29, 2026
Internasional

Banjir Nepal dan Ancaman Perubahan Iklim di Himalaya

Banjir bandang dahsyat yang menerjang wilayah perbatasan Nepal-Tibet mengungkap ancaman lain dari pemanasan global, pegunungan tinggi yang semakin tidak stabil.]]>

Budi Gunawan
Budi Gunawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Banjir Nepal dan Ancaman Perubahan Iklim di Himalaya

Banjir dan tanah longsor yang melanda berbagai wilayah Nepal pada musim hujan terbaru kembali menempatkan negara di kawasan Himalaya itu pada daftar negara paling rawan bencana di dunia. Curah hujan ekstrem dalam beberapa hari terakhir menyebabkan sungai-sungai meluap, permukiman terendam, dan puluhan ribu warga terpaksa mengungsi. Lembah Kathmandu, yang menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi, ikut terdampak ketika drainase perkotaan kewalahan menampung volume air hujan.

Musim Hujan yang Kian Tidak Terduga

Nepal menghadapi musim hujan setiap tahun antara Juni dan September. Namun, dalam dua dekade terakhir, pola hujan menjadi semakin tidak terduga. Hujan dengan intensitas sangat tinggi dalam rentang waktu singkat kini lebih sering terjadi, memicu banjir bandang di lembah-lembah sempit dan tanah longsor di lereng yang gundul. Sungai-sungai besar seperti Koshi, yang mengalir dari pegunungan menuju dataran India, kerap meluap dan merendam permukiman di sepanjang bantaran sungai.

Bencana di wilayah perbukitan umumnya lebih sulit ditangani. Jalan dan jembatan yang terputus membuat daerah terpencil terisolasi selama berhari-hari. Tim penyelamat harus berjalan kaki atau menggunakan helikopter untuk menjangkau korban. Sektor pertanian, yang menjadi mata pencaharian mayoritas penduduk, juga mengalami kerugian besar ketika sawah dan lahan pertanian terendam banjir atau tertimbun material longsor.

Danau Glasial: Ancaman Tersembunyi di Ketinggian

Selain banjir sungai, Nepal menghadapi ancaman yang lebih jarang terdengar namun berpotensi lebih dahsyat, yaitu banjir bandang dari danau glasial atau yang dikenal dengan istilah glacial lake outburst flood (GLOF). Pemanasan global mempercepat pencairan gletser di Himalaya, dan air lelehan tersebut tertampung di cekungan-cekungan yang dibendung oleh endapan morain.

Bendungan morain ini bersifat rapuh dan sewaktu-waktu dapat jebol, misalnya akibat gempa bumi, longsor yang jatuh ke danau, atau tekanan air yang terus meningkat. Jika jebol, jutaan meter kubik air mengalir deras ke lembah di bawahnya dan menghancurkan apa pun yang dilalui. Para ilmuwan mencatat ratusan danau glasial di kawasan Himalaya berada dalam kondisi berisiko, dan Nepal termasuk negara dengan jumlah danau berisiko terbanyak.

Untuk menghadapi ancaman ini, pemerintah Nepal bersama lembaga internasional telah membangun sistem peringatan dini di sejumlah lembah berisiko tinggi. Langkah lain yang dilakukan adalah menurunkan permukaan air danau secara bertahap melalui saluran buatan, serta memantau kondisi danau menggunakan citra satelit secara berkala.

Es Himalaya Mencair Lebih Cepat

Kawasan Hindu Kush Himalaya, yang dijuluki Menara Air Asia karena menjadi sumber air bagi sungai-sungai besar seperti Gangga, Brahmaputra, dan Indus, mengalami pencairan gletser pada tingkat yang mengkhawatirkan. Berbagai kajian ilmiah menunjukkan bahwa laju pencairan es di kawasan ini meningkat dalam beberapa dekade terakhir dan diproyeksikan terus berlanjut seiring naiknya suhu global.

Pencairan gletser memiliki dua konsekuensi yang berlawanan dalam jangka pendek dan panjang. Dalam jangka pendek, volume air lelehan meningkat, memperbesar risiko banjir dan GLOF. Dalam jangka panjang, ketika sebagian besar gletser telah menyusut, pasokan air bagi jutaan penduduk di dataran rendah akan berkurang. Aliran sungai yang bergantung pada lelehan gletser akan melemah pada musim kemarau, mengancam irigasi, pembangkit listrik tenaga air, dan pasokan air minum.

Beban Ganda Masyarakat Himalaya

Masyarakat yang tinggal di pegunungan menanggung beban ganda. Di satu sisi, mereka menghadapi bencana yang semakin sering dan intens akibat perubahan iklim. Di sisi lain, kontribusi mereka terhadap emisi gas rumah kaca sangat kecil. Nepal termasuk negara dengan emisi karbon per kapita yang rendah, namun berada di garis depan dampak perubahan iklim. Ketimpangan semacam ini menjadi sorotan dalam forum-forum iklim internasional.

Respons Pemerintah dan Bantuan Internasional

Pemerintah Nepal menanggapi bencana dengan mengerahkan aparat keamanan, relawan, dan personel medis ke daerah terdampak. Operasi evakuasi difokuskan pada kelompok rentan, termasuk lansia, anak-anak, dan warga yang rumahnya rusak. Pemerintah juga menyiapkan dana tanggap darurat serta bantuan logistik berupa makanan, air bersih, dan obat-obatan.

Sejumlah negara sahabat dan organisasi kemanusiaan internasional memberikan bantuan dalam bentuk dana, peralatan penyelamatan, dan tenaga ahli. Koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga kemanusiaan menjadi kunci agar bantuan dapat menjangkau korban secara cepat dan tepat sasaran.

Adaptasi dan Aksi Iklim Global

Para ahli menilai upaya adaptasi saja tidak cukup selama emisi gas rumah kaca global tidak ditekan secara signifikan. Setiap kenaikan suhu rata-rata global berarti tambahan risiko bagi komunitas pegunungan dan dataran rendah yang bergantung pada air dari Himalaya. Perundingan iklim multilateral karena itu menuntut komitmen negara-negara penghasil emisi terbesar untuk mempercepat transisi energi dan memenuhi pendanaan iklim bagi negara berkembang.

Bagi Nepal, prioritas jangka panjang meliputi perkuatan sistem peringatan dini, pembangunan infrastruktur yang tahan bencana, pengelolaan daerah aliran sungai, dan pengurangan risiko di permukiman. Namun, semua upaya tersebut membutuhkan pendanaan yang besar dan dukungan teknologi, sesuatu yang sulit dipenuhi oleh negara berkembang tanpa bantuan internasional yang memadai.

Banjir di Nepal bukan sekadar bencana musiman. Ia adalah cermin dari krisis iklim global yang dampaknya paling terasa di wilayah-wilayah yang paling sedikit menyumbang emisi. Masa depan Himalaya, dan jutaan orang yang hidup dari airnya, sangat bergantung pada tindakan nyata masyarakat dunia dalam menekan pemanasan global.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Budi Gunawan

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam
IKLAN SIDEBAR — SLOT AKTIF ✅
300x250 / responsif

Newsletter