Hari Ke-9 Pencarian Jurnalis Hilang di Selat Sunda: Fokus Sisir Tenggara Anak Krakatau
Pencarian jurnalis Santoso yang dilaporkan hilang sejak sembilan hari lalu di perairan Selat Sunda terus dilakukan dengan intensif. Tim SAR gabungan memfokuskan penyisiran di wilayah tenggara Gunung Anak Krakatau setelah sebelumnya area barat dan utara pulau tidak memberikan hasil positif. Santoso, seorang jurnalis senior dengan 15 tahun pengalaman meliput berita maritim, dilaporkan tenggelam saat meliput aktivitas vulkanik di sekitar Anak Krakatau pada 15 Mei lalu.
Kondisi Cuaca Membaik, Operasi Penyisiran Dipercepat
Menurut Kepala Basarnas Pangandaran, Andi Wijaya, kondisi cuaca yang relatif cerah di Selat Sunda pada dua hari terakhir memungkinkan tim untuk mempercepat operasi penyisiran. "Kami telah menambah jumlah kapal patroli menjadi delapan unit dengan menggunakan teknologi sonar canggih untuk memindai dasar laut," ujarnya dalam konferensi pers di Posko Pencarian di Carita, Banten.
Tim gabungan yang terdiri dari personel Basarnas, TNI AL, Polri, dan relawan telah melakukan penyisiran di area seluas 50 kilometer persegi di sekitar titik terakhir ditemukannya perahu tempat Santoso meliput berita. "Kami fokus di tenggara Anak Krakatau karena arus laut di sana cenderung membawa barang-barang dari lokasi tenggelam," jelas Andi.
Tim Evakuasi Ditemukan Barang Pribadi
Dalam perkembangan terbaru, tim evakuasi berhasil menemukan beberapa barang pribadi yang diduga milik Santoso sekitar tiga mil dari pantai Carita. Barang-barang tersebut termasuk kamera DSLR, jaket pelindung, dan sebagian peralatan liputan yang terbungkus dalam kantong plastik.
Keluarga Korban Tetap Optimis
Meski hari ke-9 pencarian berlangsung, keluarga Santoso masih menunjukkan sikap optimis. Istri korban, Siti Nurhaliza, mengaku tetap menanti kehadiran suaminya. "Kami percaya Santoso masih dalam keadaan selamat. Ia adalah orang yang sangat kuat dan berpengalaman di laut," ucapnya dengan suara hampa.
Siti mengungkapkan bahwa Santoso telah meliput berita di berbagai lokasi berbahaya sejak 15 tahun lalu, termasui di daerah konflik dan bencana alam. "Ini bukan kali pertama ia berada di situasi berbahaya, tapi selalu selamat. Kami masih percaya hal yang sama akan terjadi kali ini," tambahnya sambil menahan air mata.
Anak Krakatau Tetap Waspada
Sementara itu, aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dipantau oleh PVMBG. Menurut laporan terakhir, aktivitas vulkanik di gunung tersebut masih dalam tingkat waspada. "Anak Krakatau menunjukkan aktivitas freatik dengan tingkat seismik relatif stabil. Namun kami tetap mengimbau masyarakat untuk menjaga jarak minimal dua kilometer dari puncak," kata Kepala PVMBG, Hendrar Prihadi.
Kondisi ini mempersulit operasi pencarian karena adanya risiko abu vulkanik dan potensi gempa bumi vulkanik kecil yang dapat memicu tsunami lokal. "Tim SAR telah memperhatikan risiko ini dan menyesuaikan rute penyisiran sesuai arahan dari PVMBG," jelas Andi dari Basarnas.
Rekaman Terakhir Santoso Masih Dianalisis
Pihak kepolisian masih menganalisis rekaman video terakhir yang diambil oleh Santoso sebelum hilang. Dalam rekaman tersebut, terlihat gelombang setinggi empat meter tiba-tiba menghantam perahu kecil yang ditumpangi Santoso bersama dua rekannya. "Dua rekannya berhasil diselamatkan oleh nelayan setempat, tapi Santoso tidak terlihat lagi di permukaan air," ujar Kepala Satreskrim Polres Pandeglang, AKBP Budi Santoso.
Upaya pencarian akan terus dilakukan hingga Santoso ditemukan, baik dalam kondusif hidup maupun meninggal dunia. "Kami tidak akan berhenti sebelum korban ditemukan. Ini adalah tanggung jawab moral kami sebagai penyelamat," pungkas Andi Wijaya dari Basarnas.
Komentar (0)