Saham BBCA Tiba-tiba Anjlok 2% Lebih, Asing Net Sell Jumbo
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi perdagangan Rabu (19/7) mengalami penurunan meski sempat tertekan pada awal sesi. Penurunan ini didorong oleh aprofit taking dari para investor asing yang tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) secara signifikan, terutama pada saham Bank Central Asia (BBCA).
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks bermain di zona merah sejak awal sesi perdagangan. Pada pukul 09:30 WIB, IHSG tercatat turun 0,47% ke level 6.914,88. Meski sempat berupaya pulih di tengah sesi, indeks akhirnya ditutup turun 0,51% ke level 6.906,97.
Salah satu saham yang menjadi sorotan adalah saham BBCA yang mengalami penurunan mencapai 2,12% menjadi level Rp 7.450 per saham. Penurunan ini terjadi meski sebelumnya saham BBCA sempat menjadi salah satu saham unggulan yang mendapat perhatian pasar.
Aksi Jual Asing Mendorong Penurunan
Data yang dirilis oleh Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa para investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 1,2 triliun di pasar saham Indonesia pada Rabu (19/7). Nilai ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata harian yang biasa terjadi.
"Kami melihat ada profit taking yang dilakukan oleh investor asing, terutama pada sektor perbankan yang sebelumnya sudah mengalami penguatan signifikan," ujar analis dari sebuah sekuritas yang tidak mau disebutkan namanya.
Dari total aksi jual asing tersebut, sekitar 40% atau Rp 480 miliar di antaranya terjadi pada saham BBCA. Nilai ini cukup signifikan mengingat kapitalisasi pasar BBCA yang termasuk yang terbesar di bursa.
"BBCA menjadi salah satu saham favorit investor asing selama ini, sehingga tidak heran jika menjadi sasaran aksi jual saat mereka melakukan profit taking," tambah analis tersebut.
Faktor Fundamental yang Mendasari
Beberapa analis menyatakan bahwa penurunan BBCA tidak hanya disebabkan oleh aksi jual asing, tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor fundamental. Salah satunya adalah kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang diumumkan pada pekan lalu.
"Kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% mungkin akan memberikan tekanan pada margin lending bank, termasuk BBCA," ujar seorang ekonom dari sebuah lembaga riset.
Selain itu, data perbankan yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit pada Mei 2023 mengalami perlambatan menjadi 8,4% (yoy) dari 8,5% (yoy) pada April 2023. Hal ini mungkin membuat investor khawatir terhadap prospek pertumbuhan labah bank di semester kedua tahun ini.
"Meskipun demikian, fundamental BBCA tetap kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) yang tinggi dan kualitas aset yang baik. Jadi, penurunan ini mungkin hanya bersifat teknis dan sementara," tambah ekonom tersebut.
Reaksi Pasar dan Prospek Kedepan
Penurunan BBCA turut mempengaruhi performa saham-saham perbankan lainnya. Sejumlah saham perbankan besar seperti Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) juga mengalami penurunan meskipun tidak sebesar BBCA.
"Kami melihat aksi jual asing ini mungkin terkait dengan realokasi dana mereka ke pasar-pasar lain yang dianggap memiliki prospek lebih baik di tengah kenaikan suku bunga global," ujar seorang portofolio manager dari sebuah manajer investasi.
Sementara itu, pihak manajemen BBCA belum memberikan komentar resmi mengenai penurunan harga saham yang dialami perusahaan. Namun, sejumlah analis masih optimistis dengan prospek jangka panjang BBCA mengingung posisinya sebagai bank dengan kinerja terbaik di Indonesia.
"Meskipun ada tekanan jual sementara, kami tetap melihat BBCA sebagai saham blue chip yang worth to hold. Potensi bagi hasil (dividen yield) yang masih menarik dan pertumbuhan labah yang stabil menjadi poin plus bagi saham ini," ujar analis dari sekuritas lainnya.
Pada akhir perdagangan, volume perdagangan BBCA mencapai 123,4 juta lot dengan nilai Rp 9,2 triliun. Volume ini jauh lebih tinggi dari rata-rata harian yang biasanya sekitar 80 juta lot.
Para investor diminta untuk tetap waspada mengenai perkembangan pasar domestik maupun internasional yang mungkin akan mempengaruhi aksi jual beli di hari-hari mendatang. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan adalah keputusan suku bunga The Federal Reserve, data inflasi Indonesia, dan juga perkembangan geopolitik global.
Komentar (0)