17, 2026
Nasional

Asap Karhutla Picu Kenaikan Kasus ISPA di Riau

Kebakaran hutan dan lahan di wilayah Riau terus meluas. Bahkan, kasus ISPA di Riau mengalami lonjakan hingga tembus 11 ribu lebih.]]>

Rizal Fahmi
Rizal Fahmi Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Asap Karhutla Picu Kenaikan Kasus ISPA di Riau

Asap Karhutla Picu Kenaikan Kasus ISPA di Riau

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Provinsi Riau dalam beberapa pekan terakhir berdampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat peningkatan drastis kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) seiring dengan menebarnya asap pekat yang menyelimuti sejumlah wilayah di provinsi ini.

Direktur Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Riau, dr. H. Syahrizal, mengungkapkan bahwa data dari puskesmas dan rumah sakit di seluruh Riau menunjukkan lonjakan pasien dengan gejala ISPA. "Kami melihat peningkatan sekitar 30-40 persen dibandingkan dengan periode normal. Pasien yang datang dengan keluhan batuk, pilek, dan sesak napas meningkat drastis," ujar Syahrizal dalam keterangannya, Kamis (15/9).

Dampak Kesehatan Langsung

Asap karhutla yang mengandung partikel-partikel halus seperti PM10 (partikel berdiameter kurang dari 10 mikrometer) menjadi pemicu utama kenaikan kasus ISPA. Partikel-partikel ini dapat menembus sistem pernapasan manusia dan menyebabkan iritasi hingga infeksi.

Rumah Sakit Umum Pekanbaru (RSUP) dr. M. Djamil, salah satu rumah sakit rujukan di provinsi ini, melaporkan bahwa kapasitas ruang perawatan untuk pasien ISPA sudah mencapai 80 persen. "Kami sudah menambah tempat tidur darurat untuk menampung pasien yang terus mengalir. Mayoritas pasien adalah anak-anak dan lansia yang lebih rentan terhadap dampak asap," jelas Kepala RSUP dr. M. Djamil, dr. H. Zulfikar.

Sebagian besar pasien ISPA yang dirawat di fasilitas kesehatan ini menunjukkan gejala batuk kering, sesak napas, dan demam ringan. Meskipun kebanyakan kasus bersifat ringan, beberapa pasien dengan riwayat penyakit paru-paru seperti asma atau bronkhitis kronis membutuhkan perawatan intensif.

Wilayah Terparah

Distribusi asap tidak merata di seluruh provinsi, sehingga beberapa wilayah mengalami dampak yang lebih parah. Kabupaten Kampar, Pelalawan, dan Dumai menjadi daerah dengan indeks kualitas udara (AQI) terburuk, dengan konsentrasi partikel PM10 yang jauh di atas ambang batas aman.

"Di daerah seperti Dumai dan sekitarnya, visibilitas seringkali menurun drastis hingga di bawah 100 meter. Hal ini tentu saja berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat di sana," kata Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru, H. Fachrul Razi.

Pemerintah daerah telah mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama bagi kelompok rentan. Selain itu, pemerintah juga telah membagikan masker medis secara gratis di sejumlah titik untuk membantu masyarakat melindungi diri dari asap.

Respons Pemerintah

Gubernur Riau, H. Syamsuar, mengaku prihatin dengan situasi ini. Pemerintah provinsi telah mengaktifkan posko pengendalian karhutla dan penanggulangan dampak kesehatan. "Kami bekerja sama dengan TNI/Polri, BPBD, dan instansi terkait untuk melakukan upaya pemadaman dan penyiraman di titik-titik api. Selain itu, kami juga meminta dukungan dari pemerintah pusat untuk alat pemadam api modern," jelas Syamsuar.

Dinas Kesehatan Provinsi Riau juga telah mengimbau masyarakat untuk mengonsumsi makanan bergizi dan minum air putih yang cukup untuk memperkuat daya tahan tubuh. Selain itu, masyarakat juga disarankan untuk membersihkan rumah secara rutin dan menggunakan alat penyejuk udara (AC) atau humidifier untuk mengurangi efek asap di dalam ruangan.

Tantangan Jangka Panjang

Para ahli kesehatan mengingatkan bahwa dampak asap karhutla tidak hanya terasa di jangka pendek. Paparan jangka panjang terhadap partikel halus dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan kanker paru-paru di kemudian hari.

"Kami khawatir jika pola kebakaran hutan dan lahan ini terus berulang setiap tahunnya, akan ada lonjakan kasus penyakit kronis di Riau di masa depan," kata sepakgung epidemiologi dari Universitas Riau, Prof. Dr. H. Marzuki.

Untuk mengatasi masalah ini secara menyeluruh, diperlukan upaya preventif yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat. Penanganan lahan kering, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan, serta peningkatan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan menjadi solusi jangka panjang untuk menghentikan siklus kebakaran hutan dan lahan di Riau.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizal Fahmi

Menulis review produk kesehatan, suplemen, dan teknologi wearables.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter