17, 2026
Teknologi

Prabowo di KTT BRICS: Perdagangan dan Mata Uang Tak Boleh Dipersenjatai

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/09/12/6aa5726c20f1d-presiden-prabowo-hadiri-ktt-brics-di-india_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Nadia Santoso
Nadia Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Prabowo di KTT BRICS: Perdagangan dan Mata Uang Tak Boleh Dipersenjatai

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menghadiri KTT BRICS ke-15 di New Delhi, India, pada 10-11 September 2024. Dalam sidak tersebut, Prabowo menyampaikan pandangannya bahwa perdagangan dan mata uang internasional tidak boleh menjadi objek persenjataan geopolitik. Pernyataan ini menandai posisi Indonesia sebagai negara berkembang yang berupaya mempertahankan stabilitas ekonomi global dalam tengah ketegangan geopolitik yang semakin meningkat.

Dalam pidatonya, Prabowo menekankan perlunya kerjasama multilateral yang lebih kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi dunia. "Kita tidak boleh membiarkan perdagangan dan mata uang menjadi alat tekanan dalam permainan geopolitik," ujar Prabowo sebagaimana dilansir dari siaran pers Istana Kepresidenan. Presiden menegaskan bahwa Indonesia mendukung upaya BRICS dalam memperkuat kerjasama ekonomi dan menciptakan sistem keuangan internasional yang lebih adil dan inklusif.

Posisi Indonesia dalam BRICS

Indonesia yang menjadi salah satu negara terbesar di dunia dengan ekonomi berkembang aktif berpartisipasi dalam diskusi BRICS terkait reformasi institusi keuangan global. Prabowo menyoroti bahwa dominasi mata uang dolar AS dalam perdagangan internasional seringkali menciptakan ketidakstabilan bagi negara-negara berkembang. "Kita perlu sistem pembayaran alternatif yang tidak terikat pada kepentingan politik tertentu," jelasnya.

Presiden juga menyampaikan dukungan terhadap inisiatif BRICS untuk memperluang penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral. Menurutnya, langkah ini akan mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar yang disebabkan oleh politik moneter negara-negara maju. "Indonesia siap berpartisipaktif dalam mengembangkan mekanisme ini demi stabilitas ekonomi regional dan global," tambahnya.

Kerjasakan Ekonomi dan Infrastruktur

Selain isu mata uang, Prabowo membahas potensi kerjasakan ekonomi antar negara BRICS dalam sektor infrastruktur dan energi. Indonesia menawarkan posisi geografis strategis sebagai pintu masuk ke Asia Pasifik serta kekayaan sumber daya alam yang melimpah. "Kita dapat menjadi pusat distribusi energi dan komoditas untuk BRICS dan negara-negara lain di kawasan," ujar presiden.

Dalam bidang energi terbarukan, Indonesia menyoroti potensi besar energi surya, angin, dan geothermal yang dapat dikembangkan melalui kerjasama teknologi dan investasi dari negara-negara BRICS. Prabowo mengajak para pemimpin BRICS untuk mempercepat transisi energi di negara-negara berkembang melalui transfer teknologi dan pendanaan yang memadai.

Stabilitas Regional dan Global

Prabowo juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas regional sebagai prasyarat untuk pertumbuhan ekonomi. Ia menyebutkan bahwa konflik di berbagai wilayah dunia, terutama di kawasan Asia Pasifik, dapat mengganggu rantai pasokan dan investasi. "Indonesia mendukung upaya diplomasi untuk menyelesaikan konflik secara damai dan berdasarkan hukum internasional," tegasnya.

Dalam konteks keamanan maritim, presiden menekankan perlunya kebebasan navigasi dan perdagangan di laut lepas. Indonesia dengan posisi sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki kepentingan strategis dalam menjaga stabilitas perairan regional. "Kita perlu memastikan bahwa selat-selat strategis di kawasan tetap terbuka dan aman bagi perdagangan global," jelasnya.

Tantangan Masa Depan

Meski berbagai upaya telah dilakukan, Prabowo mengakui tantangan besar yang dihadapi oleh BRICS dalam memperkuat peran ekonomi global. Ia menyoroti perlunya reformasi struktur dalam institusi keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia yang menurutnya masih didominasi oleh negara-negara maju. "Kita perlu representasi yang lebih seimbang dalam lembaga-lembaga multilateral untuk menciptakan sistem ekonomi global yang lebih adil," paparnya.

Presiden juga membahas isu perubahan iklim yang menurutnya menjadi ancaman serius bagi negara-negara berkembang. Indonesia mengajak negara-negara BRICS untuk memperkuat kerjasakan dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, terutama dalam penyediaan teknologi dan dana untuk negara-negara rentan dampak.

Penutup pidatonya, Prabowo menegaskan komitmen Indonesia untuk terus berkontribusi positif dalam BRICS dan menciptakan dunia yang lebih adil, sejahtera, dan berkelanjutan. "Indonesia percaya bahwa melalui dialog dan kerjasama, kita dapat mengatasi berbagai tantangan global yang ada," pungkasnya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Santoso

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter