18, 2026
Teknologi

Universitas Brawijaya Perketat Akses ke Gedung Tinggi Usai Mahasiswa Lompat

Universitas Brawijaya akan perketat akses ke gedung tinggi setelah mahasiswa Fakultas Kedokteran berinisial RR mencoba bunuh diri dari lantai enam.]]>

Galih Nasution
Galih Nasution Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Universitas Brawijaya Perketat Akses ke Gedung Tinggi Usai Mahasiswa Lompat

Universitas Brawijaya Perketat Akses ke Gedung Tinggi Usai Mahasiswa Lompat

Universitas Brawijaya (UB) mengumumkan kebijakan baru yang memperketat akses ke gedung-gedung tinggi di lingkungan kampus. Langkah ini diambil setelah seorang mahasiswa lompat dari gedung Fakultas Teknik pada Rabu (15/3) lalu. Kebijakan ini sejalan dengan komitemen universitas dalam menjaga keselamatan dan kesejahteraan seluruh sivitas akademika.

Insiden yang Memicu Kebijakan

Insiden tragis yang menimpa seorang mahasiswa semester enam program studi Teknik Sipil itu menjadi pukulan keras bagi seluruh sivitas akademika UB. Mahasiswa tersebut ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di halaman gedung Fakultas Teknik setelah melompat dari lantai empat. Pihak keamanan kampus segera melakukan evakuasi dan koordinasi dengan pihak berwenang untuk menangani kasus ini.

Kepala Biro Komunikasi dan Humas UB, Dr. Ahmad Fauzi, menjelaskan bahwa universitas sedang berduka atas kejadian ini. "Kami masih dalam proses investigasi untuk memahami penyebab insiden tersebut. Tim psikolog universitas telah diterjunkan untuk membantu mahasiswa, dosen, dan staf yang terkena dampak emosional dari kejadian ini," ujar Ahmad Fauzi dalam konferensi pers yang digunakan pada Kamis (16/3).

Kebijakan Akses Baru

Sebagai tindakan pencegahan, UB menerapkan sejumlah pembatasan akses ke gedung-gedung yang memiliki lebih dari tiga lantai. Akses ke balkon dan atap gedung kini sepenuhnya ditutup. Selain itu, pintu masuk ke area atap dan balkon akan dikunci secara otomatis setelah jam operasional gedung berakhir.

"Kami memasang pembatas fisik di sepanjang balkon dan area yang berpotensi berbahaya. Selain itu, kami juga meningkatkan pengawasan dengan menempatkan petugas keamanan di gedung-gedung yang berpotensi risiko tinggi," jelas Kepala Divisi Keamanan UB, Budi Santoso.

Universitas juga akan memasang papan peringatan yang jelas mengenai bahaya di area terlarang. Papan peringatan ini akan dilengkapi dengan nomor darurat layanan bantuan psikologis dan konseling yang dapat dihubungi kapan saja.

Dukungan Psikologis dan Konseling

UB meningkatkan layanan bantuan psikologis untuk seluruh sivitas akademika. Pusat Layanan Konseling UB membuka layanan 24 jam selama seminggu ke depan untuk mendukung mahasiswa, dosen, dan staf yang membutuhkan bantuan emosional.

"Kami mendirikan posko khusus di depan Gedung Rektorat dan di depan Fakultas Teknik. Tim psikolog dan konselor siap melayani siapa saja yang merasa terganggu oleh insiden ini," kata Kepala Pusat Layanan Konseling UB, Dr. Siti Aminah.

Tim ini juga akan melakukan pendekatan proaktif kepada kelompok-kelompok mahasiswa yang dianggap membutuhkan dukungan khusus, termasuk teman-teman dekat korban dan mahasiswa yang sedang mengalami kesulitan akademik atau personal.

Respons dari Mahasiswa

Beberapa organisasi mahasiswa menyambut baik kebijakan ini. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UB, Reza Pratama, mengatakan bahwa universitas perlu memberikan perhatian lebih pada kesejahteraan mental mahasiswa.

"Kami mengapresiasi langkah cepat yang diambil universitas. Namun, kami juga berharap universitas dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendukung kesejahteraan mental mahasiswa. BEM siap berkolaborasi dengan pihak universitas untuk menciptakan lingkungan kampus yang lebih mendukung," ujar Reza.

Sementara itu, beberapa mahasiswa menyatakan kecemasan terhadap potensi dampak negatif dari pembatasan akses ini. "Mengapa harus menutup akses ke balkon? Mungkin ada mahasiswa yang hanya ingin menikmati pemandangan dari ketinggian," kata Ahmad, salah seorang mahasiswa Teknik.

Langkah Jangka Panjang

Rektor UB, Prof. Dr. Nuhung, menyatakan bahwa insiden ini menjadi pemicu bagi evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan dan fasilitas di lingkungan kampus. Universitas akan membentuk tim khusus yang terdiri dari unsur akademik, psikolog, perwakilan mahasiswa, dan praktisi keselamatan untuk merumuskan langkah-langkah jangka panjang.

"Kami sedang mempertimbangkan untuk memasang sistem monitoring di area yang berpotensi berbahaya. Selain itu, kami akan meningkatkan edukasi tentang keselamatan dan kesejahteraan mental bagi seluruh sivitas akademika," jelas Rektor.

Universitas juga berencana mengadakan workshop dan seminar terkait kesehatan mental, manajemen stres, dan keterampilan menghadapi tekanan kehidupan. Program-program ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesejahteraan mental di kalangan mahasiswa.

Insiden ini menjadi pengingat bagi seluruh pihak tentang pentingnya perhatian terhadap isu kesehatan mental di lingkungan kampus. UB berkomitmen untuk terus memperbaiki sistem dukungan dan menjadikan kampus sebagai lingkungan yang aman dan mendukung bagi semua sivitas akademika.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Galih Nasution

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter