30, 2026
Nasional

AliExpress Ketahuan Lacak Pengguna Lewat Suara

Anisa Permata
Anisa Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

AliExpress Ditemukan Lacak Pengguna Melalui Suara

Platform e-commerce global AliExpress menjadi sorotan setelah peneliti keamanan menemukan bahwa aplikasi mobile mereka mengumpulkan data suara pengguna tanpa persetujuan eksplisit. Penemuan ini menimbulkan kekhawatiran serius mengenai privasi data konsumen di era digital.

Tim peneliti dari perusahaan keamanan siber asal Israel, Kaspersky, mengungkap bahwa aplikasi AliExpress untuk perangkat Android mengandalkan teknologi pengenalan suara (voice recognition) secara diam-diam. Fitur ini aktif bahkan ketika pengguna tidak sedang berinteraksi dengan aplikasi, sehingga secara potensial merekam percakapan pribadi pengguna secara tidak disadari.

Mekanisme Pelacakan Suara yang Tersembunyi

Berdasarkan laporan penelitian, aplikasi AliExpress menggunakan layanan Google untuk pengenalan suara yang berfungsi secara latar belakang. Fitur ini dirancang untuk mendeteksi perintah suara yang mungkin diucapkan pengguna, namun dalam praktiknya, sistem ini terus mendengarkan dan mengumpulkan data audio.

Tim Kaspersky menemukan bahwa aplikasi mengumpulkan data audio tanpa memberikan informasi yang jelas kepada pengguna mengenai praktik ini. Dalam kebijakan privasi yang ditampilkan, tidak disebutkan secara eksplisit bahwa aplikasi memiliki kemampuan untuk merekam dan menganalisis suara pengguna.

"Ketika kita menguji aplikasi AliExpress, kami menemukan bahwa aplikasi secara aktif menggunakan mikrofon bahkan ketika tidak ada interaksi langsung dari pengguna," jelas sepeneliti dari Kaspersky dalam laporannya. "Ini merupakan pelanggaran serius terhadap privasi pengguna."

Dampak bagi Privasi Pengguna

Pengumpulan data suara tanpa persetujuan menimbulkan risiko signifikan bagi privasi pengguna. Data suara mengandung informasi pribadi yang sangat sensitif, termasuk percakapan pribadi, identitas suara, bahkan informasi keuangan yang mungkin dibicarakan melalui telepon.

Dalam tangan yang salah, data suara ini dapat digunakan untuk berbagai tujah negatif, termasuk pencurian identitas, pemalsuan dokumen, atau bahkan pengintaian oleh pihak tidak berwenang. Kejadian ini juga menunjukkan betapa rentannya data pengguna di platform-platform e-commerce global yang memiliki akses ke berbagai aspek kehidupan digital pengguna.

Respon dari Alibaba Group

Sebagai bagian dari Alibaba Group, AliExpress segera meres temuan ini dengan mengumumkan akan melakukan investigasi internal. Perusahaan dalam pernyataannya menyatakan bahwa mereka menghormati privasi pengguna dan akan segera memperbaiki masalah yang ditemukan.

"Kami sedang menyelidiki laporan mengenai potensi masalah teknis dengan aplikasi AliExpress. Privasi pengguna adalah prioritas utama bagi kami, dan kami akan memastikan bahwa semua praktik pengumpulan data mematuhi peraturan yang berlaku dan standar privasi yang tinggi," demikian pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh perusahaan.

Perusahaan juga menegaskan bahwa mereka akan memperbarui kebijakan privasi untuk memberikan informasi yang lebih jelas mengenai penggunaan data suara oleh aplikasi. Namun, hingga saat ini belum ada jadwal pasti kapan pembaruan ini akan diimplementasikan.

Reaksi dari Pengguna dan Ahli Privasi

Penemuan ini memicu reaksi kritis dari berbagai kalangan. Pengguna AliExpress di media sosional mengekspresikan kekecewaan dan kekhawatiran mereka mengenai perlindungan data pribadi. Banyak yang mempertanyakan apakah platform e-commerce lain juga menggunakan praktik serupa tanpa sepengetahuan pengguna.

Ahli privasi digital menyatakan bahwa kasus AliExpress menunjukkan perlangan regulasi yang lebih ketat dalam pengawasan aplikasi mobile. "Pengguna harus memiliki kontrol penuh atas data mereka, termasuk data suara. Platform-platform seperti AliExpress harus transparan mengenai apa yang mereka lakukan dengan data pengguna," kata seorang ahli hukum teknologi dari Universitas Indonesia.

Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia pun menyatakan akan memantau perkembangan kasus ini. "Kami akan memastikan bahwa semua platform digital yang beroperasi di Indonesia mematuhi peraturan perlindungan data pribadi," ujar juru bicara Kementerian Kominfo dalam keterangannya.

Tindakan Pencegahan bagi Pengguna

Dari sisi pengguna, ahli keamanan siber menyarankan beberapa langkah pencegahan untuk melindungi privasi mereka. Pertama, pengguna harus secara rutin memeriksa izin yang diberikan kepada aplikasi, terutama izin akses mikrofon. Kedua, gunakan fitur "izin aplikasi" untuk membatasi akses mikrofon hanya ketika aplikasi sedang digunakan.

Selain itu, pengguna juga disarankan untuk menggunakan aplikasi keamanan yang dapat mendeteksi aktivitas mencurigakan pada perangkat mereka. Jika memungkinkan, gunakan browser web daripada aplikasi mobile untuk berbelanja online sebagai alternatif untuk mengurangi risiko pengumpulan data yang berlebihan.

Kasus AliExpress ini menjadi pengingat bagi seluruh pengguna digital akan pentingnya kesadaran privasi dalam era digital. Seiring semakin banyaknya platform yang mengumpulkan data pengguna, transparansi dan kontrol pengguna atas data pribadi menjadi isu yang semakin krusial bagi keamanan digital di masa depan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Anisa Permata

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam
IKLAN SIDEBAR — SLOT AKTIF ✅
300x250 / responsif

Newsletter