18, 2026
Internasional

Flightradar Rekam Langit Jakarta Tanpa Pesawat, Imbas Erupsi Anak Krakatau

Aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) sangat terdampak setelah Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi.]]>

Andi Prasetyo
Andi Prasetyo Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Flightradar Rekam Langit Jakarta Tanpa Pesawat, Imbas Erupsi Anak Krakatau

Langit Jakarta Sunyi, Flightradar Catat Penurunan Drastis Penerbangan Pasca Erupsi Anak Krakatau

Jakarta - Langit Ibukota Jakarta terlihat sunyi dalam pencatatan Flightradar24 menyusul erupsi Anak Krakatau yang mengakibatkan bencana tsunami di Selat Sunda pada akhir Desember 2018. Sistem pelacakan penerbangan global tersebut menunjukkan penurunan drastis aktivitas pesawat di wilayah udara Jakarta dan sekitarnya dalam beberapa hari setelah peristiwa bencana alam tersebut.

Menurut data yang dikutip dari Flightradar24, pada tanggal 22 Desember 2018, sehari setelah erupsi Anak Krakatau dan tsunami melanda wilayah Banten dan Lampung, aktivitas penerbangan di wilayah udara Jakarta mengalami penurunan signifikan. Rata-rata, tercatat hanya sekitar 40% penerbangan yang beroperasi di wilayah tersebut, jauh di bawah aktivitas normal yang mencapai lebih dari 1.000 penerbangan per hari.

Penyebab Penurunan Aktivitas Penerbangan

Penurunan drastis aktivitas penerbangan ini disebabkan oleh beberapa faktor utama. Pertama, awak maskapai dan pihak berwenang menjadi lebih berhati-hati terhadap kondisi cuaca dan kualitas udara setelah erupsi gunung berapi. Abu vulkanik yang tersebar di udara dianggap berpotensi membahayakan mesin pesawat jika menelanjangi.

Kedua, banyak maskapai secara sukarela membatasi atau mengalihkan rute penerbangan untuk menghindari risiko. Beberapa penerbangan yang rencananya transit atau melintasi wilayah dekat Anak Krakatau dibatalkan atau dialihkan ke rute alternatif yang lebih jauh dari zona bahaya.

Ketiga, faktor psikologis juga turut memengaruhi. Penumpang menjadi ragu untuk terbang, khawatir akan adanya gangguan akibat erupsi atau kondisi darurat yang mungkin timbul. Hal ini menyebabkan banyak penumpang yang membatalkan pemesanan tiket atau mengubah rencana perjalanan mereka.

Dampak pada Operasional Bandara

Bandara Internasional Soekarno-Hatta sebagai pintu masuk utama ke Indonesia tidak sepenuhnya ditutup, namun mengalami gangguan signifikan. Beberapa penerbangan mengalami penundaan, pembatalan, atau pengalihan ke bandara alternatif seperti Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta atau bahkan ke luar Pulau Jawa.

Menurut sumber dari PT Angkasa Pura II yang mengelola Bandara Soekarno-Hatta, pihaknya telah mengambil langkah-langkah antisipasi untuk memastikan keselamatan operasional penerbangan. Termasuk melakukan monitoring kualitas udara secara intensif dan berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Gempa Bumi (PVMBG).

"Kami selalu memprioritaskan keselamatan. Oleh karena itu, setiap keputusan operasional selalu berdasarkan rekomendasi dari pihak berwenang yang kompeten," ujar salah sepejabat PT Angkasa Pura II saat itu.

Reaksi dari Maskapai dan Asosiasi Penerbangan

Asosiasi Maskapai Indonesia (Indonesian National Air Carrier Association - INACA) menyatakan bahwa penyesuaian jadwal penerbangan merupakan langkah yang wajar dalam situasi darurat. "Keselamatan adalah prioritas utama kami. Kami akan terus menyesuaikan operasional berdasarkan informasi dan rekomendasi dari pihak berwenang," kata Ketua INACA, Benny Butarbutar.

Beberapa maskapai besar seperti Garuda Indonesia, Lion Air, dan Sriwijaya Air mengumumkan beberapa pembatalan dan penundaan penerbangan. Maskapai-maskapai ini juga memberikan opsi pengembalian dana atau penggantian tiket bagi penumpang yang terkena dampak.

Pulihnya Aktivitas Penerbangan

Seiring dengan menurunnya aktivitas vulkanik Anak Krakatau dan tidak adanya laporan adanya abu vulkanik yang berbahaya di wilayah udara Jakarta, aktivitas penerbangan perlahan pulih. Pada akhir Desember 2018, sekitar tiga hari setelah peristiwa erupsi, aktivitas penerbangan di wilayah udara Jakarta sudah mencapai sekitar 70-80% dari aktivitas normal.

Flightradar24 mencatat bahwa pada tanggal 26 Desember 2018, sekitar 800 penerbangan telah tercatat di wilayah udara Jakarta, menunjukkan pemulihan yang signifikan. Namun, beberapa penerbangan masih mengalami sedikit penundaan karena penyesuaian jadwal dan re-rute yang masih dilakukan oleh beberapa maskapai.

Insiden ini menunjukkan betapa rentannya industri penerbangan terhadap bencana alam, terutama yang berhubungan dengan aktivitas gunung berapi. Kebijakan berhati-hati yang diambil oleh pihak berwenang dan maskapai ternyata efektif dalam mencegah potensi bahaya yang lebih besar, meskipun menyebabkan gangguan operasional dan ekonomi yang tidak bisa dihindari.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Andi Prasetyo

Kontributor bidang kebugaran dan olahraga. Menulis tips workout dan gaya hidup aktif.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter