24, 2026 ID
Olahraga

Prancis Guncang Dunia Olahraga, Indonesia Tersisih dari Kejayaan

Paris 2024 menjadi panggung kebangkitan Prancis di pentas olahraga dunia. Sebagai tuan rumah, negara itu tidak hanya sukses menyelenggarakan Olimpiade dengan megah, tetapi juga tampil menggila dalam perebutan medali. Prancis finis di posisi

Prancis Guncang Dunia Olahraga, Indonesia Tersisih dari Kejayaan

Paris 2024 menjadi panggung kebangkitan Prancis di pentas olahraga dunia. Sebagai tuan rumah, negara itu tidak hanya sukses menyelenggarakan Olimpiade dengan megah, tetapi juga tampil menggila dalam perebutan medali. Prancis finis di posisi kelima klasemen akhir dengan koleksi 16 medali emas, 26 perak, dan 22 perunggu, torehan terbaik mereka dalam lebih dari satu abad penyelenggaraan Olimpiade modern.

Kesuksesan tersebut bukan kebetulan. Sejak ditunjuk menjadi tuan rumah, pemerintah Prancis gencar membenahi sistem pembinaan atlet, membangun infrastruktur, dan menambah anggaran olahraga secara signifikan. Hasilnya, cabang-cabang seperti renang, anggar, judo, hingga rugby tujuh tampil dominan. Anggaran olahraga nasional Prancis memang naik berlipat menjelang ajang, dan hasilnya terbayar lunas di depan mata pendukung sendiri. Keberhasilan ini sekaligus menjadi bukti bahwa investasi jangka panjang di bidang olahraga mampu membuahkan prestasi.

Di tengah gemuruh kejayaan Prancis, Indonesia justru harus menelan pil pahit. Kontingen Merah Putih hanya membawa pulang tiga medali dari Paris, jauh dari target lima medali emas yang dicanangkan. Dua emas yang diraih pun datang dari cabang non-tradisional, yakni angkat besi lewat Rizki Juniansyah dan panjat tebing kecepatan lewat Veddriq Leonardo. Capaian itu menjadi salah satu yang terendah dalam beberapa edisi terakhir, mengingatkan pada masa ketika Merah Putih rutin bersaing di papan atas Asia.

Kemunduran Tradisi Digdaya

Yang paling memprihatinkan adalah merosotnya bulutangkis, cabang yang selama puluhan tahun menjadi andalan Indonesia di ajang multievent. Pada Olimpiade Paris, Gregoria Mariska Tunjung hanya mampu menyumbang satu perunggu. Sektor tunggal putra yang dulu ditakuti dunia gagal total, sementara ganda-ganda unggulan tumbang lebih awal. Kekalahan-kekalahan itu sekaligus mengakhiri rentetan harapan medali di cabang yang pernah menjadi primadona. Dominasi yang selama ini menjadi identitas olahraga Indonesia perlahan memudar di tengah persaingan ketat China, Korea Selatan, hingga negara-negara Eropa.

Nasib serupa menimpa sepakbola. Sementara Prancis terus melahirkan generasi emas dan selalu diperhitungkan di panggung dunia, Indonesia masih berkutat dalam upaya menembus level tertinggi. Timnas belum pernah merasakan atmosfer Piala Dunia, sementara pembinaan usia muda masih jauh dari konsisten. Padahal, gairah sepakbola Indonesia di kalangan masyarakat sangat besar, terbukti dari dukungan fanatik suporter di setiap laga. Ketertinggalan ini semakin terasa ketika negara-negara Asia Tenggara lain mulai melaju.

Kontras tajam antara Prancis dan Indonesia mengirim pesan jelas: prestasi besar tidak lahir dari euforia sesaat, melainkan dari pembinaan terstruktur, pendanaan memadai, dan regenerasi yang berkelanjutan. Tanpa perombakan mendasar pada ekosistem olahraga nasional, Indonesia berisiko terus tersisih di tengah panggung kejayaan negara lain.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS admin

Komentar (0)

User

Paling Dibaca

24 jam

Newsletter

Tag