Anak Krakatau Erupsi, Penyeberangan Bakauheni-Merak Tetap Beroperasi Normal
Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Kamis (15/2) sekitar pukul 14.30 WIB. Erupsi ini berlangsung selama sekitar dua menit dengan tinggi kolom abu mencapai 800 meter di atas puncak gunung. Meskipun terjadi erupsi, operasi penyeberangan feri di Pelabuhan Bakauheni dan Merak tetap berjalan normal tanpa ada gangguan yang signifikan.
Kepala Pelabuhan Bakauheni, Ahmad Yani, mengatakan bahwa pihaknya secara intensif memantau kondisi Gunung Anak Krakatau sejak erupsi terjadi. "Kami sudah mengaktifkan posko monitoring di pelabuhan untuk memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau. Saat ini kondisi penyeberangan tetap normal. Jadwal keberangkatan dan kedatangan kapal feri tidak terganggu," ujar Ahmad Yani pada wartawan, Kamis malam.
Menurut Ahmad Yani, pihaknya telah berkoordinasi dengan BMKG dan PVMBG untuk selalu mendapatkan update terkait aktivitas vulkanis Anak Krakatau. "Kami selalu siap-siap mengantisipasi jika ada perubahan kondisi. Sampai saat ini, asap abu dari erupsi belum sampai ke area pelabuhan sehingga tidak berpengaruh terhadap operasi penyeberangan," jelasnya.
Kondisi Penyeberangan Tetap Lancar
Data yang dihimpun dari PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mencatat bahwa hingga pukul 20.00 WIB, ada 18 unit kapal yang telah menyeberang dari Bakauheni menuju Merak dan sebaliknya. "Total penumpang yang telah menyeberang mencapai 4.532 orang dengan 1.095 unit kendaraan roda dua dan 398 unit kendaraan roda empat," ujar Juru Bicara PT ASDP Bakauheni, Muhammad Iqbal.
Iqbal menambahkan bahwa pihaknya telah menyiapkan beberapa langkah antisipasi jika ternyata aktivitas Anak Krakatau meningkat. "Kami sudah menyiapkan dua unit kapal tambahan jika diperlukan untuk menangani kemungkinan penumpang yang membutuhkan evakuasi. Selain itu, kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak pelabuhan Merak untuk memastikan komunikasi tetap lancar," paparnya.
Warga di Sekitar Pulau Anak Krakatau Diminta Tetap Waspada
Meskipun penyeberangan tidak terganggu, warga yang tinggal di sekitar Pulau Anak Krakatau diminta tetap waspada. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi (PDIK) BNPB, Abdul Muhari, mengatakan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan aktivitas gunung berapi tersebut.
Abdul Muhari menjelaskan bahwa pihaknya telah mengimbau warga untuk tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari puncak gunung. "Kami juga masyarakat untuk selalu memakai masker jika merasa ada asap abu yang mengganggu kesehatan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit paru-paru," tambahnya.
Tidak Ada Perubahan Status Gunung Anak Krakatau
Berdasarkan rilis dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Gempa (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level II (Waspada).
Hendra menjelaskan bahwa erupsi yang terjadi sebelumnya mengeluarkan material vulkanis berupa debu dan pasir vulkanis. "Arah angin saat ini ke barat laut sehingga material abu belum sampai ke darat. Kami masyarakat untuk tetap tenang namun tidak lengah," ujarnya.
Operasi Penyelamatan Tetap Siaga
Basarnas juga telah menyiapkan tim siaga di sekitar wilayah terdampak potensi erupsi Anak Krakatau. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Basarnas, Jamarol, mengatakan bahwa tim rescue siaga siap diterjunkan jika diperlukan.
Ia menambahkan bahwa masyarakat diminta untuk tidak beraktivitas di sekitar pantai jika melihat adanya aktivitas gunung yang meningkat. "Jika ada tanda-tanda awal seperti gempa vulkanis yang frekuensinya meningkat atau perubahan warna air laut, segera laporkan kepada pihak berwenang dan hindari aktivitas di pantara," pesannya.
Dengan kondisi penyeberangan yang tetap normal, masyarakat yang hendak bepergian antara Pulau Sumatera dan Pulau Jawa tidak perlu khawatir. Namun, tetap waspada terhadap perkembangan informasi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau yang selalu diupdate oleh pihak berwenang.
Komentar (0)