19, 2026
Teknologi

Kondisi Udara Jakarta Usai Penyiraman Abu Anak Krakatau

Dewi Lestari
Dewi Lestari Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Kondisi Udara Jakarta Usai Penyiraman Abu Anak Krakatau

Sejak beberapa hari terakhir, Jakarta dan sekitarnya mengalami peningkatan kualitas udara yang signifikan akibat penyiraman abu dari Gunung Anak Krakatau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa partikel debu vulkanik telah menyebar luas mencapai wilayah ibu kota, menyebabkan konsentrasi Particulate Matter (PM) 10 melonjak drastis.

Peningkatan Konsentrasi Partikel Debu

Data monitoring BMKG menunjukkan bahwa konsentrasi PM10 di beberapa titik di Jakarta telah melampahi ambang batas yang ditetapkan, yaitu 150 mikrogram per meter kubik. Pada hari Kamis (15/9), stasiun monitoring di Kelapa Gingga mencatat konsentrasi PM10 mencapai 287 mikrogram/m³, sementara di Cilincing tercatat sebesar 265 mikrogram/m³. Angka ini jauh di atas ambang batas yang aman bagi kesehatan.

Kepala Bidang Klimatologi BMKG, Mulyono R. Prabowo, menjelaskan bahwa sumber utama polusi udara saat ini berasal dari abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terbawa angin dan menyebar ke wilayah Jakarta dan sekitarnya. "Kondisi ini dipengaruhi oleh arah angin yang bertiup dari selatan ke utara pada malam hari, membawa partikel debu vulkanik menuju Jakarta," ujarnya.

Dampak Kesehatan Masyarakat

Peningkatan partikel debu vulkanik ini berpotensi memberikan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru-paru kronis. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Maxi Rein Rondonuwu, mengimbau masyarakat untuk mengambil langkah pencegahan.

Rumah Sakit Siloam Kemayoran melaporkan peningkatan pasien dengan gejala gangguan pernapasan sejak penyiraman abu terjadi. "Kami mencatat ada peningkatan sekitar 30% pasien dengan keluhan batuk, sesak napas, dan iritasi mata sejak Rabu lalu. Mayoritas pasien adalah anak-anak dan lanjut usia," ujar Kepala Unit Gawat Darurat RS Siloam Kemayoran, dr. Ahmad Fauzi.

Respons Pemerintah dan Upaya Mitigasi

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengambil sejumlah langkah mitigasi untuk mengatasi dampak peningkatan kualitas udara ini. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria, menyatakan bahwa pemerintah telah mengaktifkan posko pengendalian pencemaran udara di 10 wilayah di Jakarta.

"Kami telah memantau perkembangan kondisi udara secara berkala. Selain itu, kami juga telah membagikan masker secara gratis kepada masyarakat di beberapa titik rawan pencemaran. Kami juga berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau perkembangan cuaca dan arah angin," jelas Riza.

Untuk mengurangi konsentrasi partikel debu di udara, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga telah melakukan penyiraman air di beberapa jalan utama dan area terbuka. "Penyiraman air bertujuan untuk menurunkan partikel debu yang mengendap di permukaan tanah dan mencegahnya terbawa angin kembali ke udara," tambahnya.

Kondisi Terkini dan Proyeksi

Saat ini, BMKG mencatat bahwa kondisi udara di Jakarta mulai membaik meskipun konsentrasi PM10 masih di atas ambang batas. "Arah angin mulai berganti dari timur ke barat, yang berarti partikel debu dari Anak Krakatau mulai berkurang pengaruhnya di Jakarta. Namun, kami tetap memantau perkembangannya secara ketat," ujar Mulyono.

Berdasarkan proyeksi cuaca, BMKG memperkirakan kondisi serupa akan berlangsung selama beberapa hari kecuali terjadi perubahan signifikan pada pola angin atau terjadi letusan lebih besar dari Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti anjuran pemerintah terkait kesehatan.

Sementara itu, Gunung Anak Krakatau terus dipantau oleh PVMBG. Pihak belum menaikkan status gunung tersebut dari level II (Waspada) namun tetap melakukan pengawasan intensif terhadap aktivitas vulkaniknya. "Kami terus memantau gempa vulkanik, deformasi permukaan, dan emisi gas di Gunung Anak Krakatau. Saat ini aktivitasnya masih dalam kondisi normal setelah letusan pada Rabu lalu," jelas Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG), Hendra Gunawan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dewi Lestari

Penulis kesehatan & nutrisi. Fokus pada topik gizi keluarga dan pola hidup sehat alami.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter