19, 2026
Nasional

348 Ribu Barel Sehari Minyak Jelantah Diolah Jadi Bahan Bakar Pesawat SAF di Cilacap

Melati Handayani
Melati Handayani Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

348 Ribu Barel Minyak Jelantah Dikonversi Menjadi Bahan Bakar Pesawat SAF di Cilacap

Industri energi Indonesia mencatat kemajuan signifikan dalam pengembangan bahan bakar berkelanjutan dengan adanya konversi 348 ribu barel minyak jelantah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Cilacap. Proses ini menandai langkah maju Indonesia dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menepis target pengurangan emisi gas rumah kaca.

Minyak jelantah, yang biasanya dianggap sebagai limbah industri, kini menjadi bahan baku utama dalam produksi SAF melalui teknologi canggih. Pabrik pengolakan di Cilacap telah mengoperasikan fasilitas konversi dengan kapasitas mencapai 348 ribu barel per hari, menjadikannya salah satu produsen SAF terbesar di Asia Tenggara.

Teknologi Konversi Inovatif

Teknologi yang digunakan dalam proses konversi ini merupakan hasil kolaborasi antara peneliti lokal dan internasional, menggabungkan metode hidrodeoksigasi dan hidrokraking untuk memurnikan minyak jelantah menjadi bahan bakar pesawat yang ramah lingkungan. Proses ini menghilangkan sulfur dan senyawa berbahaya lainnya sambil meningkatkan kualitas oktan dari bahan bakar hasil produksi.

"Kami telah mengembangkan formula khusus yang memungkinkan minyak jelantah diubah menjadi SAF tanpa kehilangan efisiensi energi. Hasilnya memenuhi standar internasional dan dapat digunakan pada pesawat komersial tanpa modifikasi mesin," jelas Kepala Riset dari tim pengembangan teknologi tersebut.

Dampak Positif bagi Lingkungan

Penggunaan SAF diharapkan dapat mengurangi emisi karbon hingga 80% dibandingkan dengan bahan bakar aviasi konvensional. Dengan produksi 348 ribu barel SAF per hari, potensi pengurangan emisi mencapai jutaan ton karbon setahun. Hal ini sejalan dengan komitmen Indonesia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 29% pada tahun 2030.

Selain itu, penggunaan minyak jelantah sebagai bahan baku juga membantu mengurusi masalah limbah industri. Minyak jelantah yang sebelumnya sering menjadi sumber pencemaran lingkungan kini dimanfaatkan secara optimal, menciptakan nilai ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Kolaborasi Multi Sektor

Proyek ini melibatkan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga penelitian. Kementerian ESDM memberikan dukungan regulasi dan insentif, sementara perusahaan minyak nasional dan investor internasional menyediakan dana serta infrastruktur. Lembaga riset seperti LIPI dan universitas ternama turut berpartisipasi dalam pengembangan teknologi dan optimalisasi proses produksi.

"Kolaborasi ini menunjukkan komitmen bersama dalam membangun industri energi berkelanjutan di Indonesia. Kami tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada transfer teknologi dan peningkatan kapasitas lokal," ujar salah satu pejabat dari Kementerian ESDM yang terlibat dalam proyek ini.

Tantangan dan Masa Depan

Meski demikian, proyer ini masih menghadapi beberapa tantangan. Ketersediaan minyak jelantah dalam jumlah stabil menjadi pertimbangan utama, terutama dengan semakin banyaknya industri yang beralih ke sumber energi alternatif. Selain itu, biaya produksi SAF masih relatif tinggi dibandingkan bahan bakar konvensional, meski diharapkan dapat turun seiring dengan meningkatnya skala produksi dan efisiensi teknologi.

Untuk mengatasi hal ini, pihak terkait berencana mengembangkan sistem pengumpulan minyak jelantah yang lebih terstruktur dan meningkatkan kerja sama dengan industri manufaktur. Rencana jangka panjang juga mencakup diversifikasi bahan baku, termasuk penggunaan minyak goreng bekas dan biomassa lainnya untuk meningkatkan kelangkaan bahan baku.

Potensi Ekspor dan Transformasi Energi

Dengan produksi mencapai 348 ribu barel per hari, Indonesia berpotensi menjadi salah satu pengekspor SAF utama di dunia. Negara-negara di Eropa dan Amerika Utara yang telah menetapkan kebijakan mandatori penggunaan bahan bakar berkelanjutan menjadi pasar potensial bagi produk Indonesia.

"Potensi ekspor ini tidak hanya membantu perekonomian Indonesia, tetapi juga memposisikan negara kita sebagai pemimpin dalam transisi energi global. Ini adalah peluang emas untuk membangun industri hijau yang berkelanjutan," kata analis energi dari lembaga riset independen.

Pengembangan SAF di Cilacap ini hanya awal dari transformasi energi yang lebih luas di Indonesia. Rencana masa depan mencakup pengembangan teknologi serupa untuk sektor transportasi darat dan maritim, dengan target Indonesia menjadi produsen bahan bakar berkelanjutan terdepan di dunia pada tahun 2045.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Melati Handayani

Peliput olahraga nasional dan perkembangan liga domestik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter