Ratusan Santri Ponpes Manbaul Hakim di Sidoarjo Diduga Keracunan MBG
Sebanyak 329 santri dari Ponpes Manbaul Hakim di Desa Kebonsari, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan makanan berat (MBG). Para santri tersebut dirawat di beberapa rumah sakit sekitar Sidoarjo setelah mengeluhkan gejala mual, muntah, diare, dan demam setelah mengonsumsi makanan di pondok pesantren.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, drg. H. Muh. Fauzi, mengatakan bahwa pihaknya telah menerima laporan tentang keracunan massal ini pada Rabu (15/3) dini hari. "Kami mendapat laporan sekitar pukul 02.00 WIB bahwa ada banyak santri yang mengalami gejala keracunan setelah makan malam di pondok pesantren. Tim dari dinas kesehatan langsung turun ke lokasi untuk melakukan penanganan awal," ujarnya.
Gejala yang Dialami Santri
Berdasarkan informasi yang diterima, para santri mulai mengeluhkan gejala tidak enak badan sekitar 4-6 jam setelah mengonsumsi makan malam di pondok pesantren. Beberapa di antaranya bahkan mengalami gejala yang cukup parah sehingga memerlukan perawatan intensif.
"Gejala yang paling sering ditemukan adalah mual, muntah berkali-kali, diare, dan demam. Beberapa santri juga mengeluhkan nyeri perut yang hebat. Dari 329 santri yang terdampak, 22 di antaranya dirawat di RSUD Taman Sidoarjo, 6 di RSUD dr. Soetomo Surabaya, dan sisanya dirawat di tempat dengan pengawasan tenaga kesehatan," jelas Fauzi.
Sampel Makanan Diamankan
Untuk mengetahui pasti penyebab keracunan yang dialami para santri, tim dari Dinas Kesehatan Sidoarjo telah mengambil sampel makanan sisa yang masih tersisa di pondok pesantren. Sampel tersebut akan diperiksa di laboratorium untuk mengetahui apakah terdapat bakteri berbahaya atau zat kimia berbahaya dalam makanan tersebut.
"Kami sudah mengambil sampel makanan sisa, air minum, dan juga tinja dari beberapa santri yang mengalami gejala parah. Hasil laboratory akan kami tunggu untuk menentukan secara pasti penyebab keracunan ini. Sementara itu, kami sudah memberikan pengobatan simtomatis kepada para santri yang terdampak," tambahnya.
Kondisi Santri Saat Ini
Hingga Kamis (16/3) siang, kondisi mayoritas santri yang dirawat di rumah sakit sudah membaik. Beberapa di antaranya sudah bisa pulang ke pondok pesantren setelah mendapat perawatan dan kondisinya stabil.
"Dari total 329 santri yang terdampak, sekarang sudah sekitar 280 di antaranya sudah bisa pulang karena kondisinya sudah stabil. Sisanya masih dirawat di rumah sakit untuk memastikan kondisinya benar-benar pulih total," jelas Fauzi.
Pemerintah Lokal Aksi Cepat
Kabupaten Sidoarjo segera membentuk tim khusus untuk menangani kasus keracunan massal ini. Tim tersebut terdiri dari dinas kesehatan, dinas perizinan, dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang akan menyelidiki secara menyeluruh kejadian ini.
"Kami akan melakukan investigasi mendalam untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas penyediaan makanan di pondok pesantren ini. Jika ternyata ada pelanggaran dalam proses pengolahan makanan, kami akan menindak tegas sesuai peraturan yang berlaku," tegas Bupati Sidoarjo, H. Saiful Ilah.
Ponpes Manbaul Hakim Sementara Ditutup
Sementara itu, pihak ponpes Manbaul Hakim telah memutuskan untuk sementara waktu menutup aktivitas belajar-mengajar untuk memberikan waktu bagi para santri untuk pulih sepenuhnya. Kegiatan belajar-mengajar akan dilanjutkan setelah kondisi para santri benar-benar pulih dan mendapat persetujuan dari dinas kesehatan.
"Kami mohon maaf atas kejadian ini. Pihak pondok sedang bekerja sama dengan pemerintah untuk menangani situasi ini. Kami juga akan meningkatkan pengawasan terhadap kualitas makanan di pondok pesantren agar kejadian serupa tidak terulang kembali," ujar Kyai H. Abdulloh, pengasuh Ponpes Manbaul Hakim.
Langkah Pencegahan
Dinas Kesehatan Sidoarjo juga mengimbau seluruh pondok pesantren dan lembaga pendidikan lainnya untuk lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap kualitas makanan yang disajikan kepada para siswanya. Beberapa langkah pencegahan keracunan makanan yang perlu diperhatikan antara lain memastikan kebersihan alat masak, menjaga kebersihan bahan makanan, memastikan keterampilan para penyiap makanan, dan menghindari penyimpanan makanan dalam waktu lama.
"Kami akan menyelenggarakan sosialisasi tentang pencegahan keracunan makanan untuk seluruh pengelola pondok pesantren di Sidoarjo. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih waspada terhadap kualitas makanan yang disajikan," pungkas Fauzi.
Komentar (0)