Kisah Sri Purwanti menjadi bukti bahwa pekerja migran Indonesia tidak hanya mampu bertahan di negeri orang, tetapi juga membangun usaha yang berkembang. Nasabah BRI ini sukses menjalankan bisnis kuliner halal di Taiwan, sebuah pasar yang selama ini jarang dilirik pelaku usaha Tanah Air.
Berawal dari pengalaman bekerja sebagai pekerja migran, Sri melihat celah bisnis dari tingginya permintaan makanan halal di Taiwan. Seiring meningkatnya jumlah pekerja asal Indonesia di negara tersebut, kebutuhan akan masakan sesuai prinsip syariat Islam pun tumbuh pesat. Ia mulai merintis usaha kuliner yang menyasar kalangan pekerja migran sekaligus warga lokal yang mulai mengenal cita rasa Indonesia.
Dengan modal terbatas di awal, Sri memulai dari skala kecil sebelum akhirnya memperluas jangkauan pelanggan. Perpaduan antara cita rasa autentik dan pelayanan yang baik membuat usahanya semakin dikenal, baik di kalangan pekerja migran maupun masyarakat setempat yang penasaran dengan kuliner Indonesia.
Dukungan BRI Mendorong Pertumbuhan Usaha
Perjalanan usaha Sri tidak lepas dari dukungan layanan perbankan BRI. Melalui program kredit usaha rakyat (KUR) dan layanan remitansi, BRI memberikan akses permodalan serta kemudahan transaksi lintas negara bagi para nasabahnya yang bekerja di luar negeri. Hal ini memungkinkan Sri mengelola keuangan usaha secara lebih tertib, mulai dari pembelian bahan baku hingga pengiriman hasil usaha ke Indonesia.
Dari sisi bisnis, kisah Sri menunjukkan besarnya potensi pasar kuliner halal di kawasan Asia Timur. Taiwan, dengan populasi pekerja migran Indonesia yang mencapai ratusan ribu orang, menjadi salah satu pasar potensial bagi produk makanan Indonesia. Peluang ini tidak hanya terbuka bagi pekerja migran, tetapi juga bagi pelaku usaha ekspor makanan dan minuman halal dari dalam negeri yang ingin menjangkau konsumen di luar Indonesia.
Model usaha yang dijalankan Sri juga relevan dengan tren ekonomi diaspora. Pekerja migran yang kini semakin melek finansial tidak lagi sekadar mengirim uang ke kampung halaman, tetapi mulai membangun usaha di negara tempat mereka bekerja. Peran perbankan pun bergeser dari sekadar penyedia layanan transfer menjadi mitra pertumbuhan usaha.
Bagi pelaku usaha dan calon eksportir, kisah Sri Purwanti menjadi pengingat bahwa pasar halal global terbuka lebar. Kunci keberhasilannya sederhana: membaca kebutuhan pasar, konsisten menjaga kualitas, dan memanfaatkan dukungan pembiayaan yang tersedia. Dengan strategi serupa, tidak menutup kemungkinan semakin banyak pelaku usaha Indonesia yang menembus pasar internasional lewat sektor kuliner.
Komentar (0)