30, 2026
Nasional

Hasil Voting, Peserta Muktamar NU Sepakat Ubah Mekanisme Pemilihan Ketum PBNU

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/08/30/6a9388d2df599-sekretaris-steering-committee-sc-muktamar-ke-35-nahdlatul-ulama-nu-mohammad-nuh_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Lestari Purnama
Lestari Purnama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Hasil Voting, Peserta Muktamar NU Sepakat Ubah Mekanisme Pemilihan Ketum PBNU

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di kompleks Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta, menghasilkan keputusan penting terkait mekanisme pemilihan ketua umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Setelah melalui proses voting yang intens, peserta muktamar sepakat mengubah mekanisme pemilihan tersebut. Keputusan ini diambil dalam rangka menjaga kelestarian nilai-nilai ke-NU-an dan memastikan proses pemilihan yang lebih demokratis serta representatif.

Ketua Steering Committee (SC) Muktamar NU, Mohammad Nuh, mengungkapkan bahwa perubahan mekanisme pemilihan Ketum PBNU merupakan hasil dari kesepakatan kolektif peserta muktamar. Menurutnya, perubahan ini bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam proses pemilihan pimpinan organisasi terbesar di Indonesia tersebut.

Proses Voting dan Diskusi Intens

Proses perubahan mekanisme pemilihan ini berlangsung melalui serangkaian diskusi dan voting yang intens selama beberapa hari jelang penutupan muktamar. Para peserta, yang terdiri dari para kiai, tokoh NU, dan perwakilan dari seluruh Indonesia, secara aktif berpartisipasi dalam membahas berbagai opsi mekanisme pemilihan yang ada.

Dalam rapat pleno terakhir, tiga opsi mekanisme pemilihan diajukan untuk dipilih. Opsi pertama mempertahankan mekanisme pemilihan langsung oleh peserta muktamar. Opsi kedua mengusulkan sistem perwakilan di mana setiap wilayah mengirimkan delegasi untuk memilih Ketum PBNU. Opsi ketiga adalah sistem kombinasi antara pemilihan langsung dan perwakilan.

Setelah melalui proses voting rahasia, opsi ketakhir yang menjadi pilihan mayoritas peserta muktamar. Sistem kombinasi ini dianggap dapat mempertahankan semangat demokrasi sekaligus memastikan representasi yang merata dari seluruh wilayah di bawah payung organisasi Nahdlatul Ulama.

Mekanisme Baru Pemilihan Ketum PBNU

Dengan diadopsinya mekanisme baru, proses pemilihan Ketum PBNU akan mengalami beberapa perubahan signifikan. Pertama, peserta muktamar akan memilih perwakilan dari setiap wilayah (tanah air) yang akan menjadi elektorat dalam pemilihan Ketum PBNU. Jumlah perwakilan setiap wilayah akan disesuaikan dengan jumlah peserta muktamar dari wilayah tersebut.

Kedua, para perwakatan wilayah ini kemudian akan membentuk lembaga elektoral yang akan bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pemilihan Ketum PBNU. Lembaga ini akan menjamin proses yang fair, transparan, dan akuntabel.

Ketiga, kandidat Ketum PBNU dapat diusulkan oleh perwakilan wilayah atau oleh forum tertentu yang ditunjuk oleh PBNU. Setiap kandidat akan diberikan kesempatan yang sama untuk menyampaikan visi dan misi kepada para elektor.

Keempat, pemilihan Ketum PBNU akan dilakukan secara rahasia oleh para elektor yang telah terpilih. Hasil pemilihan akan diumumkan secara terbuka dan akan menjadi final setelah disahkan dalam sidang pleno muktamar.

Tanggapan dan Respons

Keputusan mengubah mekanisme pemilihan ini mendapat berbagai respons dari berbagai pihak. Beberapa tokoh NU menyambut positif perubahan ini, menganggapnya sebagai langka maju dalam menghadapi tantangan zaman. Mereka yakin bahwa sistem baru ini akan memastikan terpilihnya pemimpin yang benar-benar diinginkan oleh seluruh jamaah NU.

"Perubahan ini menunjukkan bahwa NU sebagai organisasi yang besar dan bersejarah mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasarnya," ujar salah seorang kiai senior yang memilih untuk tidak disebutkan namanya.

Di sisi lain, ada juga sebagian peserta yang menilai perubahan ini memerlukan persiapan yang matang. Mereka khawatir jika implementasinya tidak tepat, bisa menimbulkan pro dan kontra di internal organisasi. Oleh karena itu, mereka meminta agar SC Muktamar segera membentuk tim khusus untuk merumuskan detail implementasi mekanisme baru ini.

Langkah Selanjutnya

Mohammad Noh sebagai Ketua SC Muktamar menyatakan bahwa pihaknya akan segera membentuk tim khusus untuk merumuskan detail implementasi mekanisme pemilihan baru ini. Tim ini akan terdiri dari para ahli hukum, tokoh NU, dan praktisi pemilu yang berpengalaman.

Dengan diadopsinya mekanisme baru ini, NU berharap dapat memilih pemimpin yang mampu memimpin organisasi ini menghadapi berbagai tantangan di era digital dan globalisasi sekaligus mempertahankan identitas ke-NU-an yang telah ditanamkan oleh pendiri-pendiri organisasi ini.

Muktamar ke-35 NU sendiri berlangsung pada tanggal 28-31 Agustus 2023 dan dihadiri oleh ribuan peserta dari seluruh Indonesia. Selain membahas perubahan mekanisme pemilihan Ketum PBNU, muktamar juga menghasilkan sejumlah resolusi penting mengenai berbagai isu nasional dan internasional.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Purnama

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam
IKLAN SIDEBAR — SLOT AKTIF ✅
300x250 / responsif

Newsletter