30, 2026
Teknologi

The Fed Makin 'Galak', Harga Perak Merana

Harga perak merana terbebani oleh sikap The Fed yang mulai hawkish di periode kepemimpinan Kevin Warsh]]>

Intan Kusuma
Intan Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

The Fed Makin 'Galak', Harga Perak Merana

The Fed Makin 'Galak', Harga Perak Merana

pasar perak global mengalami tekanan signifikan dalam beberapa pekan terakhir, dipicu oleh kebijakan moneter yang semakin ketat dari The Federal Reserve (The Fed). Para analis memperkirakan bahwa tren penurunan ini akan berlanjut selama bank sentral Amerika Serikat terus menunjukkan sikap hawkish atau galak dalam mengendalikan inflasi.

Harga perak spot untuk kontrak segera ditutup turun 1,8% pada perdagangan Rabu (15/3) menjadi $19,90 per troy ounce, menurun dari level tertinggi enam minggu sebelumnya yang mencapai $21,40. Penurunan ini merupakan bagian dari tren bearish yang berlangsung sejak awal kuartal pertama, di mana harga logam mulia tersebut telah kehilangan sekitar 12% nilainya.

Kebijakan The Fed Menjadi Faktor Penekan Utama

Sinyal dari The Fed menjadi pemicu utama penurunan harga perak. Setelah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada bulan Maret, bank sentral tersebut menunjukkan sikap yang lebih hawkish daripada ekspektasi pasar. The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi sekitar 4,75% - 5%, sejalan dengan prediksi analis.

Yang lebih penting adalah pesan dari Ketua The Fed Jerome Powell bahwa bank sentral siap melakukan penyesuaian suku bunga lebih lanjut jika data inflasi menunjukkan kebutuhan akan itu. "Kami belum yakin bahwa kami telah mencapai tingkat suku buka yang cukup, dan kami bersiap untuk melakukan lebih banyak jika diperlukan," ujar Powell dalam konferensi pers usai rapat.

Komentar tersebut secara langsung mendorong penguatan dolar AS dan menaikkan imbal hasil Treasury AS, membuat aset-aset bebas risiko seperti obligasi menjadi lebih menarik bagi investor dibandingkan logam mulia seperti perak yang tidak membawa imbal hasil.

Peningkatan Imbal Hasil Obligasi Menjadi Alternatif Menarik

Dengan imbal hasil obligasi AS 10 tahun yang melonjak di atas 3,8%, investor cenderung memindahkan modal dari perak ke instrumen berbasis utang yang dianggap lebih aman. Pergerakan ini menciptakan tekanan jual yang signifikan terhadap harga perak.

"Imbal hasil real yang lebih tinggi pada obligasi membuat perkecualian untuk perak menjadi lebih sulit," kata seorang analis dari bank investasi ternama. "Ketika investor dapat mendapatkan pengembalian nyata dari instrumen berisiko rendah, daya tarik logam mulia sebagai proteksi terhadap inflasi menurun."

Analisis Teknis Menunjukkan Tren Bearish Berlanjut

Dari sisi teknis, grafik harga perak menunjukkan pola bearish yang jelas. Setelah gagal menembus level resistensi di $21,00 per troy ounce pada awal Maret, harga perak mengalami penolakan kuat dan kini bergerak di bawah moving average 20 hari. Indikator RSI (Relative Strength Index) juga berada di zona oversold, menunjukkan potensi untuk penurunan lebih lanjut sebelum adanya pembalikan arah.

Para teknikalis memperkirakan bahwa jika harga perak gagal mempertahankan level support di $19,50, potensi penurunan berikutnya dapat mencapai $18,50 bahkan $17,50 dalam jangka pendek. Di sisi lain, jika berhasil memantul di atas $20,00, harga dapat bergerak kembali menuju resistensi di $21,00.

Fundamental Permintaan Perak Tetap Kuat

Meskipun menghadapi tekanan dari sisi moneter, fundamental permintaan fisik perak tetap relatif kuat. Data World Silver Council menunjukkan bahwa permintaan untuk perak industri, terutama dalam sektor fotovoltaik dan elektronik, terus meningkat seiring dengan transisi energi global.

Sementara itu, permintaan untuk perak sebagai investasi dan perhiasan juga menunjukkan peningkatan di beberapa negara Asia dan Timur Tengah. Di India, konsumsi perak perhiasan meningkat pesat menjelang musim perayaan tradisional, sementara di Tiongkok, permintaan untuk koin dan batang logam mulia tetap stabil.

Perak vs Emas: Rasio Menarik Perhatian

Salah satu yang menarik perhatian adalah rasio perak terhadap emas yang kini berada di sekitar 87:1, jauh di bawah rata-rata historis sekitar 60:1. Beberapa analis melihat ini sebagai sinyal bahwa perak mungkin "underperform" dibandingkan emas dalam jangka pendek, tetapi juga menunjukkan potensi untuk rebound yang lebih kuat jika kondisi pasar berubah.

"Rasio yang tinggi ini sering kali menjadi indikator bahwa perak sedang oversold dan dapat menawarkan peluang pembelian yang menarik bagi investor jangka panja," komentar seorang analis komoditas terkemuka.

Dengan demikian, meskipun menghadapi tekanan jual yang signifikan di jangka pendek, prospek jangka menengah hingga panjang perak tetap bergantung pada pergerakan kebijakan The Fed, kondisi ekonomi global, dan keseimbangan antara penawaran dan permintaan fisik logam mulia tersebut.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Intan Kusuma

Kontributor rubrik data dan visualisasi angka penting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam
IKLAN SIDEBAR — SLOT AKTIF ✅
300x250 / responsif

Newsletter