130 Orang Masih Dicari, Polri Siapkan 6 Posko DVI Korban KM Virgo di Jatim dan Kalsel
Kapal Motor (KM) Virgo yang tenggelam di perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Sabtu (19/8/2023) masih menelan korban jiwa. Hingga saat ini, tim SAR masih dalam proses pencarian 133 penumpang dan awak kapal yang masih dinyatakan hilang. Polri telah menyiapkan enam posko Identifikasi Korban (DVI) di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan untuk mengantisipasi identifikasi korban yang ditemukan.
Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Polisi Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan bahwa pihaknya telah mempersiapkan enam posko DVI di dua provinsi. "Kami telah menyiapkan enam posko DVI, tiga di Jawa Timur dan tiga di Kalimantan Selatan. Ini untuk memudahkan proses identifikasi korban yang ditemukan," ujar Trunoyudo dalam konferensi pers, Selasa (22/8/2023).
Posko DVI yang disiapkan di Jawa Timur berlokasi di Surabaya, Jember, dan Banyuwangi. Sementara itu, di Kalimantan Selatan, posko DVI dibuka di Banjarmasin, Banjarbaru, dan Kotabaru. Keenam posko ini akan menjadi pusat pengolahan data dan identifikasi korban yang ditemukan oleh tim SAR.
Trunoyudo menjelaskan bahwa posko DVI ini dilengkapi dengan tim forensik dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri. Tim forensik akan melakukan proses identifikasi korban melalui pemeriksaan DNA, sidik jari, dan data pribadi yang diperoleh dari keluarga korban. "Kami telah mengumpulkan data korban dari keluarga untuk memudahkan proses identifikasi nanti," tambahnya.
Kondisi KM Virgo
Menurut informasi yang diperoleh, KM Virgo merupakan kapal penumpang jenis feri yang mengangkut 133 penumpang dan 12 awak kapal. Kapal ini berlayar dari Pelabuhan Bira, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan menuju Pelabuhan Benoa, Bali pada Sabtu (19/8/2023) sekitar pukul 09.00 WITA.
Informasi terakhir yang diterima dari KM Virgo adalah pada pukul 14.30 WITA saat kapal berada di perairan Kepulauan Selayar. Setelah itu, komunikasi dengan kapal terputus. Pihak berwenang menerima laporan bahwa KM Virgo tenggelam sekitar pukul 17.00 WITA.
Diduga, tenggelamnya KM Virgo disebabkan oleh kondisi cuaca buruk yang melanda perairan Kepulauan Selayar. Badai laut dengan tinggi gelombang mencapai 3-4 meter membuat kapal kehilangan keseimbangan dan akhirnya tenggelam.
Upaya Pencarian dan Evakuasi
Sejak diterimanya laporan tentang tenggelamnya KM Virgo, tim SAR langsung diterjunkan untuk melakukan pencarian dan evakuasi. Tim SAR yang terdiri dari TNI, Polri, Basarnas, serta relawan telah melakukan pencarian di area tenggelamnya kapal.
Hingga Selasa (22/8/2023), tim SAR telah berhasil menemukan 13 korban yang selamat dan 3 jenazah. Sementara itu, 133 penumpang dan awak kapal masih dinyatakan hilang. "Kami terus melakukan pencarian dengan maksimal. Harapan kami masih ada korban yang bisa selamat," ujar Juru Bicara Basarnas, Julius Widjojo.
Tim SAR menggunakan berbagai macam alat untuk melakukan pencarian, mulai dari kapal patroli, pesawat terbang, hingga satelit untuk memetakan area pencarian. Selain itu, tim SAR juga menerima bantuan dari nelayan setempat yang membantu mencari korban di sekitar area tenggelamnya kapal.
Tanggapan Pemerintah
Kasus tenggelamnya KM Virgo mendapat perhatian serius dari pemerintah. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi telah memerintahkan jajaran Ditjen Perhubungan Laut untuk melakukan investigasi menyeluruh mengenai kejadian ini.
"Kami akan melakukan investigasi lengkap mengenai penyebab tenggelamnya KM Virgo. Kami juga akan memeriksa apakah kapal memenuhi standar keamanan dan apabila ada pelanggaran, kami akan tindak tegas," ujar Budi Karya dalam keterangannya.
Sementara itu, Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah meminta masyarakat untuk tetap tenang dan kooperatif dengan pihak berwenang dalam proses pencarian korban. "Kami bersama pemerintah daerah dan pusat akan memastikan semua korban mendapat perlindungan dan bantuan yang memadai," kata Nurdin.
Pemerintah juga telah membuka pusko pengungsian di beberapa lokasi di Sulawesi Selatan dan Bali untuk menampung korban yang selamat serta keluarga korban yang datang ke lokasi kejadian. Pusko ini menyediakan fasilitas kesehatan, makanan, serta konseling psikologis bagi korban dan keluarga.
Keluhan Terkait Kelayakan Kapal
Banyak pihak menyoroti kelayakan operasional KM Virgo sebelum kejadian. Beberapa sumber menyebutkan bahwa KM Virgo merupakan kapal tua yang sudah beroperasi sejak tahun 1990. Namun, pihak pengelola kapal mengklaim bahwa KM Virgo telah memenuhi standar keamanan dan rutin dilakukan perawatan.
"KM Virgo telah melalui pemeriksaan rutin dan dinyatakan layak beroperasi oleh Ditjen Perhubungan Laut. Kami selalu menjaga standar keamanan kapal," ujar salah sepetinggi perusahaan pengelola KM Virgo.
Sementara itu, aktivis maritim, Slamet Riyadi mengatakan bahwa banyak kapal feri di Indonesia yang menggunakan usia operasional yang sudah tua. "Ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah dalam memastikan keselamatan penumpang. Kami perlu adanya supervisi yang lebih ketat terhadap operasional kapal-kapal ini," ujar Slamet.
Trunoyudo menegaskan bahwa Polri akan menyelidiki secara menyeluruh mengenai penyebab tenggelamnya KM Virgo. "Kami akan memeriksa semua aspek, mulai dari kondisi kapal, cuaca, hingga faktor manusia. Kami berkomitmen untuk memberikan kejelasan atas kejadian ini," pungkasnya.
Komentar (0)