17, 2026
Nasional

Waspada! Kualitas Udara di Samarinda Masuk Kategori Sangat Buruk Imbas Karhutla

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/09/17/6aaba871536fc-kualitas-udara-buruk-di-kalimantan-timur_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Nadia Santoso
Nadia Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kualitas Udara Samarinda Masuk Kategori Sangat Buruk Akibat Karhutla

Kualitas udara di Samarinda, Kalimantan Timur, mencapai kategori sangat buruk akibat dampak kabut asap hasil kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemerintah setempat telah mengimbau masyarakat untuk mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah dan mengurangi aktivitas di luar ruangan yang tidak penting.

Menurut data dari Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) Samarinda, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di beberapa titik mencapai angka 300-an yang masuk dalam kategori sangat tidak sehat. Angka ini jauh di atas batas aman yang ditetapkan sebesar 150.

Situasi Kritis di Beberapa Wilayah

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda, Muhammad Faisal, mengatakan bahwa kualitas udara di beberapa titik pemukiman dan jalan utama di kota ini mencapai titik kritis. "Di sekitar Jalan Lingkar Utara dan area perumahan di Kecamatan Samarinda Seberang, ISPU-nya sudah masuk kategori sangat tidak sehat. Kami imbau warga untuk mengenakan masker N95 atau setara saat harus keluar rumah," ujarnya.

Faisal menjelaskan bahwa sumber utama kabut asap berasal dari kebakaran hutan dan lahan di sekitar wilayah Samarinda serta kabupaten sekitarnya seperti Kutai Kartanegara dan Paser. "Selama seminggu terakhir, kita sudah menerima laporan adanya titik api di beberapa lokasi. Upaya pemadaman sudah dilakukan, namun kondisi angin dan kekeringan masih membuat sulit untuk mengendalikan api sepenuhnya," tambahnya.

Dampak Kesehatan yang Muncul

Dampak negatif kualitas udara yang buruk mulai terasa di masyarakat. RSUD Samarinda melaporkan adanya peningkatan pasien dengan keluhan gangguan pernafasan seperti batuk, sesak napas, dan iritasi mata.

"Kami melaporkan ada peningkatan 40% pasien dengan keluhan gangguan pernafasan sejak seminggu terakhir. Mayoritas adalah anak-anak dan lansia yang rentan terhadap pencemaran udara," kata Kepala RSUD Samarinda, dr. Ahmad Yani, SpP.

Ia menambahkan bahwa rumah sakit telah menyiapkan ruang isolasi khusus dan tambahan tenaga medis untuk menghadapi potensi lonjakan kasus. "Kami mengimbau masyarakat, terutama yang memiliki riwayat penyakit paru-paru, asma, atau gangguan jantung untuk tetap di rumah dan menghindari aktivitas di luar ruangan jika memungkinkan," jelasnya.

Upaya Pemerintah Menanggulangi

Pemerintah Kota Samarinda telah mengambil sejumlah langkah untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya adalah penyediaan 10.000 masker gratis yang akan disalurkan ke masyarakat di titik-titik keramaian.

"Selain itu, kita juga melakukan penyemprotan air di sekitar titik rawan asap dan area pemukiman untuk menurunkan partikel debu dan asap yang mengendap," kata Wali Kota Samarinda, Andi Harun.

Pemerintah juga telah membentuk tim gabungan yang terdiri dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Dinas Lingkungan Hidup, dan BPBD untuk melakukan patroli dan pemantauan terhadap potensi titik api di seluruh wilayah.

Kondisi Iklim yang Memperparah

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi cuaca di Kalimantan Timur saat ini masih didominasi oleh pola cuaca kering dan minim hujan. Hal ini memperparah penyebaran asap dari kebakaran hutan dan lahan.

"Kami memperkirakan kondisi kering akan berlangsung hingga akhir Oktober. Potensi hujan baru akan turun pada November mendatang. Oleh karena itu, kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mematuhi anjuran pemerintah," kata Kepala BMKG Kalimantan Timur, Budi Santoso.

Ia menambahkan bahwa angin yang bertiup saat ini cenderung membawa asap dari arah darat menuju kota, sehingga menyebabkan konsentrasi partikulat halus (PM2.5) di udara Samarinda menjadi tinggi.

Ajakan untuk Kolaborasi

Pemerintah kota mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut serta dalam menanggulangi masalah ini. Selain mengenakan masker, masyarakat juga diminta untuk tidak membuka api secara liar dan segera melaporkan jika melihat adanya titik api di sekitar permukiman.

"Kita membutuhkan kolaborasi semua pihak untuk mengatasi masalah ini. Selain itu, kita juga perlu melakukan penanaman kembali pohon di lahan-lahan kosong untuk memulihkan ekosistem yang rusak akibat kebakaran," tutup Wali Kota Samarinda.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Santoso

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter