JAMBI – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kota Jambi dan sejumlah wilayah di Provinsi Jambi dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut membuat jarak pandang di berbagai titik turun drastis, terutama pada pagi dan malam hari. Akibatnya, aktivitas warga, operasional transportasi udara, hingga layanan kesehatan mulai mengalami gangguan.
Kondisi Terkini Kabut Asap di Kota Jambi
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Thaha Jambi menyebutkan jarak pandang di kawasan perkotaan tercatat menurun hingga di bawah satu kilometer pada pagi hari. Menurutnya, kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi berasal dari titik-titik panas yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di Provinsi Jambi, serta kiriman asap dari provinsi tetangga yang terbawa angin.
Berdasarkan pantauan satelit, jumlah titik panas di wilayah Jambi meningkat signifikan dalam sepekan terakhir, seiring puncak musim kemarau yang membuat lahan gambut kering dan mudah terbakar. Beberapa faktor dinilai memperparah kondisi kabut asap di daerah ini:
- Musim kemarau berkepanjangan yang membuat lahan gambut kering dan rawan terbakar;
- Pembukaan lahan dengan cara membakar yang masih terjadi di sejumlah lokasi;
- Perubahan arah angin yang membawa asap dari lokasi kebakaran hingga ke pusat kota.
Kualitas udara di Kota Jambi pun ikut memburuk. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) pada sejumlah titik pemantauan menunjukkan kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Warga, terutama anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya, diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan serta menggunakan masker untuk melindungi saluran pernapasan.
Dampak terhadap Transportasi, Kesehatan, dan Pendidikan
Menurunnya jarak pandang turut memengaruhi operasional Bandara Sultan Thaha Jambi. Sejumlah jadwal penerbangan sempat mengalami penundaan karena jarak pandang yang tidak memenuhi standar keselamatan penerbangan. Di sisi lain, warga mulai merasakan dampak kesehatan berupa iritasi mata, batuk, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Kondisi kabut asap juga berdampak pada sektor pendidikan serta transportasi darat dan sungai. Sejumlah langkah antisipasi dilakukan oleh masyarakat dan instansi terkait:
- Kegiatan belajar mengajar di sejumlah sekolah mengurangi aktivitas luar ruangan dan olahraga;
- Pelayanan kapal penyeberangan di pelabuhan sempat dibatasi saat kabut paling pekat;
- Kunjungan pasien ISPA ke puskesmas di Kota Jambi meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Upaya Penanganan dan Imbauan kepada Warga
Pemerintah Provinsi Jambi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, dan Manggala Agni terus melakukan pemadaman serta patroli terpadu di kawasan rawan karhutla. Berbagai upaya dilakukan untuk menekan penyebaran asap dan memulihkan kualitas udara:
- Operasi teknologi modifikasi cuaca untuk menciptakan hujan buatan;
- Water bombing atau pemadaman dari udara di lokasi kebakaran;
- Pembasahan lahan gambut dan pembangunan sekat kanal di kawasan rawan.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi menegaskan bahwa status siaga darurat karhutla tetap diberlakukan hingga kondisi dipastikan membaik. Ia menambahkan, masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api di lingkungan sekitar.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Jambi menambahkan bahwa pemantauan kualitas udara terus dilakukan dan hasilnya akan diumumkan kepada publik secara berkala. Warga diimbau memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak minum air putih, dan menjaga daya tahan tubuh selama musim kabut.
Hingga berita ini ditulis, kabut asap masih menyelimuti sebagian wilayah Kota Jambi. Pemerintah daerah berharap hujan dapat segera turun untuk membantu memulihkan kualitas udara dan mengakhiri musim kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan tersebut.