17, 2026
Nasional

BPBD: Gunung Anak Krakatau Masih Fase Erupsi, Tingkatkan Kewaspadaan

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/09/06/6a9d8aa5772c6-tampilan-foto-udara-erupsi-gunung-anak-krakatau-selat-sunda_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Hesti Nasution
Hesti Nasution Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Gunung Anak Krakatau Masih Berada di Fase Erupsi, BPBD Minta Masyarakat Tetap Waspada

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih berada dalam fase erupsi. Gunung berapi yang lahir dari letusan Krakatau dahsyat pada tahun 1883 ini terus menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten, Ahmad Yani, mengatakan bahwa monitoring terhadap Gunung Anak Krakatau menunjukkan adanya erupsi frekuensi tinggi dengan kolom abu yang mencapai ketinggian bervariasi. "Pengamatan visual dan instrumental menunjukkan aktivitas erupsi terus berlangsung. Kolom abu sering kali teramati dengan tinggi mencapai 500-800 meter di atas puncak gunung," ujar Ahmad Yani dalam keterangannya, Kamis (5/9/2023).

Aktivitas Vulkanik yang Terus Meningkat

Gunung Anak Krakatau, yang terletak di perairan Selat Sunda antara Pulau Sumatra dan Pulau Jawa, menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak awal September 2023. Data dari Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat terjadi 19 kali gempa tektonik, 123 kali gempa vulkanik dangkal, 7 kali gempa vulkanik dalam, serta 2 kali guguran lava dalam rentang waktu 24 jam terakhir.

"Selain erupsi frekuensi tinggi, kita juga mencatat adanya tumbukan material vulkanik yang sering mencapai area laut di sekitar gunung. Hal ini berpotensi menimbulkan tsunami lokal jika volume material yang gugur cukup besar," tambah Ahmad Yani.

Status Siaga dan Evakuasi Potensial

Berdasarkan tingkat aktivitas yang terus meningkat, BPBD Provinsi Banten telah menetapkan status siaga untuk wilayah yang berada dalam radius 3 kilometer dari puncak Gunung Anak Krakatau. Area ini mencakup sebagian besar perairan Selat Sunda di sekitar gunung serta beberapa pulau kecil seperti Pulau Rakata, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang.

"Kami telah mengimbau para nelayan dan wisatawan untuk tidak mendekat ke zona bahaya 3 kilometer dari puncak gunung. Kapal-kapal pesiar dan perahu nelayan yang biasa melintas di sekitar area tersebut diminta untuk tetap menjaga jarak aman," jelas Ahmad Yani.

Pihak BPBD juga telah mengaktifkan posko pengamatan di beberapa titik strategis di sekitar perairan Selat Sunda, termasuk di Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang. Posko ini berfungsi untuk memantau aktivitas gunung dan memberikan informasi kepada masyarakat secara real-time.

Langkah Pencegahan dan Persiapan Darurat

Sebagai antisipasi bencana, BPBD Provinsi Banten telah menggelar rapat koordinasi bersama instansi terkait seperti BPBD kabupaten/kota terkait, TNI/Polri, SAR, BMKG, dan PVMBG. Dalam rapat tersebut, dibahas berbagai skenario evakuasi jika terjadi erupsi lebih dahsyat.

"Kami telah mempersiapkan beberapa titik evakuasi darurat di wilayah Pandeglang dan Serang. Titik-titik ini dipilih berdasarkan jarak dan kemudahan dijangkau jika terjadi evakuasi massal. Selain itu, kami juga telah menyiapkan masker untuk masyarakat di sekitar zona bahaya mengantisipasi dampak abu vulkanik," terang Ahmad Yani.

BMKG juga telah memperingatkan adanya potensi hujan abu vulkanik di wilayah sekitar Gunung Anak Krakatau, khususnya di wilayah pesisir Banten dan Lampung. Masyarakat diminta untuk selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan jika terdeteksi hujan abu.

Peran Masyarakat dalam Waspada Bencana

BPBD menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mengantisipasi bencana gunung meletus. Masyarakat diimbau untuk selalu memantau informasi resmi dari pemerintah melalui media sosial resmi BPBD atau aplikasi siaga bencana.

"Selain itu, masyarakat juga diharapkan untuk tidak menyebar informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya atau hoaks terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau. Informasi yang salah akan mengganggu upaya penanganan bencana yang sedang berlangsung," tambah Ahmad Yani.

Gunung Anak Krakatau, yang merupakan bagian dari Cagar Biosfer Selat Sunda, telah beberapa kali menunjukkan aktivitas erupsi signifikan dalam sejarah modern. Erupsi terbesar terjadi pada tahun 2018 yang mengakibatkan tsunami dan menewaskan ratusan orang di sekitar pesisir Banten dan Lampung. BPBD berharap dengan kewaspadaan yang tinggi, potensi korban dapat diminimalisir jika terjadi erupsi kembali.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hesti Nasution

Analis pasar modal dengan pengalaman lebih dari satu dekade di industri.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter