28, 2026
Teknologi

Pertamina Siap Pimpin Pengembangan Ekosistem Carbon Capture Storage

PT Pertamina berkomitmen memimpin pengembangan CCS/CCUS di Indonesia untuk mencapai Net Zero Emission 2060. Fokus pada bisnis utama dan rendah karbon.]]>

Siti Rahma
Siti Rahma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Pertamina Siap Pimpin Pengembangan Ekosistem Carbon Capture Storage

Pertamina Siap Memimpin Pengembangan Ekosistem Carbon Capture Storage

PT Pertamina (Persero) menyatakan kesiapan untuk mengambil peran utama dalam pengembangan ekosistem carbon capture storage (CCS) di Indonesia. Teknologi tersebut menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan untuk menekan emisi karbon dari sektor energi dan industri, sekaligus mendukung pencapaian target penurunan emisi nasional.

CCS merupakan teknologi yang menangkap karbon dioksida (CO2) dari sumber emisi, seperti pembangkit listrik, fasilitas pengolahan minyak dan gas, serta industri berat. Karbon yang telah ditangkap kemudian dipisahkan, dikompresi, dan diangkut untuk disimpan di dalam formasi geologis tertentu, baik di daratan maupun lepas pantai. Penyimpanan dilakukan agar CO2 tidak dilepaskan kembali ke atmosfer.

Dalam pengembangan teknologi ini, Pertamina memiliki sejumlah modal strategis. Perusahaan memiliki pengalaman panjang di sektor minyak dan gas bumi, infrastruktur energi, jaringan operasional, serta sumber daya manusia yang memahami karakteristik bawah permukaan. Kemampuan tersebut dinilai dapat menjadi dasar untuk membangun rantai bisnis CCS secara terpadu, mulai dari penangkapan hingga penyimpanan karbon.

Peran Pertamina dalam Ekosistem CCS

Pengembangan CCS tidak hanya membutuhkan fasilitas penangkap karbon. Ekosistem tersebut juga mencakup penyediaan jaringan pengumpulan, sarana transportasi, terminal, fasilitas injeksi, serta lokasi penyimpanan yang memenuhi persyaratan teknis dan keselamatan. Karena itu, diperlukan koordinasi antara perusahaan energi, pemerintah, pelaku industri, lembaga penelitian, dan calon pengguna jasa penyimpanan karbon.

Pertamina berpotensi menjalankan peran sebagai pengembang sekaligus pengelola infrastruktur CCS. Perusahaan dapat memanfaatkan aset dan wilayah kerja yang telah tersedia untuk mengidentifikasi lokasi penyimpanan CO2. Sejumlah lapangan minyak dan gas yang telah memasuki tahap penurunan produksi juga berpeluang dikaji untuk penerapan teknologi carbon capture, utilization, and storage (CCUS), dengan tetap memperhatikan kelayakan teknis dan ekonomi.

Berbeda dengan CCS, CCUS membuka kemungkinan pemanfaatan kembali CO2 yang telah ditangkap. Karbon tersebut dapat digunakan dalam proses tertentu, termasuk kegiatan peningkatan produksi minyak atau kebutuhan industri lainnya. Namun, pemanfaatan CO2 harus dilakukan dengan perhitungan yang cermat agar manfaat pengurangan emisi tetap tercapai.

Pengembangan proyek CCS juga dinilai memiliki potensi lintas negara. Indonesia memiliki peluang untuk menjadi lokasi penyimpanan karbon bagi emisi yang berasal dari negara lain di kawasan Asia. Letak geografis Indonesia, ketersediaan cekungan sedimen, dan pengalaman industri hulu migas menjadi sejumlah faktor yang dapat mendukung peluang tersebut.

Tantangan Regulasi dan Investasi

Meski memiliki potensi besar, pengembangan ekosistem CCS menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kebutuhan investasi yang tinggi. Pembangunan fasilitas penangkapan, jaringan transportasi, dan tempat penyimpanan memerlukan modal besar serta kepastian mengenai penggunaan infrastruktur dalam jangka panjang.

