19, 2026
Internasional

Dolar Mengamuk: Yen, Rupiah - Won Kebakaran, Cuma China Kalahkan AS

Mata uang Asia hancur pada pekan ini di tengah lonjakan dolar Amerika Serikat (AS).]]>

Maya Anggraini
Maya Anggraini Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Dolar Mengamuk: Yen, Rupiah - Won Kebakaran, Cuma China Kalahkan AS

Dolar Mengamuk: Yen, Rupiah, Won Kebakaran, Cuma China Kalahkan AS

Nilai tukar mata uang di Asia terus mengalami tekanan ekstim seiring dengan menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global. Dolar AS yang terus menguat membuat sejumlah mata uang Asia termasuk Yen Jepang, Rupiah Indonesia, dan Won Korea Selatan mengalami penurunan nilai yang signifikan. Hanya saja, ada satu mata uang Asia yang mampu bertahan bahkan menguat terhadap dolar AS, yakni Yuan Tiongkok.

Kelemahan Mata Uang Asia

Mata uang-mata uang di kawasan Asia terus mengalami tekanan pelemahan terhadap dolar AS dalam beberapa pekan terakhir. Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur nilai dolar terhadap sekeran mata uang utama lainnya tercatat mencapai level tertinggi dalam dua dekade terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh kebijakan suku bunga yang agresif dari The Federal Reserve (The Fed) untuk mengendalikan inflasi di AS.

Bank Sentral Jepang (BoJ) tetap mempertahankan kebijanan suku bunga negatif dan pengendalian kurva yield, yang membuat Yen menjadi mata uang dengan performa terburuk di antara mata uang utama. Nilai tukar Yen terhadap dolar AS bahkan sempat menyentuh level 150 per dolar, level terendah sejak 1990. Pemerintah Jepang akhirnya melakukan intervensi pasar untuk mencegah Yen melemah lebih jauh meskipun dampaknya bersifat sementara.

Rupiah Indonesia juga tidak luput dari tekanan pelemahan. Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS tercatat berada di level tertinggi dalam lima tahun terakhir, melampaui level 15.800 per dolar AS. Pelemahan Rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor termasuk ketidakpastian ekonomi global, defisit transaksi berjalan yang masih tinggi, serta arus modal asing yang keluar dari pasar emerging market.

Sementara itu, Won Korea Selatan juga mengalami tekanan serupa. Nilai tukar Won terhadap dolar AS mencapai level tertinggi dalam 13 tahun terakhir, melampaui level 1.400 per dolar AS. Pemerintah Korea Selatan telah melakukan berbagai upaya untuk menstabilkan nilai mata uangnya termasuk intervensi pasar dan koordinasi dengan bank sentral lainnya.

Strategi Tiongkok Berbeda

Di tengah gelombang pelemahan mata uang Asia, Tiongkok menunjukkan pendekatan yang berbeda. Bank Sentral Tiongkok (PBoC) memilih untuk tidak mengikuti kebijakan suku bunga yang agresif seperti negara-negara lain. Sebaliknya, PBoC mempertahankan kebijanan moneter yang relaks untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik yang sedang melambat.

Strategi ini ternyata efektif. Yuan Tiongkok bahkan menguat terhadap dolar AS dalam beberapa pekan terakhir, meskipun pemerintah Tiongkok secara aktif membatasi apresiasi Yuan untuk menjaga daya saing ekspor. PBoC menggunakan berbagai alat termasuk menetapkan titik tengah (mid-point) Yuan yang lebih kuat dan mengurangi cadangan devisa untuk mencegah Yuan terlalu menguat.

Kebijakan ini menunjukkan bahwa Tiongkok memiliki ruang kebijakan moneter yang lebih luhan dibandingkan negara-negara lain di Asia. Tiongkok juga menikmati defisit transaksi berjalan yang lebih kecil dan cadangan devisa yang besar, yang memberikan keunggulan dalam menjaga stabilitas mata uangnya.

Dampak pada Ekonomi Regional

Pelemahan mata uang di Asia akan memiliki dampak signifikan terhadap perekonomian regional. Negara-negara dengan tingkat utang luar negeri yang tinggi dalam dolar AS akan menghadapi tekanan pembayaran yang lebih besar. Hal ini akan berdampak pada sektor swasta dan pemerintah yang memiliki kewajiban dalam mata uang AS.

Bagi sektor ekspor, pelemahan mata uang bisa menjadi keuntungan karena meningkatkan daya saing harga. Namun, bagi negara-negara yang bergantung pada impor bahan baku seperti energi dan pangan, pelemahan mata uang akan meningkatkan beban impor dan berkontribusi pada inflasi.

Bank Sentral di seluruh Asia kemungkinan akan terus menghadapi dilema antara menstabilkan nilai mata uang dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Kebijakan suku bunga yang lebih tinggi bisa membantu menarik modal asing dan mencegah pelemahan mata uang lebih lanjut, namun di sisi lain akan membebani pertumbuhan ekonomi domestik.

Di tengah ketidakpastian global, para analis memprediksi bahwa volatilitas mata uang Asia akan terus tinggi dalam jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang, fundamental ekonomi masing-masing negara akan menjadi faktor penentu apakah mata uangnya mampu pulih atau terus tertekan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Maya Anggraini

Fokus pada kesehatan mental, mindfulness, dan produktivitas.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter