Inspirasi dari Pohon Jodoh di Kebun Raya Bogor
Kebun Raya Bogor selama ini dikenal sebagai salah satu kebun botani tertua di Asia Tenggara dan pusat konservasi tumbuhan tropis. Di balik fungsi ilmiahnya, kawasan seluas sekitar 87 hektare di Kota Bogor, Jawa Barat, itu juga menyimpan tradisi yang berkembang di tengah masyarakat. Salah satunya adalah kepercayaan terhadap "pohon jodoh" yang kerap dikunjungi wisatawan, terutama mereka yang masih mencari pasangan.
Cerita soal pohon jodoh kerap menjadi perbincangan, baik dari mulut ke mulut maupun di media sosial. Sebagian pengunjung meyakini bahwa mengunjungi pohon tersebut dapat mempertemukan mereka dengan jodohnya. Meski tidak ada dasar ilmiah untuk kepercayaan itu, tradisi ini tetap bertahan dan kini menjadi bagian dari daya tarik wisata Kebun Raya Bogor.
Sejarah Kebun Raya Bogor
Kebun Raya Bogor didirikan pada 18 Mei 1817 atas prakarsa Gubernur Jenderal Hindia Belanda G.A.G.P. van der Capellen. Carl Reinwardt, seorang botanis, menjadi direktur pertamanya. Lahan kebun semula merupakan bagian dari taman istana Gubernur Jenderal di Buitenzorg, nama lama Kota Bogor, yang saat ini menjadi Istana Kepresidenan Bogor.
Sejak awal pendiriannya, kebun ini dirancang sebagai pusat penelitian botani tropis. Koleksinya kemudian berkembang menjadi salah satu yang terlengkap di dunia, mencakup ribuan spesies tumbuhan seperti aneka palem, anggrek, sikas, bambu, dan tanaman khas Indonesia, termasuk bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum) yang kerap menarik perhatian saat berbunga.
Dari sisi kelembagaan, kebun raya ini sebelumnya dikelola Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Setelah LIPI dilebur ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2021, pengelolaan Kebun Raya Bogor diteruskan oleh BRIN hingga saat ini.
Cerita di balik pohon jodoh
Belum ada catatan resmi yang menjelaskan kapan kepercayaan terhadap pohon jodoh mulai berkembang. Kisah ini umumnya menyebar dari mulut ke mulut dan makin populer lewat media sosial. Sebagian pengunjung meyakini bahwa pohon tersebut memiliki daya magis yang bisa mempertemukan seseorang dengan pasangannya.
Cara pengunjung "berinteraksi" dengan pohon ini pun beragam. Ada yang sekadar berfoto di dekatnya, berdoa, menuliskan nama di selembar kertas, hingga mengikat benang di batang atau ranting pohon. Tak sedikit pula yang menjadikan kunjungan ke Kebun Raya Bogor sebagai bagian dari tradisi untuk meninggalkan masa lajang.
Daya tarik wisata yang terus hidup
Fenomena ini pada akhirnya menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan. Banyak orang datang bukan hanya untuk menikmati koleksi tumbuhan, tetapi juga untuk mengikuti tradisi yang tengah populer. Hal itu sejalan dengan tren wisata yang mengombinasikan keindahan alam dengan unsur budaya dan kepercayaan lokal.
Fenomena semacam ini dapat dipahami sebagai bagian dari budaya masyarakat. Kepercayaan terhadap simbol atau benda tertentu adalah hal yang lumrah dalam kehidupan sosial dan tidak selalu bertentangan dengan fungsi kawasan sebagai pusat riset dan edukasi.
Pohon jodoh dalam perspektif ilmiah
Dari sudut pandang ilmiah, belum ada bukti yang menghubungkan kunjungan ke pohon jodoh dengan urusan perjodohan. Dalam kebun raya, setiap pohon memiliki nilai utama sebagai koleksi ilmiah dan objek konservasi. Kepercayaan masyarakat terhadap pohon jodoh lebih merupakan folklore yang tumbuh di luar fungsi resmi kawasan tersebut.
Selama tidak merusak koleksi tanaman atau mengganggu pengunjung lain, tradisi semacam ini pada praktiknya masih berlangsung. Para pengelola umumnya lebih menekankan edukasi dan pelestarian, sementara keberadaan cerita rakyat dibiarkan hidup sebagai bagian dari kekayaan budaya setempat.
Peran Kebun Raya Bogor bagi konservasi dan edukasi
Di luar cerita rakyat, Kebun Raya Bogor memegang peran penting dalam konservasi tumbuhan tropis. Kawasan ini menjadi tempat penelitian, penyimpanan koleksi tumbuhan hidup, dan sarana pendidikan bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, serta masyarakat umum.
Kebun raya tertua di Indonesia ini juga menjadi rujukan bagi pengembangan kebun raya lain di tanah air, seperti Kebun Raya Cibodas, Kebun Raya Purwodadi, dan Kebun Raya Bali. Selain itu, keberadaannya turut mendukung upaya pelestarian jenis tumbuhan langka dan penyediaan data bagi dunia sains.
Bagi masyarakat, kisah pohon jodoh dapat menjadi pengingat bahwa tradisi dan kepercayaan lokal merupakan bagian dari kekayaan budaya yang patut dihormati. Namun, pengunjung juga diingatkan untuk menjaga kelestarian kebun raya, baik sebagai aset ilmiah maupun sebagai ruang terbuka hijau yang bermanfaat bagi lingkungan dan generasi mendatang.
Sumber: CNBC Indonesia
Komentar (0)