18, 2026
Teknologi

Mahasiswa Universita Brawijaya Lompat dari Lantai 6 Diduga Hendak Bunuh Diri

Mahasiswa FK UB berinisial RR mencoba bunuh diri dengan melompat dari lantai 6. Korban kini dalam perawatan intensif setelah operasi.]]>

Tania Sari
Tania Sari Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Mahasiswa Universita Brawijaya Lompat dari Lantai 6 Diduga Hendak Bunuh Diri

Mahasiswa Universitas Brawijaya Tewas Setelah Lompat dari Lantai 6 Gedung

Seorang mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) meninggal dunia setelah dilaporkan lompat dari lantai enam sebuah gedung di kampus Universitas Brawijaya, Malang. Peristiwa tragis ini terjadi pada Rabu (15/3) sekira pukul 10.30 WIB. Korban yang diketahui bernama Ahmad Zaky (20), mah semester 5 program studi Teknik Informatika ini ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di halaman depan gedung yang bersangkutan.

Kepala Polresta Malang Kombes Pol. Aris Purnawan mengatakan bahwa informasi awal menyebutkan korban melakukan tindakan bunuh diri. "Berdasarkan keterangan saksi mata, korban terlihat berdiri di balkon lantai enam sebelum akhirnya melompat ke bawah," ujar Aris Purnawan saat dikonfirmasi.

Menurut Aris, pihaknya telah menerima laporan tentang peristiwa tersebut dan langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Tim identifikasi Polresta Malang juga turun untuk melakukan proses visum et repertum (Viper) terhadap jenazah korban. "Kami masih melakukan pengembangan untuk mencari tahu motif di balik tindakan korban. Keluarga korban juga sudah kami hubungi," tambahnya.

Kronologi dan Respons Kampus

Sumber dari pihak kampus menyebutkan bahwa korban terlihat mencurigakan sebelum peristiwa terjadi. Beberapa teman sejawat korban melihat korban terlihat cemas dan rewel di pagi hari sebelum peristiwa terjadi. "Korban sempat berbincang singkat dengan temannya sebelum akhirnya pergi menuju gedung tersebut," ujar seorang sumber yang tidak mau disebutkan namanya.

Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Brawijaya, Rizky Pratama, mengaku prihatin dengan kejadian yang menimpa rekan sejawatnya. Pihak BEM UB segera melakukan koordinasi dengan pihak kampus untuk membantu proses penanganan jenazah dan memberikan dukungan psikologis kepada teman-teman korban.

"Kami telah membentuk tim khusus untuk memberikan dukungan psikologis kepada teman-teman korban yang terdampak. Selain itu, kami juga akan berkoordinasi dengan pihak keluarga korban untuk membantu segala kebutuhan proses pemakaman," ujar Rizky.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Universitas Brawijaya, Dr. Budi Santoso, mengatakan pihak kampus sedang berduka atas kepergian mahasiswanya. Pihaknya menegakan akan memberikan bantuan dan dukungan penuh kepada keluarga korban.

"Universitas Brawijaya menyampaikan ucapan duka yang mendalam atas kepergian mahasiswa kita. Kami akan memberikan bantuan psikologis dan spiritual kepada keluarga korban serta rekan-rekan sejawat korban yang terdampak," ujar Budi.

Isu Depresi Akademik

Beberapa teman dekat korban menyebutkan bahwa korban sempat mengeluhkan beban akademik yang berat dalam beberapa pekan terakhir. "Korban sempat mengeluhkan tugas-tugas yang menumpuk dan deadline yang sangat padat. Namun, kami tidak menyangka hal seperti ini bisa terjadi," ujar seorang temat dekat korban yang enggan disebutkan namanya.

Seorang psikolog dari Universitas Brawijaya, Dr. Fitri Handayani, mengatakan bahwa tekanan akademik memang bisa menjadi salah satu pemicu stress parah pada mahasiswa. "Ketidakmampuan mengelola stress dengan baik bisa berdampak buruk pada kesehatan mental mahasiswa. Penting bagi kampus untuk memberikan ruang yang aman bagi mahasiswa untuk menyampaikan keluhannya," kata Fitri.

Seiring dengan perkembangan informasi, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui motif pasti di balik tindakan korban. Jenazah korban telah diserahkan kepada keluarga untuk dilakukan pemakaman sesuai ritual agama yang dianut.

Universitas Brawijaya sendiri menyatakan akan melakukan evaluasi internal terkait layanan bimbingan dan konseling yang disediakan bagi mahasiswa. Pihak berencana mengintensifkan program-program kesehatan mental dan meningkatkan akses layanan konseling bagi mahasiswa.

Kasus ini menunjukkan pentingnya perhatian terhadap isu kesehatan mental mahasiswa, terutama dalam menghadapi tekanan akademik dan kehidupan kampus yang semakin kompetitif. Banyak pihak berharap kejahan tragis ini menjadi pelajaran bagi seluruh komponen kampus untuk lebih memperhatikan kesejahteraan mahasiswa.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Tania Sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter