03, 2026
Nasional

Kepala BGN Ungkap Kronologi Ratusan Santri di Sidoarjo Keracunan MBG

Budi Santoso
Budi Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Ratusan Santri di Sidoarjo Keracunan Makanan, BGN Ungkap Kronologi Lengkap

Puluhan santri di Pondok Pesantren Al-Hidayah, Sidoarjo, Jawa Timur, mengalami keracunan makanan berat (MBG) setelah mengonsumsi makanan dari katering sekolah. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BGN) telah mengungkapkan kronologi lengkap insiden yang terjadi pada Rabu (15/3) lalu ini. Menurut Kepala BGN, dr. Rizal, insiden ini berawal dari penyediaan makanan pagi yang disiapkan oleh katering untuk para santri.

Makanan yang Dikonsumsi Santri

Kronologi keracunan dimulai ketika ratusan santri di pesantren tersebut mengonsumsi makanan pagi yang terdiri dari nasi, telur dadar, sayur lodeh, dan tempe goreng. Makanan ini disiapkan oleh katering yang biasa bekerja sama dengan pesantren. Beberapa jam setelah makan, puluhan santri mulai mengeluhkan gejala mabuk makanan seperti mual, muntah, diare, dan demam.

"Awalnya ada sekitar 20 santri yang mengeluh gejala yang sama. Namun dalam waktu singkat, jumlahnya terus bertambah hingga mencapai lebih dari 100 orang," jelas Rizal dalam konferensi pers di Kantor BGN Surabaya, Kamis (16/3).

Reaksi Cepat Pihak Pesantren

Mengetahui kondisi para santri, pihak pesantren langsung melakukan penanganan awal. Para santri yang mengalami gejala langsung dibawa ke puskesmas terdekat untuk mendapat perawatan medis. Beberapa di antaranya dalam kondisi cukup memprihatinkan sehingga memerlukan perawatan intensif.

"Kami segera menghubungi pihak kesehatan setelah melihat banyak santri yang jatuh sakit secara bersamaan. Tim medis dari puskesmas dan RSUD sekitar segera datang untuk membantu," ujar Kepala Pondok Pesantren Al-Hidayah, H. Ahmad Fauzi.

Hasil Investigasi BGN

Setelah melakukan investigasi, tim BGN menemukan beberapa hal mencurigakan dari makanan yang disajikan. Hasil uji laboratorium sementara menunjukkan adanya bakteri Staphylococcus aureus dalam sampel makanan yang dikumpulkan dari lokasi kejadian.

"Bakteri ini biasanya ditemukan pada makanan yang tidak diolah dengan baik atau tidak disimpan pada suhu yang tepat. Kami masih melakukan serangkaian tes untuk memastikan apakah ada kontaminasi lainnya," jelas Rizal.

BGN juga telah mengambil sampel bahan baku makanan dari katering tersebut. Selain itu, tim juga memeriksa proses pengolahan dan penyimpanan makanan di tempat katering. Hasil sementara menunjukkan beberapa pelanggaran dalam prosedur kebersihan dan pengolahan makanan.

Tindakan yang Diambil

BGN telah segera menghentikan operasional katering tersebut sementara menunggu hasil investigasi lengkap. Selain itu, pihak katering diminta untuk menunjukkan izin usaha dan sertifikasi kebersihan makanan yang dimiliki.

"Kami akan memberikan sanksi tegas jika terbukti katering melanggar standar keamanan pangan. Sanksi yang bisa diberikan mulai dari peringatan hingga pencabutan izin usaha," tegas Rizal.

Sementara itu, pemerintah daerah setempat juga turun tangan. Dinas Kesehatan dan Dinas Perizinan Usaha Industri dan Perdagangan (Disperindag) melakukan inspeksi mendadak ke berbagai katering di wilayah Sidoarjo untuk memastikan kepatuhan terhadap standar keamanan pangan.

Kasus Serupa di Wilayah Lain

Insiden keracunan makanan di pesantren Al-Hidayah bukanlah kasus pertama di Sidoarjo. Dalam tiga bulan terakhir, sudah tercatat tiga insiden serupa di beberapa sekolah dan lembaga pendidikan di kota itu. BGN mengaku sedang memperdalam investigasi untuk mengetahui apakah ada pola atau penyedia katering yang sama terlibat dalam insiden tersebut.

"Kami meminta kepada semua pihak, terutama lemb pendidikan, untuk lebih selektif dalam memilih penyedia jasa katering. Keamanan pangan itu prioritas utama," tambah Rizal.

Saat ini, kondisi mayoritas santri yang keracunan sudah membaik. Mereka masih menjalani perawatan hingga semua gejala benar-benar hilang. Pihak pesantren bersama pemerintah setempat sedang menyiapkan bantuan untuk menutup biaya pengobatan para santri yang terkena dampak.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Budi Santoso

Penulis kesehatan pria dan pencegahan penyakit degeneratif.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter