29, 2026
Teknologi

Badai Geomagnetik Mengintai, Aurora Bisa Muncul Saat Gerhana Bulan 27-28 Agustus

Pengamat langit di Amerika Utara berpeluang mendapatkan pemandangan langka pada malam 27-28 Agustus 2026.]]>

Nadia Santoso
Nadia Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Badai Geomagnetik Mengintai, Aurora Bisa Muncul Saat Gerhana Bulan 27-28 Agustus

Badai Geomagnetik Mengintai, Aurora Bisa Muncul Saat Gerhana Bulan 27-28 Agustus

Astronomi Indonesia memperkirakan fenomena langka akan terjadi pada akhir Agustus 2023. Gerhana bulan total yang akan berlangsung pada 27-28 Agustus disertai potensi munculnya aurora borealis atau cahaya utara di beberapa wilayah Indonesia. Fenomena ini terkait dengan aktivitas matahari yang meningkat dan potensi badai geomagnetik yang mengintai.

Badai geomagnetik merupakan gangguan di medan magnet bumi yang disebabkan oleh aktivitas matahari. Menurut Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sains dan Teknologi Astronomi, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Dr. Andi Pangeran, aktivitas matahari saat ini telah memasuki fase maksimum siklusnya.

Gerhana Bulan Total

Gerhana bulan total yang akan terjadi pada 27-28 Agustus 2023 akan tampak di seluruh wilayah Indonesia. Fenomena ini akan berlangsung selama sekitar 1 jam 45 menit, dengan fase maksimum terjadi sekitar pukul 21:15 WIB. Gerhana bulan terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan bulan, sehingga bayangan bumi menutupi bulan.

"Gerhana bulan total ini menjadi yang terbaik dalam beberapa tahun terakhir karena durasinya yang cukup lama dan kualitasnya yang baik," jelas Andi Pangeran dalam konferensi pers yang diadakan di Jakarta, Senin (21/8/2023).

Masyarakat disarankan untuk mengamati fenomena ini tanpa perlindungan khusus. "Berbeda dengan gerhana matahari, amati gerhana bulan ini dengan mata telanjang saja. Bahkan lebih baik jika menggunakan binokular atau teleskop untuk melihat detail permukaan bulan yang berubah warna menjadi merah gelap," tambahnya.

Potensi Aurora Borealis di Indonesia

Fenomena yang lebih menarik adalah potensi munculnya aurora borealis atau cahaya utara di beberapa wilayah Indonesia. Biasanya, aurora borealis hanya terlihat di daerah kutub utara, namun kondisi spesial saat ini memungkinkan fenomena ini bisa terlihat di Indonesia.

"Aktivitas matahari saat ini sangat tinggi, menghasilkan partikel bermuatan listrik yang dikenal sebagai angin surya. Ketika partikel ini menabrak medan magnet bumi, mereka dapat menghasilkan aurora," jelas Kepala Divisi Astrofisika LAPAN, Dr. Rini Nur Hasanah.

Menurut Rini, potensi munculnya aurora di Indonesia terkait dengan badai geomagnetik yang diprediksi akan terjadi sekitar tanggal 27-28 Agustus. "Badai geomagnetik ini diperkirakan akan memiliki dampak signifikan pada medan magnet bumi, sehingga memungkinkan aurora bisa terlihat di lintang rendah seperti Indonesia," ujarnya.

Wilayah Indonesia yang berpotensi melihat aurora adalah wilayah yang berada di lintang utara seperti Sumatera Utara, Kalimantan Utara, dan beberapa bagian Sulawesi. "Pemantauan harus dilakukan di area yang minim cahaya dan dengan langit yang cerah," tambah Rini.

Dampak Badai Geomagnetik

Beserta potensi munculnya aurora, badai geomagnetik juga memiliki dampak lain yang perlu diwaspadai. Badai ini dapat mengganggu sistem komunikasi, navigasi, dan listrik di bumi.

"Operator komunikasi dan penerbangan perlu waspada karena badai geomagnetik dapat mengganggu sinyal GPS dan komunikasi radio," jelas Andi Pangeran. "Namun, dampaknya tidak berbahaya bagi kesehatan manusia."

LAPAN telah bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau aktivitas matahari dan mempersiapkan respons jika diperlukan. "Kita akan terus memantau perkembangan aktivitas matahari dan memberikan update kepada publik jika ada perubahan prediksi," kata Andi.

Bagi masyarakat yang tertarik menyaksikan kedua fenomena langka ini, LAPAN mengimbau untuk mempersiapkan diri sejak dini. "Cek kondisi cuaca di daerah Anda dan pilih lokasi yang terbuka dengan minim cahaya polusi untuk pengamatan terbaik," ujar Rini.

Fenomena gerhana bulan dan potensi aurora borealis menjadi kesempatan langka bagi masyarakat Indonesia untuk menyaksikan keajaiban alam semesta. "Ini adalah kesempatan emas bagi kita untuk lebih mengenal dan menghargai keindahan alam semesta," tutup Andi Pangeran.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Santoso

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam
IKLAN SIDEBAR — SLOT AKTIF ✅
300x250 / responsif

Newsletter