Ayah Masih Menanti Kehadiran Putranya yang Hilang Saat Liput Erupsi Anak Krakatau
Sejak erupsi Gunung Anak Krakatau pada 22 Desember 2018, dunia jurnalistik Indonesia kehilangan salah satu jurnalis muda berbakat, Muhammad Syafrudin. Dikenal akrab dengan sebutan Afra, jurnalis asal Bandung ini tiba-tiba lenyap bersama dengan kapal motor KM. Sinar Bahari 1 yang ditumpanginya saat melakukan peliputan di perairer Anak Krakatau. Hingga kini, keluarga terutama ayahnya, H. Hasanudin, masih terus menantikan kehadiran putranya yang sudah enam tahun lamanya tak kunjang kembali.
Kehilangan Afra menjadi pukulan berat bagi keluarga, terutama bagi sang ayah yang sejak itu tidak pernah berhenti mencari dan menantikan kabar putranya. "Saya masih ingat saat terakhir kali berbicara dengannya. Dia bilang akan perlu ke Anak Krakatau untuk meliput aktivitas gunung itu. Itu adalah percakapan terakhir kami," ujar Hasanudin dengan suara serak dan mata berkaca-kaca.
Perjalatan Terakhir Sebelum Hilang
Muhammad Syafrudin atau Afra adalah seorang jurnalis freelance yang bekerja untuk beberapa media di Indonesia. Pada 22 Desember 2018, ia bersama empat orang awak kapal KM. Sinar Bahari 1 menuju lokasi erupsi Gunung Anak Krakatau untuk meliput aktivitas gunung berapi yang sedang meningkat aktivitasnya. Kapal yang ditumpanginya tersebut tiba-tiba lenyap di tengah laut tanpa jejak.
Berdasarkan lapor terakhir, Afra sempat mengirim pesan singkat kepada rekan sejawatnya bahwa kapalnya sedang berada di dekat Anak Krakatau dan akan segera meliput erupsi yang terjadi. Namun, setelah itu, tidak ada kabar lagi dari dirinya dan para awak kapal lainnya. Erupsi yang terjadi pada malam haru itu ternyata sangat dahsyat dan mengakibatkan longsoran material ke dalam laut yang memicu tsunami besar.
Upaya Pencarian yang Tak Kunjung Berakhir
Setelah kejadian itu, tim SAR melakukan pencarian intensif untuk menemukan KM. Sinar Bahari 1 dan seluruh penumpangnya. Namun, hingga hari ini, belum ada jenazah atau barang pribadi yang ditemukan yang bisa dipastikan milik Afra. Pencarian dihentikan setelah beberapa minggu, namun keluarga tidak pernah menyerah.
"Kami tidak percaya bahwa Afra sudah tidak ada lagi. Saya masih yakin suatu hari dia akan pulang. Mungkin dia tersesat di suatu pulau kecil atau ditolong oleh nelayan yang tidak melapor ke pihak berwenang," ujar Hasanudin yang masih setia menunggu.
Keluarga Afra juga tidak segan-segan untuk terus meminta informasi kepada pihak berwenang dan masyarakat. Mereka pun aktif di media sosial untuk menyebarkan informasi tentang hilangnya Afra dalam harapan ada saksi yang bisa memberikan informasi penting.
Warisan Jurnalistik yang Ditinggalkan
Afra dikenal sebagai jurnalis yang gigih dan penuh semangat dalam meliput berbagai isu, terutama isu lingkungan dan bencana alam. Karyanya banyak dipublikasikan oleh beberapa media ternama di Indonesia. Meski hanya seorang freelance, Afra diakui memiliki potensi besar di dunia jurnalistik.
"Afra adalah putra saya yang paling bersemangat. Dia selalu ingin memberitakan apa yang terjadi di masyarakat, terutama soal isu-isu penting yang sering terabaikan. Saya bangil dengan putra saya itu," ujar Hasanudin dengan penuh bangga meski masih dalam duka.
Kehilangan Afra juga menjadi pelajaran bagi dunia jurnalistik Indonesia tentang pentingnya keselamatan saat meliput di lokasi berbahaya. Banyak jurnalis yang setelah kejadian ini mulai memperhatikan protokol keselamatan saat meliput di lokasi bencana atau daerah rawan.
Duka dan Tantangan Keluarga
Selain duka, keluarga Afra juga menghadapi berbagai tantangan, baik secara finansial maupun psikologis. Sebagai seorang freelance, Afra adalah tulang punggung keluarga. Kehilapannya membuat kondisi finansial keluarga menjadi sulit.
"Saya mencoba untuk kuat untuk keluarga. Tapi kadang-kadang di malam hari, saya masih ingat-ingat putra saya dan menangis. Dia anak yang baik dan penyayang," ujar sang ibu yang tidak mau disebutkan namanya.
Kondisi psikologis keluarga juga menjadi perhatian. Mereka sering kali mengalami mimpi buruk dan sulit untuk tidur. Terutama bagi Hasanudin, sang ayah, yang setiap hari masih mengharapkan putranya akan pulang kembali.
Harapan yang Masah Terjaga
Enam tahun sudah berlalu sejak Afra hilang, namun harapan keluarga untuk bertemu dengannya masih terjaga. Mereka terus berdoa dan berusaha untuk tidak menyerah. "Saya percaya Tuhan memiliki rencana yang baik untuk Afra. Saya hanya bisa menanti dan berdoa," ujar Hasanudin.
Kisah Muhammad Syafrudin atau Afra menjadi salah satu dari banyak kisah korban hilang dalam kecelakaan kapal atau bencana alam di Indonesia. Kehilangannya tidak hanya duka bagi keluarga, tetapi juga kehilangan bagi dunia jurnalistik Indonesia yang kehilangan salah satu jurnalis muda berbakat.
Di tengah duka dan harapan, keluarga Afra terus berjuang untuk menjaga ingatan tentang dirinya. Mereka percaya bahwa suatu hari nanti, Afra akan kembali pulang, meski jalan itu mungkin masih panjang dan penuh tantangan.
Komentar (0)