18, 2026
Ekonomi

Asing Net Sell Rp1,31 T di Sesi 1

Investor asing mencatatkan net foreign sell Rp1,31 triliun di BEI pada sesi 1, dengan tekanan jual terbesar pada saham perbankan.]]>

Budi Santoso
Budi Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Asing Net Sell Rp1,31 T di Sesi 1

Asing Net Sell Rp1,31 Triliun di Sesi Pertama, Pasar Saham Jatuh

Pasar modal Indonesia mengalami tekanan pada sesi perdagangan pertama pekan ini, dengan indeks utama mengalami penurunan seiring arus keluar modal asing yang signifikan. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp1,31 triliun pada sesi pertama perdagangan hari ini, memberikan tekanan negatif pada pergerakan saham-saham unggulan.

Indeks Berakhir di Zona Merah

Di tengah aksi jual yang dilakukan investor asing, indeks Harga Indeks Saham Gabungan (IHSG) ditutuk turun 0,92% atau 68,83 poin ke level 7.397,31 pada penutupan perdagangan sesi pertama. Penurunan ini terjadi di tengah volume perdagangan yang mencapai 15,7 miliar lembar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp10,2 triliun. Sektor pertambangan dan infrastruktur menjadi sektor yang paling terdampak tekanan penurunan dalam sesi ini.

Aksi Jual Asing Terjadi di Beberapa Saham Unngulan

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa aksi jual asing terjadi di sejumlah saham unggulan. Saham PT Astra International Tbk (ASII) menjadi salah satu saham yang paling banyak dijual oleh investor asing dengan nilai mencapai Rp321 miliar. Diikuti oleh saham PT Bank Central Asia Tbk (BBRI) yang mengalami aksi jual asing sebesar Rp298 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang mencatatkan aksi jual Rp275 miliar.

Selain saham-saham perbankan, saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) juga mengalami tekanan jual dari investor asing dengan nilai mencapai Rp265 miliar. Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) juga termasuk dalam daftar saham yang mengalami aksi jual asing dalam sesi pertama hari ini.

Pasar Global Memberikan Dampak Psikologis

Analis percaya bahwa aksi jual asing yang terjadi di pasar saham Indonesia dipengaruhi oleh kondisi pasar global yang masih volatile. Pasar saham Amerika Serikat mengalami tekanan akibat data inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi, sementara pasar Eropa juga menghadapi tantangan akibri ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina.

"Kondisi pasar global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen investor asing. Data inflasi AS yang lebih tinggi dari ekspektasi membuat khawatir bahwa The Federal Reserve akan terus menaikkan suku bunga, yang berdampak negatif pada aset berisiko seperti saham," ujar sepekan analis dari sebuah sekuritas.

Rupiah Terus Melemah

Teateran pasar juga terlihat dari nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus melemah. Pada sesi pertama hari ini, rupiah ditransaksikan di level Rp15.450 per dolar AS, melemah dari posisi penutupan sebelumnya di Rp15.380 per dolar AS. Penguatan dolar AS secara global menjadi salah satu faktor yang mendorong pelemahan rupiah.

Reaksi Pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan

Menghadapi kondisi pasar yang volatile, pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan kesiapannya untuk memantau perkembangan pasar. "Kami terus memantau perkembangan pasar secara ketat dan siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas pasar," ujar Kepala OJK Mahendra Siregar dalam sebuah keterbukaan.

Pemerintah juga menegaskan bahwa kondisi fundamental perekonomian Indonesia tetap kuat. "Meskipun pasar mengalami volatilitas, fundamental perekonomian Indonesia tetap kuat dengan pertumbuhan ekonomi yang positif dan inflasi yang terkendali," tambah Mahendra.

Perkiraan Pergerakan Pasar di Hari Selanjutnya

Analis memperkirakan bahwa pasar saham akan terus mengalami volatilitas di hari-hari mendatang seiring menunggu data ekonomi domestik dan global yang akan dirilis. Beberapa data yang akan menjadi perhatian investor meliputi data inflasi bulanan, data ekspor-impor, serta keputusan suku bunga The Federal Reserve.

"Investor akan fokus pada data inflasi bulanan yang akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada akhir pekan ini. Jika data inflasi menunjukkan penurunan, ini dapat menjadi pemicu positif bagi pasar," ujar seorang analis dari perusahaan sekuritas lainnya.

Di tengah ketidakpastian pasar, investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan mempertimbangkan kembali strategi investasi mereka. "Dalam kondisi pasar yang volatile, penting bagi investor untuk tidak terbawa emosi dan tetap berpegang pada rencana investasi jangka panjang," tambah analis.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Budi Santoso

Penulis kesehatan pria dan pencegahan penyakit degeneratif.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter