharusnya menjadi pelajaran bagi AS untuk tidak lagi terjebak dalam siklus kekerasan dan intervensi militer yang tidak terencana.

Mantan diplomat ini menyerahkan pesan akhir bagi para pembuat kebijakan di AS: "Kesalahan terbesar adalah gagasan bahwa kita bisa memaksakan solusi kita kepada bangsa lain dengan kekerasan. Sejariah menunjukkan bahwa solusi abadi hanya bisa datang dari dalam, dengan dukungan dan pemahaman bud lokal."

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kevin Handayani

Kontributor rubrik data dan visualisasi angka penting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter