71 Ribu Hektare Lahan Terbakar di Enam Provinsi, Api Masih Mengancam
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda enam provinsi di Indonesia telah berhasil dipadamkan seluas 71 ribu hektare. Namun, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan bahwa masih terdapat titik api yang mengancam dan berpotensi membesar bila tidak segera ditangani.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan bahwa hingga saat ini tim penanggulangan karhutla terus berupaya memadamkan sisa api yang masih menyala di beberapa wilayah. "Meski luas area yang terbakar telah berhasil kita kurangi, masih ada titik-titik api yang berpotensi membesar, terutama di wilayah dengan ketinggian yang cukup dan akses yang sulit," ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (22/8/2024).
Wilayah Terparah di Kalimantan dan Sumatera
Dari enam provinsi yang terdampak karhutla, Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur menjadi wilayah dengan luas lahan terbakar terbanyak. Di Kalimantan Tengah, sekitar 35 ribu hektare lahan telah terbakar, sementara di Kalimantan Timur mencapai 22 ribu hektare.
Di Sumatera, Provinsi Riau dan Jambi juga mengalami dampak serius. Riau dilaporkan kehilangan 8 ribu hektare lahan akibat kebakaran, sementara di Jambi terdapat 6 ribu hektare area terbakar. Selain itu, Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Utara juga melaporkan kebakaran lahan meskipun luasnya lebih terbatas.
Suharyanto menjelaskan bahwa upaya pemadaman dilakukan dengan melibatkan personel dari TNI/Polri, Basarnas, serta tim dari kementerian terkait dan pemerintah daerah. "Kita menggunakan berbagai metode, mulai dari penurunan personel di lokasi, hingga penggunaan helikopter untuk membawa air dan melakukan water bombing," katanya.
Dampak Karhutla terhadap Kesehatan dan Lingkungan
Kebakaran hutan dan lahan ini tidak hanya mengakibatkan kerusakan ekosistem, tetapi juga memberikan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Kabut asap dari kebakaran telah menyebar ke beberapa wilayah sekitar, menyebabkan peningkatan kasus gangguan pernafasan.
"Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan ada peningkatan 30% pasien yang datang dengan keluhan gangguan pernafasan di wilayah terdampak kabut asap," jelas Suharyanto. Ia menambahkan bahwa pemerintah telah mempersiapkan posko kesehatan di beberapa titik untuk memberikan bantuan kesehatan kepada masyarakat terdampak.
Selain itu, kabut asap juga mengganggu aktivitas transportasi udara dan darat. Beberapa bandara di wilayah terdampak melaporkan penundaan penerbangan karena visibilitas yang buruk. Sementara itu, aktivitas pelayaran di beberapa sungai juga terganggu karena kabut tebal.
Upaya Pencegahan dan Tanggap Darurat
Bertepatan dengan musim kemarau yang diperkirakan akan berlangsung hingga Oktober 2024, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah pencegahan dan penanggulangan karhutla. Salah satunya adalah melalui operasi gabungan yang melibatkan unsur TNI/Polri, Basarnas, dan satuan tugas penanggulangan karhutla daerah.
"Kita juga melakukan koordinasi dengan pihak swasta, terutama perusahaan-perusahaan yang memiliki konsesi di area perhutanan dan pertanian. Mereka diminta untuk ikut serta dalam pemantauan dan pencegahan kebakaran," ujar Suharyanto.
Untuk mempercepat pemadaman, pemerintah telah menyiapkan alat-alat berat seperti excavator dan dozer untuk membuka jalur akses ke lokasi kebakaran. Selain itu, beberapa helikopter juga disiagakan untuk melakukan water bombing di area sulit dijangkau.
Peran Masyarakat dalam Pencegahan Karhutla
BNPB juga menyerukan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam pencegahan karhutla. Masyarakat diminta untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar, terutama di area yang rawan kebakaran.
Sementara itu, beberapa LSM dan komunitas lingkungan hidup juga turut aktif melakukan penanaman pohon dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan. Upaya ini diharapkan dapat membantu mengurangi risiko kebakaran di masa depan.
Dengan musim kemarau yang akan berlangsung masih cukup lama, pemerintah terus berupaya maksimal untuk mencegah dan menangani karhutla. "Kita tidak boleh lengah, karena potensi kebakaran masih sangat besar hingga akhir tahun ini," tegas Suharyanto.
Komentar (0)