01, 2026
Teknologi

Iran Terjepit: Ekspor-Impor Anjlok 35%, AS Mulai Putus Jalur Dolar

Perdagangan Iran turun hingga 35%. Di tengah dorongan mengurangi ketergantungan dolar, AS mengancam memutus akses dolar Banque Misr UAE.]]>

Rizki Setiawan
Rizki Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Iran Terjepit: Ekspor-Impor Anjlok 35%, AS Mulai Putus Jalur Dolar

Iran Terjepit: Ekspor-Impor Anjlok 35%, AS Mulai Putus Jalur Dolar

Ekspor dan impor Iran mengalami penurunan drastis sebesar 35% akibat sanksi ekonomi yang diterapkan Amerika Serikat. Data resmi menunjukkan bahwa perdagangan internasional negara Timur Tengah ini terus menurun sejak AS menarik diri dari kesepakatan nuklir tahun 2018.

Menurut laporan terbaru dari Organisasi Perdagangan Iran, nilai total ekspor dan impor negara tersebut pada semester pertama tahun 2023 mencapai hanya 35 miliar dolar AS, turun dari 54 miliar dolar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini berdampak signifikan terhadap perekonomian Iran yang sudah terbebani oleh sanksi internasional selama bertahun-tahun.

Dampak Sanksi Terhadap Perekonomian Iran

Sanksi Amerika Serikat telah mempersempit akses Iran terhadap sistem keuangan global, terutama dalam transaksi menggunakan dolar AS. Bank-bank internasional enggan berurusan dengan Iran karena takut mendapat sanksi dari Washington. Situasi ini memaksa Iran mencari alternatif untuk menjalankan perdagangan internasionalnya.

Industri minyak, sumber utama devisa Iran, terdampak paling parah. AS telah menargetkan ekspor minyak Iran dengan memberikan kelonggaran sanksi hanya untuk beberapa negara pembeli tertentu, tetapi banyak negara yang enggan mengambil risiko untuk membeli minyak Iran karena takut dijatuhi sanksi.

Selain minyak, sektor lain seperti pertanian, manufaktur, dan teknologi juga mengalami penurunan signifikan. Banyak perusahaan multinasional yang memutuskan hubungan bisnis dengan Iran karena tekanan politik dari Amerika Serikat.

Strategi Iran Menghadapi Sanksi

Sebagai respons terhadap sanksi ekonomi, Iran telah berupaya mencari mitra dagang baru terutama dari negara-negara yang tidak terlalu terpengaruh oleh kebijakan luar negeri AS. Negara-negara seperti Cina, Rusia, India, dan Turki menjadi mitra dagang utama Iran dalam beberapa tahun terakhir.

Iran juga bergerak untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dengan meningkatkan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral. Beberapa negara seperti India dan Turki telah setuju untuk melakukan pembayaran dalam mata uang lokal atau menggunakan sistem barter untuk komoditas tertentu.

Selain itu, Iran juga mengembangkan koridor transportasi baru untuk menghubungkan diri dengan negara-negara tetangga dan Asia Tengah. Proyek seperti koridor transportasi Laut Kaspia dan jalur kereta api ke Asia Tengah diharapkan dapat meningkatkan konektivitas ekonomi Iran dengan dunia luar tanpa melalui jalur yang dikendalikan AS.

Reaksi Internasional dan Dampak Geopolitik

Sanksi ekonomi Amerika Serikat terhadap Iran telah memicu berbagai reaksi dari komunitas internasional. Beberapa negara, termasuk sekutu erat AS seperti Eropa, menyatakan keprihatinan terhadap dampak sanksi terhadap rakyat Iran. Uni Eropa bahkan telah mencoba mengembangkan mekanisme pertukaran khusus (INSTEX) untuk memfasilitasi perdagangan dengan Iran tanpa melalui sistem keuangan AS.

Di sisi lain, negara-negara seperti Cina dan Rusia secara terang-terangan menentang sanksi unilateral AS dan terus memperkuat hubungan ekonomi dengan Iran. Kerja sama militer dan teknologi antara ketiga negara juga telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir sebagai bentuk perlawanan terhadap pengaruh AS di kawasan tersebut.

Penurunan aktivitas ekspor-imor Iran juga berdampak pada stabilitas kawasan Timur Tengah. Negara-negara tetangga seperti Irak dan Turki, yang memiliki hubungan ekonomi erat dengan Iran, juga merasakan dampak dari penurunan perdagangan dengan Iran.

Masa Depan Ekonomi Iran

Eksper memprediksi bahwa tantangan ekonomi Iran akan berlanjut selama AS tetap menerapkan sanksi yang ketat. Namun, Iran terus berupaya untuk beradaptasi dan menemukan celah dalam sistem sanksi untuk menjalankan perekonomiannya.

Pemerintah Iran telah mengumumkan berbagai kebijakan ekonomi dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor minyak dan mengembangkan sektor non-minyak. Upaya ini mencakup promosi investasi dalam negeri, pengembangan industri domestik, dan peningkatan kerja sama dengan negara-negara BRICS dan organisasi ekonomi regional lainnya.

Sementara itu, isu nuklir Iran tetap menjadi titik ketegangan internasional. Meski Iran menyatakan program nuklirnya bersifat damai, AS dan beberapa negara Barat tetap curiga akan maksud Iran. Ketegangan ini berpotensi memperburuk situasi ekonomi Iran jika diperparah dengan sanksi tambahan.

Dalam jangka pendek, ekonomi Iran akan terus berjuang untuk bertahan di bawah tekanan sanksi. Namun, dengan kebijakan ekonomi yang tepat dan dukungan dari mitra internasional, ada harapan Iran dapat secara bertahap membangun kembali ekonominya dan mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan global yang saat ini dikepung oleh pengaruh Amerika Serikat.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizki Setiawan

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter