BRIN Uji Teknologi Berbasis Pati Singkong Bantu Padamkan Karhutla
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan teknologi inovatif berbasis pati singkong untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Teknologi ini menjanjikan solusi efektif dalam memadamkan api yang sering melanda Indonesia khususnya di musim kemarau.
Kepala Pusat Litbang Sumber Daya Lahan dan Pertanian BRIN, Rina Indiarti menjelaskan bahwa teknologi ini menggunakan pati singkong sebagai bahan utama dalam pembuatan ramur penekap api. Pati singkong yang diolah secara khusus mampu membentuk lapisan tipis namun kuat di atas permukaan tanah yang terbakar, sehingga menghambat oksigen dan mematikan api.
"Kami telah menguji teknologi ini di beberapa titik rawan karhutla di Kalimantan dan Sumatera. Hasilnya memuaskan karena teknologi ini mampu memadamkan api dengan lebih cepat dan efektif dibandingkan metode tradisional," ujar Rina dalam keterangannya, Kamis (15/6).
Mekanisme Kerja Teknologi
Teknologi berbasis pati singkong bekerja dengan dua mekanisme utama. Pertama, pati singkong yang telah diolah menjadi larutan kental disemprotkan di sekitar area yang terbakar. Larutan ini kemudian mengering dan membentuk lapisan tipis yang memisahkan api dari sumber oksigen.
Kedua, teknologi ini juga dapat digunakan sebagai pembentuk semprotan air yang lebih padat. Dengan menambahkan pati singkong ke dalam air, semprotan yang dihasilkan menjadi lebih berat dan mampu menjangkau area yang lebih luas serta bertahan lebih lama di permukaan tanah.
"Keunggulan utamanya adalah ramah lingkungan dan mudah diakses. Pati singkong merupakan bahan yang melimpah di Indonesia dan relatif murah, sehingga teknologi ini dapat diimplementasikan secara luas," tambah Rina.
Tingkat Efektivitas dan Keunggulan
Menurut data dari BRIN, teknologi ini telah menunjukkan tingkat efektivitas hingga 85% dalam memadamkan api di lahan terbuka. Teknologi ini juga mampu mengurangi waktu penanganan karhutla hingga 40% dibandingkan dengan metode pemadaman konvensional.
Salah satu keunggulan utama teknologi ini adalah kemampuannya untuk bekerja dalam kondisi angin kering yang sering menjadi tantangan utama dalam penanganan karhutla. Lapisan pati singkong yang terbentuk mampu menahan angin dan mencegah api menjalar.
"Selain itu, teknologi ini juga tidak meninggalkan residu berbahaya di lingkungan. Setapi padam, pati singkong akan terurai secara alami dan bahkan dapat bermanfaat sebagai pupuk organik untuk tanaman," jelas Rina.
Implementasi di Lapangan
BRIN telah bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk mengimplementasikan teknologi ini di beberapa provinsi yang rawan karhutla.
"Kami telah melatih tim relawan dan petugas pemadam kebakaran di Riau, Kalimantan Barat, dan Jambi untuk menggunakan teknologi ini. Responsnya sangat positif karena mudah digunakan dan hasilnya memuaskan," kata Rina.
Teknologi ini juga telah diuji dalam simulasi kebakaran hutan berskala besar di Pusat Pelatihan Pemadam Kebakaran Nasional. Hasil menunjukkan bahwa teknologi ini mampu mengendalikan api dalam waktu yang relatif singkat dan mencegah penyebaran karhutla.
Tantangan dan Masa Depan
Meskipun menjanjikan, Rina mengakui masih ada beberapa tantangan dalam pengembangan teknologi ini. Salah satunya adalah masalah ketersediaan pati singkong dalam jumlah besar saat diperlukan di lokasi kebakaran.
"Kami sedang bekerja sama dengan koperasi petani singkong untuk memastikan pasokan bahan baku tetap stabil. Selain itu, kami juga sedang mengembangkan varian teknologi yang dapat disimpan dalam jangka waktu lebih lama," jelasnya.
BRIN juga berencana untuk menggabungkan teknologi ini dengan sistem deteksi dini karhutla berbasis satelit dan drone. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi dan menangani karhutla sebelum semakin meluas.
"Kami optimis teknologi ini akan menjadi solusi efektif dalam penanganan karhutla di Indonesia. Dengan dukungan pemerintah dan keterlibatan masyarakat, kami percaya karhutla dapat ditekan secara signifikan," pungkas Rina.
Komentar (0)