TUBAN – Ratusan warga yang bermukim di sepanjang bantaran Bengawan Solo, Kabupaten Tuban, menghidupkan kembali tradisi gotong royong dan kebersamaan melalui serangkaian kegiatan perawatan sungai. Kegiatan yang digelar pada akhir pekan lalu itu melibatkan tokoh masyarakat, pemuda karang taruna, hingga ibu-ibu PKK dari sejumlah desa di sepanjang aliran sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut. Dengan mengenakan pakaian adat dan membawa peralatan seadanya, warga bahu-membahu membersihkan sampah, merapikan tanggul, serta menanam ratusan pohon di tepian sungai.

Bengawan Solo, Urat Nadi Kehidupan Warga

Bagi warga Tuban, Bengawan Solo bukan sekadar aliran air yang membelah desa. Sungai sepanjang sekitar 548 kilometer yang hulunya berada di Pegunungan Kidul, Wonogiri, Jawa Tengah, itu menjadi urat nadi kehidupan masyarakat di bagian hilir. Sejak lama, warga bantaran menggantungkan mata pencaharian pada sungai, mulai dari bertani di lahan subur, mencari ikan, hingga mengangkut hasil bumi. Namun, dalam dua dekade terakhir, kondisi sungai di sejumlah titik mengalami pendangkalan dan pencemaran akibat sampah domestik serta limbah yang dibuang sembarangan. Kondisi itu mendorong warga untuk bangkit dan mulai merawat sungai dari tepiannya sendiri, tanpa menunggu program dari pihak lain.

Tradisi Bersih Desa Dihidupkan Kembali

Yang menarik, perawatan sungai kali ini dikemas dalam balutan tradisi. Warga mengawali kegiatan dengan kirab budaya dan doa bersama di tepian sungai, sebagaimana tradisi bersih desa yang diwariskan nenek moyang. Setelah itu, warga turun ke sungai menggunakan perahu-perahu kecil untuk mengangkut sampah, sementara kelompok lainnya membersihkan semak belukar di bantaran. Kegiatan ditutup dengan kenduri dan selamatan sebagai wujud rasa syukur atas berkah sungai yang telah lama menghidupi mereka.

Dalam aksi tersebut, sejumlah kegiatan dilakukan warga secara gotong royong, antara lain:

  • pembersihan sampah di badan sungai dan bantaran sepanjang tiga kilometer;
  • penanaman ratusan bibit pohon bambu dan ketapang di tepian sungai;
  • perbaikan tanggul darurat dan jalan inspeksi yang mulai rusak;
  • doa bersama dan kenduri sebagai bagian dari tradisi bersih desa;
  • edukasi pengelolaan sampah rumah tangga kepada warga bantaran.

Kebersamaan Tumbuh dari Tepian Sungai

Kegiatan itu, menurut para tokoh masyarakat, tidak hanya berdampak pada kebersihan sungai, tetapi juga pada tumbuhnya kembali semangat kebersamaan. “Dulu tradisi ini nyaris punah karena warga sibuk dengan urusan masing-masing. Sekarang kami ingin menghidupkannya lagi agar anak cucu tahu bahwa sungai adalah bagian dari kehidupan kami,” ujar seorang sesepuh desa yang memimpin doa bersama. Ia menambahkan, keterlibatan anak-anak muda dalam kegiatan tersebut menjadi harapan baru bagi keberlanjutan tradisi merawat sungai di masa depan.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Meski berjalan lancar, warga mengakui perawatan sungai masih menghadapi sejumlah tantangan. Volume sampah yang terbawa arus dari hulu kerap bertambah saat musim hujan, sementara kesadaran sebagian warga untuk tidak membuang sampah ke sungai masih perlu terus didorong. Para tokoh masyarakat berharap pemerintah daerah mendukung melalui program pemeliharaan sungai yang berkelanjutan, pendampingan pengelolaan sampah berbasis desa, serta penegakan aturan bagi pembuang limbah secara sembarangan.

Kendati demikian, semangat warga Tuban patut diapresiasi. Dengan menghidupkan kembali tradisi dan kebersamaan, mereka membuktikan bahwa merawat sungai tidak harus dimulai dari proyek besar. Merawat Bengawan Solo bisa dimulai dari tepian, dari hal-hal sederhana yang dikerjakan bersama-sama. Harapannya, sungai kebanggaan warga itu kembali jernih dan lestari, menjadi warisan yang dapat dinikmati generasi mendatang.