Selain itu, proyek CCS membutuhkan kerangka regulasi yang jelas. Aturan tersebut mencakup perizinan, standar keselamatan, pemantauan lokasi penyimpanan, tanggung jawab terhadap potensi kebocoran, serta mekanisme penghitungan pengurangan emisi. Regulasi juga diperlukan untuk mengatur penyimpanan karbon lintas batas dan memastikan seluruh kegiatan berjalan sesuai dengan prinsip perlindungan lingkungan.

Kepastian hukum menjadi faktor penting bagi investor. Proyek CCS umumnya memiliki masa pengembangan yang panjang, sementara tingkat pengembaliannya sangat dipengaruhi oleh harga karbon, insentif pemerintah, serta komitmen industri dalam mengurangi emisi. Tanpa dukungan kebijakan yang konsisten, pelaku usaha akan menghadapi kesulitan dalam menyusun keputusan investasi.

Pemerintah sebelumnya telah mendorong penyusunan kebijakan mengenai CCS dan CCUS sebagai bagian dari strategi transisi energi. Kebijakan tersebut diharapkan dapat menciptakan landasan bagi pengembangan proyek domestik sekaligus membuka peluang kerja sama dengan perusahaan internasional.

Dukungan terhadap Target Emisi

Teknologi CCS dipandang relevan bagi Indonesia karena sebagian besar kegiatan ekonomi masih bergantung pada energi fosil. Sejumlah sektor, seperti industri semen, pengolahan migas, petrokimia, dan pembangkit listrik, menghasilkan emisi dalam jumlah besar. Pada beberapa sektor, pengurangan emisi melalui efisiensi energi atau penggunaan energi terbarukan belum sepenuhnya dapat dilakukan dalam waktu singkat.

Dalam kondisi tersebut, CCS dapat menjadi salah satu teknologi pelengkap. Teknologi ini tidak menggantikan pengembangan energi terbarukan, tetapi dapat digunakan untuk mengurangi emisi dari fasilitas yang masih beroperasi selama proses transisi energi berlangsung. Penerapannya harus ditempatkan dalam strategi yang lebih luas, yang juga mencakup konservasi energi, peningkatan efisiensi, pengembangan energi bersih, dan pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Pertamina menyatakan kesiapan untuk berkontribusi dalam upaya tersebut melalui pengembangan teknologi, infrastruktur, dan kolaborasi. Perusahaan perlu memastikan bahwa setiap proyek CCS didukung kajian menyeluruh mengenai kapasitas penyimpanan, risiko lingkungan, kelayakan komersial, serta manfaat bagi masyarakat.

Transparansi juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan proyek. Pemantauan terhadap lokasi penyimpanan perlu dilakukan secara berkala untuk memastikan CO2 tetap berada di dalam formasi geologis yang ditetapkan. Data terkait kinerja proyek, tingkat pengurangan emisi, dan aspek keselamatan perlu dilaporkan sesuai ketentuan yang berlaku.

Dengan pengalaman di sektor energi dan kemampuan mengelola proyek berskala besar, Pertamina memiliki peluang untuk memainkan peran penting dalam pengembangan CCS di Indonesia. Namun, keberhasilan program tersebut tetap bergantung pada sinergi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga riset, dan masyarakat. Pengembangan ekosistem CCS harus dilakukan secara bertahap, terukur, dan berlandaskan standar keselamatan serta perlindungan lingkungan.

Jika tantangan regulasi, teknologi, pembiayaan, dan penerimaan publik dapat diatasi, CCS berpotensi menjadi salah satu instrumen dalam memperkuat agenda dekarbonisasi Indonesia. Pertamina pun dapat berperan sebagai penggerak terbentuknya industri baru yang mendukung pengurangan emisi, tanpa mengabaikan kebutuhan akan transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Sumber: CNBC Indonesia

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Siti Rahma

Menarik pada topik kesehatan wanita, kehamilan, dan parenting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam
IKLAN SIDEBAR — SLOT AKTIF ✅
300x250 / responsif

Newsletter