BMKG Jelaskan Pemicu Gempa Dangkal M4,3 yang Goyang Cianjur-Jakarta
Gempa bumi dengan magnitudo 4,3 yang mengguncang wilayah Cianjur, Jawa Barat hingga terasa di Jakarta pada Rabu (24/5/2023) disebutkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai gempa dangkal. Gempa ini terjadi pada pukul 10:51 WIB dengan kedalaman 10 kilometer dan berpusat di darat 18 kilometer barat daya Kabupaten Cianjur.
Kepala Pusat Gempa, Tsunami, dan Gunung Berapi BMKG Daryono menjelaskan bahwa gempa ini merupakan jenis gempa dangkal yang disebabkan oleh aktivitas sesar lokal. "Gempa ini terkait dengan aktivitas sesar lokal yang ada di wilayah Cianjur. Sesar yang menjadi pemicu gempa ini adalah bagian dari sistem Sesar Cimandiri yang aktif," ujar Daryono dalam keterangannya.
Sesar Cimandiri sendiri merupakan salah satu sistem sesar aktif di Jawa Barat yang membentang dari arah utara-tenggara menuju selatan-barat daya. Sesuai mekanisme sesarnya, gempa ini bersifat geser (strike-slip) yang ditandai dengan gerakan horizontal pada bidang vertikal sesar.
Karakteristik Gempa Dangkal
Daryono menjelaskan bahwa gempa dengan karakteristik dangkal seperti yang terjadi di Cianjur umumnya dirasakan lebih kuat di permukaan meskipun magnitudonya tidak terlalu besar. "Kedalaman yang dangkal membuat energi gempa lebih terfokus di permukaan sehingga getarannya terasa lebih kuat," jelasnya.
Gempa ini juga memiliki durasi yang relatif singkat namun intensitasnya cukup signifikan. BMKG mencatat gempa ini dirasakan di wilayah Cianjur dengan skala MMI (Modified Mercalli Intensity) V (sedang) hingga VI (cukup kuat). Getaran gempa juga terasa di beberapa wilayah Jakarta seperti Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan sekitarnya dengan intensitas MMI II-IV (ringan hingga sedang).
Tidak Berpotensi Tsunami
BMKG menyatakan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami. Kriteria gempa yang berpotensi tsunami umumnya memiliki magnitudo di atas 6,5 dan kedalaman kurang dari 30 kilometer dengan pusat gempa di laut. "Meskipun terjadi di darat, gempa ini memiliki magnitudo dan kedalaman yang tidak memenuhi kriteria untuk potensi tsunami," jelas Daryono.
Untuk wilayah pesisir Jawa Barat, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada namun tidak perlu panik. "Waspada terhadap potensi gempa susulan yang mungkin terjadi dalam beberapa hari ke depan," tambahnya.
Dampak dan Kondisi Pasca Gempa
Menurut laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, gempa ini tidak menyebabkan korban jiwa namun beberapa bangunan mengalami kerusakan ringan. Beberapa rumah warga dan fasilitas umum seperti sekolah mengalami retak-retak pada dinding dan atap.
Kepala BPDP Cianjur, Eka Fajar Hendrawan, mengatakan tim sudah melakukan pengecekan di beberapa titik yang dilaporkan mengalami kerusakan. "Kerusanan yang terjadi masih dalam kategori ringan. Tim kami terus melakukan monitoring untuk memastikan tidak ada korban atau kerusakan yang lebih parah," ujar Eka.
Warga di sekitar pusat gempa dilaporkan mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman. Namun, situasi di wilayah tersebut telah kembali normal dan warga mulai kembali ke rumah masing-masing.
Upaya Pemantauan dan Siaga Dini
BMKG terus memantau aktivitas gempa di wilayah Cianjur dan sekitarnya secara real-time. "Kami telah mengaktifkan sistem pemantauan gempa 24 jam untuk memantau aktivitas sesar dan potensi gempa susulan," kata Daryono.
BMKG juga berkoordinasi dengan BPBD dan pemerintah daerah setempat untuk memberikan informasi terkait dampak gempa dan arahan kepada masyarakat. "Masyarakat diminta untuk tetap tenang dan mengikuti anjuran dari pihak berwenang," tambahnya.
Dalam jangka panjang, BMKG menekankan pentingnya peningkatan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana gempa. "Kami terus melakukan sosialisasi dan pelatihan penanggulangan bencana gempa di berbagai daerah, termasuk di wilayah Cianjur yang berada di sekitar zona sesar aktif," ujar Daryono.
Dengan adanya gempa ini, BMKG kembali mengingatkan pentingnya membangun bangunan tahan gempa. "Bangunan yang memenuhi standar keamanan gempa sangat penting untuk mengurangi risiko kerusakan dan korban saat gempa terjadi," pungkasnya.
Komentar (0)