KYIV — Para pemimpin negara pendukung Ukraina dijadwalkan berkumpul di ibu kota Ukraina pada pekan ini dalam pertemuan Koalisi Negara yang Bersedia (Coalition of the Willing), yang digelar di tengah eskalasi perang paling mematikan dalam beberapa bulan terakhir.
Pertemuan itu akan dipimpin bersama oleh pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman. Perdana Menteri Inggris Andy Burnham dijadwalkan berada di Kyiv dalam kunjungan luar negeri pertamanya sejak menjabat, sementara sejumlah pemimpin negara lain diharapkan bergabung secara daring. Presiden Dewan Eropa, Antonio Costa, juga dijadwalkan hadir dalam pembicaraan yang berfokus pada penguatan dukungan militer dan pertahanan udara Ukraina.
Poin-poin penting
- Pertemuan dipimpin bersama oleh Inggris, Prancis, dan Jerman, dengan sejumlah pemimpin lain bergabung secara daring.
- Rusia menggempur Kyiv dengan rudal balistik; korban sipil mencapai level tertinggi sejak awal invasi 2022.
- Ukraina membalas dengan menyerang gudang-gudang logistik Ozon di Rusia selatan.
- Senin (24/8) menjadi Hari Kemerdekaan Ukraina sekaligus tepat 4,5 tahun invasi Rusia.
Serangan Rusia kian mematikan
Agenda pertemuan berlangsung di tengah gelombang serangan Rusia yang kian mematikan. Dalam beberapa pekan terakhir, Rusia menggempur Kyiv dengan rudal balistik yang merobek bangunan-bangunan apartemen dan menewaskan puluhan warga sipil. Jumlah korban sipil kini disebut mencapai level tertinggi sejak bulan-bulan awal invasi Rusia pada Februari 2022.
Hampir setiap kali sirene serangan berbunyi, puluhan ribu warga berlindung di stasiun-stasiun metro Kyiv, sementara lebih banyak lagi mengungsi di ruang bawah tanah dan tempat perlindungan lain di berbagai penjuru kota. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pun berulang kali menyampaikan permohonan terbuka kepada sekutu untuk mengirim lebih banyak sistem pertahanan udara.
Kebutuhan itu dinilai mendesak karena persediaan amunisi pertahanan udara Ukraina dilaporkan semakin menipis di tengah gempuran bertubi-tubi. Sistem seperti Patriot dan IRIS-T disebut menjadi andalan utama untuk mencegat rudal balistik Rusia. Para analis menilai kemampuan Ukraina mempertahankan langitnya dalam beberapa bulan ke depan akan sangat menentukan jalannya perang.
Ukraina balas dengan serangan ke logistik Rusia
Di sisi lain, Ukraina terus melanjutkan kampanye serangan terhadap instalasi logistik dan infrastruktur militer Rusia. Menjelang pertemuan para pemimpin itu, Ukraina menghantam sejumlah gudang milik raksasa e-commerce Rusia, Ozon. Perusahaan itu melaporkan kebakaran di gudang-gudangnya di Krasnodar dan Makhachkala, dua kota di Rusia selatan, pada Senin pagi. Fasilitas Ozon di Adygeysk dan Nevinnomyssk juga dievakuasi karena ancaman serangan drone.
Otoritas Rusia menyatakan puing-puing dari serangan drone Ukraina menewaskan dua anak dan melukai sembilan orang lainnya. Moskow secara rutin menuduh Kyiv menargetkan warga sipil, sementara Ukraina menegaskan serangannya hanya menyasar infrastruktur yang menopang militer Rusia.
Senin (24/8) menandai Hari Kemerdekaan Ukraina, sekaligus tepat empat setengah tahun sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh pada 24 Februari 2022.
“Rusia tidak perlu meragukan tekad kami,” ujar Burnham dalam pernyataan sebelum tiba di Kyiv. “Kami tidak akan mundur sampai tercipta perdamaian yang adil dan langgeng.”
Dampak bagi warga Papua Barat
Meski berlangsung ribuan kilometer dari Indonesia, perang di Ukraina tetap terasa dampaknya bagi warga Papua Barat. Gangguan rantai pasok gandum dan energi dunia akibat konflik ini ikut mendorong kenaikan harga pangan dan bahan bakar, yang pada akhirnya membebani biaya hidup masyarakat di tanah Papua yang sangat bergantung pada barang impor. Kenaikan harga kebutuhan pokok pun kerap langsung terasa di pasar-pasar tradisional di kota-kota seperti Manokwari, Sorong, dan Fakfak.
Selain itu, sikap Indonesia yang konsisten menyerukan perdamaian dan mengedepankan jalur diplomasi menjadi perhatian warga Papua Barat yang mengikuti perkembangan konflik. Pertemuan para pemimpin di Kyiv kali ini juga dinilai menjadi ujian kesatuan negara-negara Barat dalam mempertahankan dukungan jangka panjang kepada Ukraina di tengah tanda-tanda kelelahan perang.
Komentar (0)