Erupsi Anak Krakatau Kembali Terjadi, Abu Vulkanik Mencapai Ketinggian 7.000 Kaki
Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Selasa (23/5/2023) pagi. Erupsi ini menghasilkan kolom abu vulkanik yang mencapai ketinggian sekitar 7.000 kaki atau 2.134 meter di atas permukaan laut. Badan Geologi dan Kehatiatan Indonesia (PVMBG) mencatat aktivitas gunung berapi ini meningkat sejak beberapa hari terakhir.
Menurut informasi yang diterima dari pos pengamatan Anak Krakatau, erupsi berlangsung selama sekitar 9 menit 23 detik, mulai pukul 06.18 WIB hingga 06.27 WIB. Selama erupsi, terdengar bunyi gemuruh yang cukup kuat hingga ke wilayah sekitar pulau Rakata dan Sebesi. Warga di sekitar kawasan Selat Sunda melaporkan melihat awan abu berwarna abu-abu pekat yang menyebar ke arah timur laut.
Kepala PVMBG, Hendra Gunawan, menjelaskan bahwa erupsi ini termasuk dalam jenis erupsi strombolian dengan intensitas rendah hingga sedang. "Kolom abu teramati condensatif dengan abu kelabu hingga putih keabu-abuan. Abu vulkanik ini terdispersi ke arah timur laut," ujar Hendra dalam siaran persnya.
Setelah erupsi, PVMBG mencatat terjadi 29 kali gempa vulkanik dengan amplitudo rendah hingga sedang. Selain itu, juga terdeteksi 2 kali gempa tektonik dangkal dan 1 kali gempa tektonik dalam. Aktivitas vulkanik lain yang tercatat meliputi 10 kali guguran lava dan 4 kali gempa erupsi.
Status Siaga Ditetapkan Level II (Waspada)
Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, PVMBG mempertahankan status Anak Krakatau pada Level II (Waspada). Warga dan pengunjung diimbau untuk tetap waspada dan menjauhi zona bahaya sejauh 2 kilometer dari puncak gunung.
"Kami mengimbau masyarakat yang beraktivitas di area perairan Selat Sunda, terutama nelayan dan wisatawan, untuk tetap waspas terhadap abu vulkanik yang dapat jatuh di wilayah tersebut. Selain itu, potensi guguran lava juga dapat terjadi di sekitar pantai selatan dan barat daya pulau Anak Krakatau," tambah Hendra.
Erupsi terbaru ini bukanlah kali pertama Anak Krakatau mengalami aktivitas vulkanik dalam beberapa bulan terakhir. Pada bulan Maret 2023, gunung ini juga mengalami serangkaian erupsi yang mengakibatkan peningkatan aktivitas seismik dan guguran lava ke laut. Aktivitas tersebut sempat membuat warga di sekitar pulau harus mengungsi sementara.
Dampak Erupsi Terhadap Pelayaran dan Wisata
Dampak erupsi ini terasa hingga sektor pelayaran dan pariwisata. Pihak Pelabuhan Merak dan Labuhan menetapkan waspada terhadap potensi abu vulkanik yang dapat mengganggu navigasi kapal. Kapal-kapal yang melintasi Selat Sunda diminta untuk selalu waspada dan mengikuti petunjuk dari pihak berwenang.
Sementara itu, pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga memantau dampak erupsi terhadap destinasi wisata di sekitar Selat Sunda. "Kami terus berkomunikasi dengan pemerintah daerah dan PVMBG untuk memastikan keamanan wisatawan. Jika diperlukan, beberapa destinasi wisata akan ditutup sementara," ujar juru bicara kementerian tersebut.
Untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik, pemerintah setempata telah menyiapkan fasilitas kesehatan di beberapa titik di wilayah Banten dan Lampung. Masker gratis juga disediakan untuk warga yang tinggal di area terdampat abu vulkanik.
Riwayat Erupsi Anak Krakatau
Anak Krakatau lahi dari letusan Gunung Krakatau yang dahsyat pada tahun 1883. Letusan tersebut mengakibatkan tsunami besar dan merenggut ribuan jiwa. Sejak itu, gunung ini terus mengalami aktivitas vulkanik dengan intensitas bervariasi.
Pada tahun 2018, Anak Krakatau mengalami erupsi besar yang mengakibatkan tsunami dan menyebabkan ratusan korban jiwa. Sejak insiden tersebut, PVMBG meningkatkan sistem pemantauan di sekitar gunung berapi tersebut.
Menurut para ahli, aktivitas vulkanik Anak Krakatau masih akan terus terjadi mengikuti siklus alami. "Kami terus memantau aktivitasnya dan akan memberikan update kapan saja diperlukan. Yang terpenting adalah masyarakat tetap waspada dan mematuhi anjuran dari pihak berwenang," pungkas Hendra Gunawan dari PVMBG.
Komentar (0)