17, 2026
Nasional

BRIN Ungkap Fase Anak Krakatau, Masih Jauh dari Letusan Dahsyat Seperti 1883

Para peneliti mencoba menjawab pertanyaan, apakah Anak Krakatau dapat mengalami letusan dahsyat seperti peristiwa Krakatau 1883?]]>

Kirana Wijaya
Kirana Wijaya Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

BRIN Ungkap Fase Anak Krakatau, Masih Jauh dari Letusan Dahsyat Seperti 1883

BRIN Ungkap Fase Anak Krakatau, Masih Jauh dari Letusan Dahsyat Seperti 1883

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan penjelasan terkait status gunung berapi Anak Krakatau yang saat ini berada dalam fase aktif. Menurut para ahli dari BRIN, meskipun aktivitas vulkanik terus termonitor, kondisi saat ini jauh berbeda dengan kondisi menjelang letusan dahsyat tahun 1883 yang menewas ribuan orang.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi BRIN, Devy Syahmitra, menjelaskan bahwa Anak Krakatau saat ini berada dalam fase erupsi efusif. Artinya, gunung berapi ini melelehkan magma dengan viskositas rendah sehingga mengalir dengan relatif tenang tanpa ledakan dahsyat. "Kondisi ini berbeda dengan erupsi eksplosif seperti terjadi pada 1883 lalu," ujar Devy dalam konferensi pers virtual, Rabu (15/3).

Perbandingan Aktivitas Vulkanik

Menurut data BRIN, aktivitas Anak Krakatau saat ini tercatat dengan tingkat kegempaan vulkanis yang relatif stabil. Jumlah gempa vulkanis yang terdeteksi berkisar antara 50-100 per hari, dengan amplitudo rendah hingga sedang. Indeks Vulkanik Anak Krakatau (IVA) saat ini berada pada level II (Waspada), jauh berbeda dengan level yang tercatat menjelang letusan 1883.

"Pada 1883, Anak Krakatau meletus dengan sangat dahsyat dengan Indeks Vulkanik mencapai maksimum. Ledakan tersebut menghasilkan tsunami setinggi 40 meter dan menewaskan lebih dari 36.000 orang. Kondisi saat ini jauh berbeda," jelas Devy.

Monitoring Terus Dilakukan

BRIN bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus melakukan monitoring intensif terhadap Anak Krakatau. Pemantauan dilakukan melalui jaringan seismometer, GPS, kamera pengamat, serta pengukuran deformasi permukaan. Data-data ini digunakan untuk mengevaluasi perkembangan aktivitas gunung berapi.

"Kami memiliki sistem pemantauan 24 jam nonstop di Anak Krakatau. Setiap perubahan aktivitas akan segera kami analisis dan jika diperlukan akan kami tingkatkan status peringatan bencana," ujar Kepala Pusat Data dan Informasi Geospasial BRIN, Hery Harjono.

Potensi Bahaya dan Upaya Mitigasi

Meski jauh dari skala letusan 1883, BRIN tetap memperingatkan potensi bahaya yang ada. Anak Krakatau masih memiliki potensi untuk menghasilkan aliran lahar dan tsunami vulkanis akibat runtuhnya bagian kawah atau puncak gunung. Bahkan, letusan kecil seperti terjadi pada 2018 lalu sempat menghasilkan tsunami setinggi 3-5 meter.

"Potensi tsunami vulkanis tetap menjadi perhatian utama. Oleh karena itu, kami terus mengembangkan sistem peringatan dini tsunami yang lebih akurat dan cepat," tambah Hery.

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan telah membangun sistem peringatan dini tsunami di sekitar Selat Sunda. Sistem ini dilengkapi dengan sensor dasar laut dan jaringan komunikasi yang mampu mendeteksi pergerakan air secara real-time.

Peran Komunitas dalam Mitigasi Bencana

BRIN menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mitigasi bencana. Masyarakat di sekitar wilayah Anak Krakatau, terutama di Pulau Sumatera dan Pulau Jawa bagian barat, diimbau untuk selalu waspada terhadap potensi bahaya gunung berapi.

"Kami mendorong komunitas untuk memahami tanda-tanda awal bencana dan memiliki rencana evakuasi yang jelas. Pelatihan simulasi evakuasi rutin perlu dilakukan agar masyarakat siap menghadapi kondisi darurat," jelas Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebencanaan BRIN, Sutopo Purwo Nugroho.

Sebagai upaya peningkatan kapasitas, BRIN juga bekerja sama dengan pemerintah daerah dan lembaga terkait untuk mengadakan pelatihan mitigasi bencana bagi aparatur desa dan tokoh masyarakat. Program ini bertujuan agar informasi potensi bencana dapat disampaikan secara efektif kepada masyarakat.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil monitoring dan analisis, BRIN menyimpulkan bahwa Anak Krakatau saat ini berada dalam fase aktivitas yang terkontrol. Meski demikian, potensi bahaya tidak dapat diremehkan. Pemerintah, lembaga riset, dan masyarakat perlu tetap waspada dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

"Anak Krakatau adalah gunung berapi yang aktif dan berpotensi berbahaya. Kita tidak bisa memprediksi kapan letusan besar akan terjadi, tetapi dengan mempersiapkan diri dengan baik, kita dapat mengurangi risiko dan dampak bencana," tutup Devy Syahmitra.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Wijaya

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter