17, 2026
Teknologi

Erupsi Anak Krakatau Diduga Tembus Tropopause, Terlihat dari Satelit

Erupsi Anak Krakatau terpantau satelit dengan awan membentang 851 km. Kolom erupsi diperkirakan mencapai 13-17 km hingga tropopause.]]>

Teguh Syahputra
Teguh Syahputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Erupsi Anak Krakatau Diduga Tembus Tropopause, Terlihat dari Satelit

Erupsi Anak Krakatau Diduga Tembus Tropopause, Terlihat dari Satelit

Erupsi Gunung Anak Krakatau pada Sabtu (15/7/2023) menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan dengan diduga tembus ke lapisan tropopause. Aktivitas ini terlihat jelas melalui citra satelit yang memantau kondisi gunung berapi tersebut. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat erupsi berlangsung selama 11 menit 38 detik dengan amplitudo gempa vulkanik mencapai 45 milimeter.

Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG), Hendra Gunawan, aktivitas erupsi Anak Krakatau pada Sabtu pagi tersebut termasuk dalam kategori erupsi vulkanik eksplosif. "Erupsi ini teramati dengan baik melalui citra satelit di mana kolom abu terlihat menembus lapisan tropopause," ujar Hendra dalam keterangannya, Sabtu (15/7/2023).

Aktivitas Erupsi dan Dampaknya

Erupsi Anak Krakatau terjadi pada pukul 07.43 WIB dengan kolom abu vulkanik teramati setinggi 700 meter di atas puncak gunung. Tinggi puncak Anak Krakatau sendiri adalah 338 meter di atas permukaan laut. Kolom abu ini bergerak arah tenggara dan berpotensi menyebabkan hujan abu di sekitar wilayah sekitar gunung berapi.

Berdasarkan pantauan visual dari Gunung Anak Krakatau, teramatan adanya abu vulkanik putih keabu-abuan dengan intensitas sedang hingga tebal. Erupsi ini disertai dengan suara letusan yang terdengar hingga ke desa-desa di sekitar pulau, termasuk desa Telaga Tujuh, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan.

BMKG mencatat adanya 45 kali gempa vulkanik dengan amplitudo 2-45 milimeter dan durasi 3-37 detik. Selain itu, teramati pula 12 kali gempa tektonik dengan magnitudo 1,1-2,3 dan 4 kali gempa getaran vulkanik (VB). Aktivitas ini menunjukkan adanya tekanan yang terus meningkat di dalam sistem vulkanis Anak Krakatau.

Status Kesiagaan dan Upaya Mitigasi

Berdasarkan aktivitas vulkanik terkini, PVMBG tetap mempertahankan status kesiagaan Gunung Anak Krakatau pada Level II (Waspada). Warga dan aktivitas di sekitar kawasan gunung berapi tetap diimbau untuk tetap waspada dan mematuhi arahan pihak berwenang.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung, Eko Prasetyo, mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di sekitar zona bahaya yang telah ditetapkan sejauh 2 kilometer dari puncak Gunung Anak Krakatau. "Kami juga mendorong masyarakat untuk selalu memperhatikan informasi resmi dari PVMBG dan BMKG mengenai perkembangan aktivitas gunung berapi," kata Eko.

Sebagai upaya mitigasi, pihak BPBD bersama instansi terkait telah melakukan koordinasi untuk mempersiapkan langkah-langkah penanggulangan bencana. Persiapan tersebut meliputi evakuasi jika diperlukan, penyiapan posko darurat, serta pendistribusian masker untuk masyarakat di sekitar kawasan terdampak.

Sejarah Aktivitas Anak Krakatau

Anak Krakatau merupakan gunung berapi yang lahir setelah letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883. Gunung ini terus mengalami aktivitas vulkanik sejak muncul di permukaan laut pada tahun 1927. Erupsi terbesar terjadi pada tahun 2018 yang mengakibatkan tsunami dan menewaskan ratusan orang di sekitar Selat Sunda.

Sejak erupsi tahun 2018, Anak Krakatau terus memperlihatkan aktivitas vulkanik yang fluktuatif. Beberapa kali gunung ini mengalami erupsi dengan intensitas bervariasi, dari erupsi kecil hingga sedang. Aktivitas terkini ini menunjukkan bahwa sistem vulkanis di Anak Krakatau masih aktif dan memerlukan monitoring yang ketat.

Tim ahli dari PVMBG terus melakukan monitoring terhadap perkembangan aktivitas Anak Krakatau melalui berbagai instrumen pemantauan, termasuk seismograf, GPS, dan satelit. Data-data tersebut akan menjadi acuan untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam mengantisipasi potensi bahaya yang mungkin timbul.

Implikasi bagi Transportasi dan Pelayaran

Erupsi Anak Krakatau juga berpotensi memberikan dampak pada aktivitas transportasi udara dan pelayaran di wilayah Selat Sunda. Berdasarkan informasi dari Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Provinsi Banten, pihaknya telah mengimbau kapal-kapal yang melintasi Selat Sunda untuk tetap waspada terhadap potensi hujan abu.

"Kapal-kapal yang melintasi wilayah tersebut dianjurkan untuk tetap menjaga jarak aman dan memperhatikan informasi terkini mengenai kondisi cuaca dan aktivitas vulkanik," ujar Kepala Kanwil Kementerian Perhubungan Provinsi Banten, Ahmad Yani.

Untuk transportasi udara, Bandara Internasional Raden Intan Lampung dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta telah diberikan arahan untuk memantau kondisi cuaca dan kualitas udara. Meskipun belum ada rencana pengalihan penerbangan, pihak bandara siap mengambil langkah-langkah antisipatif jika diperlukan.

Aktivitas vulkanik Anak Krakatau tetap menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan masyarakat. Dengan monitoring yang ketat dan koordinasi yang baik, diharapkan potensi bahaya dapat diminimalisir dan dampak terhadap kehidupan masyarakat dapat dikendalikan. Pihak berwenang terus mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mematuhi arahan yang diberikan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Teguh Syahputra

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter