Anak Krakatau Terus Erupsi, Warga Diminta Jauhi Radius 3 Kilometer
Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Rabu (15/11) malam dengan aktivitas vulkanik yang terus meningkat. Badan Geologi dan Mineral Nasional (BGMN) mencatat erupsi berlangsung selama delapan menit 45 detik dengan amplitudo maksimum 22 milimeter. Aktivitas ini menunjukkan kelanjutan dari status waspada yang dikeluarkan pihak berwenang sejak beberapa pekan terakhir.
Erupsi terjadi pada pukul 21.15 WIB dengan kolom abu setinggi 500-800 meter di atas puncak gunung. Abu vulkanik tersebut terbawa ke arah barat daya hingga ke perairan Selat Sunda. Warga di sekitar wilayah Banten dan Lampung melaporkan adanya hujan abu ringan di beberapa wilayah terdekat.
Status Waspada Ditetapkan Kembali
Berdasarkan hasil pemantauan, status Anak Krakatau kembali ditingkatkan menjadi Level II (Waspada) sejak 1 November 2023 lalu. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Gempa Bumi (PVMBG) Hendra Gunawan menjelaskan bahwa peningkatan status ini didasarkan pada peningkatan aktivitas seismik, deformasi permukaan, serta tingkat gas sulfur dioksida (SO2) yang terus meningkat.
"Kami telah memantau aktivitas Anak Krakatau secara intensif dalam beberapa pekan terakhir. Data menunjukkan adanya peningkatan frekuensi gempa vulkanik dan getaran halus yang signifikan," ujar Hendra dalam konferensi pers virtual, Kamis (16/11).
Area Terlarang Diperluas
Sehubungan dengan aktivitas erupsi yang terus berlanjut, PVMBG memperluas area larangan mendekati Anak Krakatau menjadi radius 3 kilometer dari puncak gunung. Area ini sebelumnya hanya dilarang untuk pendekatan sejauh 2 kilometer. Pihak berwenang khawatir adanya potensi bahaya akibat material vulkanik yang dapat meledak kapan saja.
"Material vulkanik seperti lava dan batu apung dapat meluncur dengan cepat tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Oleh karena itu, kami mengimbau warga dan para pelaut untuk tidak mendekati area berbahaya ini," tambah Hendra.
Dampak pada Aktivitas Pelayaran
Erupsi Anak Krakatau juga memberikan dampak pada aktivitas pelayaran di Selat Sunda. Direktur Lalu Lintas Pelayaran Kementerian Perhubungan Agus H Purnomo mengatakan pihaknya telah menerbitkan navigasi maritim untuk para pelaut agar menghindari area sekitar gunung berapi.
PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II sebagai pengelola Pelabuhan Merak dan Labuhan juga telah menyiapkan langkah antisipasi jika terjadi peningkatan aktivitas yang dapat mengganggu kegiatan operasional pelabuhan.
Pantauan Terus Dilakukan
PVMBG bersama tim dari BMKG terus melakukan pemantauan 24 jam terhadap aktivitas Anak Krakatau. Selain pemantauan seismik, tim juga melakukan pengukuran deformasi permukaan, analisis gas vulkanik, serta pengamatan visual kondisi gunung.
"Kami telah menempatkan alat pemantau seperti seismometer, GPS, dan sensor SO2 di sekitar Anak Krakatau. Data ini akan kami analisis secara berkala untuk mengetahui pola aktivitas gunung," jelas Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Gempa Bumi (PVMBG) Hendra Gunawan.
Kesiapan Tanggap Darurat
Pemerintah setempat bersama instansi terkait telah mempersiapkan langkah-langkah tanggap darurat jika terjadi erupsi lebih besar. Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dan Kabupaten Pandeglang telah menyiapkan posko darurat serta tempat pengungsian sementara.
Warga di sekitar wilayah terdampak diminta untuk tetap tenang dan mengikuti instruksi dari pihak berwenang. Informasi terkait aktivitas Anak Krakatau dapat diakses melalui aplikasi "Siaga Gunung Api" yang telah diluncurkan PVMBG.
Komentar (0)