29, 2026
Nasional

Muktamar NU Belum Putuskan Cara Pilih Ketum

Kirana Kusuma
Kirana Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Muktamar NU Belum Putuskan Cara Pilih Ketum

Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Lampung belum memutuskan mekanisme pemilihan Ketua Umum (Ketum) organisasi Islam terbesar di Indonesia ini. Sidang pleno muktamar yang berlangsung selama tiga hari ini berfokus pada berbagai isu strategis, namun belum mencapai kesepakatan mengenai sistem pemimpin baru yang akan menggantikan Kyai Hajj Ahmad Bagja yang menjabat sejak 2010.

Ketua Panitia Muktamar NU, KH. Yahya Cholil Staquf, mengatakan bahwa masih ada beberapa opsi yang sedang dibahas terkait mekanisme pemilihan Ketum. "Masih ada beberapa alternatif yang sedang dipertimbangkan, mulai dari pemilihan langsung oleh para peserta muktamar hingga sistem musyawarah untuk mencapui kesepakatan," ujar Yahya dalam konferensi pers usai sidang pleno terakhir.

Beberapa Opsi Mekanisme Pemilihan

Selama muktamar berlangsung, terdapat tiga opsi mekanisme pemilihan Ketum yang menjadi perdebatan. Pertama, pemilihan langsung oleh seluruh peserta muktamar yang terdiri dari ribuan pengurus dari berbagai tingkat, mulai dari pengurus ranting hingga pengurus pusat. Opsi ini mendapat dukungan dari sebagian peserta yang menginginkan proses yang lebih demokratis dan transparan.

Kedua, sistem pemilihan melalui perwakilan dari setiap wilayah yang tergabung dalam Pengurus Wilayah (PW) NU se-Indonesia. Dalam sistem ini, setiap PW akan memilih seorang perwakilan yang akan memberikan suara dalam pemilihan Ketum. Opsi ini dianggap lebih praktis dan efisien mengingat jumlah peserta yang sangat besar.

Ketiga, sistem musyawarah yang melibatkan para kiai senior dan pengurus pusat untuk mencapai kesepakatan terkait calon Ketum. Sistem ini sejalan dengan tradisi NU yang menekankan nilai-nilai musyawarah mufakat. Namun, opsi ini mendapat kritikan dari kalangan yang menginginkan perubahan dalam proses pengambilan keputusan.

Reaksi dari Berbagai Kalangan

Ketua Umum NU saat ini, KH. Ahmad Bagja, menyatakan bahwa ia menghormati berbagai pendapat yang muncul dalam muktamar. "NU adalah organisasi yang besar dan dinamis. Proses musyawarah ini membutuhkan waktu untuk mencapai kesepakatan yang terbaik," ujarnya.

Sejumlah kiai senior juga memberikan pandangannya mengenai isu ini. KH. Ma'ruf Amin, Wakil Presiden Indonesia dan juga salah satu kiai senior NU, menyarankan untuk mempertahankan sistem musyawarah mufakat. "Sistem ini telah terbukti efektif dalam mempertahankan keutuhan NU," katanya.

Di sisi lain, kalangan muda NU cenderung mendukung sistem pemilihan langsung. "Kita harus mengikuti perkembangan zaman. Sistem pemilihan langsung akan membuat proses lebih transparan dan akuntabel," ujar salah satu perwakilan pemuda NU.

Tantangan di Depan

Muktamar NU juga dihadapkan pada tantangan dalam menentukan masa jabatan Ketum yang baru. Beberapa peserta mengusulkan untuk membatasi masa jabatan Ketum maksimal dua periode demi menghindari konsentrasi kekuasaan. Namun, ada pula yang mengusulkan untuk tetap mempertahankan sistem yang berlaku saat ini.

Selain itu, isu kontestasi calon Ketum juga menjadi perbincangan. Beberapa nama telah disebut-sebut sebagai calon potensial, termasuk KH. Yahya Cholil Staquf, KH. Hasyim Muzadi, dan beberapa kiai lainnya. Namun, hingga muktamar usai, belum ada kepastian mengenai siapa yang akan menjadi calon.

Ketua Panitia Muktamar menegaskan bahwa proses musyawarah akan berlanjus setelah muktamar usai. "Kami akan membentuk tim khusus yang akan menyelesaikan isu pemilihan Ketum. Hasilnya akan diumumkan dalam waktu dekat," tambahnya.

Muktamar NU sendiri dihadiri oleh ribuan peserta dari seluruh Indonesia bahkan dari luar negeri. Acara ini dihadiri juga oleh Presiden Joko Widodo dan sejumlah menteri kabinet. Muktamar diharapkan mampu menghasilkan keputusan strategis untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi NU dan umat Islam di Indonesia.

Sebagai organisasi dengan jumlah pengikut terbesar di Indonesia, NU memainkan peran penting dalam berbagai isu nasional. Keputusan mengenai pemimpin baru diharapkan mampu mempertahankan eksistensi organisasi sekaligus menjawab tantangan zaman.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Kusuma

Peliput olahraga nasional dan perkembangan liga domestik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam
IKLAN SIDEBAR — SLOT AKTIF ✅
300x250 / responsif

Newsletter