Prabowo: Manfaatkan Ekonomi Hijau dan Mineral Kritis untuk Keunggulan BRICS
Moskow - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengajak negara-negara anggota BRICS untuk bersama-sama memanfaatkan potensi ekonomi hijau dan mineral kritis guna memperkuat posisi blok tersebut dalam kancah global. Pemimpin Indonesia ini menyampaikan pandangannya saat berpidato dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-16 yang berlangsung di Moskow, Rusia, pada Rabu (24/7/2024).
Dalam pidatonya yang berlangsung sekitar 15 menit, Prabowo menyoroti bahwa ekonomi hijau dan mineral kritis merupakan dua pilar strategis yang dapat membangun keunggulan bersama bagi negara-negara berkembang. Presiden yang baru dilantik pada Oktober 2024 ini mengemukakan bahwa Indonesia siap berbagi pengalaman dalam pengembangan ekonomi hijau terutama dalam bidang energi terbarukan dan pertanian berkelanjutan.
"Indonesia telah berhasil mengembangkan program ekonomi hijau dengan fokus pada energi terbarukan, di mana kita telah mencapai target 23% penggunaan energi terbarukan dalam mix energi nasional. Kami juga mengembangkan pertanian berkelanjutan yang tidak hanya mengurangi emisi karbon tetapi juga meningkatkan ketahanan pangan," ujar Prabowo seperti dilansir dari siaran pers Sekretariat Negara.
Mineral Kritis sebagai Aset Strategis
Prabowo juga menyoroti pentingnya mineral kritis sebagai aset strategis bagi negara-negara BRICS. Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar nikel dunia menawarkan kolaborasi dalam pengolahan mineral kritis secara berkelanjutan dan ramah lingkungan.
"Kita memiliki 40% cadangan nikel dunia dan kami siap bekerja sama untuk mengolah mineral ini menjadi produk bernilai tinggi dengan teknologi ramah lingkungan. Ini tidak hanya akan menciptakan nilai ekonomi tetapi juga mendorong inovasi industri bersama," jelasnya.
Pada kesempatan itu, Presiden juga mengusulkan pembentukan kerja sama khusus dalam bidang mineral kritis yang meliputi eksplorasi, penambangan, pengolahan, hingga pengembangan produk turunan. Kerja sama ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada negara-negara ketiga dan menciptakan rantai pasokan yang lebih adil bagi negara-negara berkembang.
Kolaborasi dalam Transisi Energi
Dalam bidang energi, Prabowo menekankan perlunya kolaborasi dalam transisi energi dari energi fosil ke energi terbarukan. Menurutnya, negara-negara BRICS memiliki potensi besar dalam mengembangkan energi surya, angin, dan geothermal.
"Indonesia memiliki potensi energi geothermal terbesar di dunia sekitar 29 gigawatt. Kami siap berbagi teknologi dan pengalaman dalam pengembangan energi bersih ini. Mari kita bekerja sama untuk membangun infrastruktur energi terbarukan skala besar yang dapat mengurangi ketergantungan pada minyak bumi," ajaknya.
Presiden juga mengusulkan pendirian lembaga riset dan pengembangan bersama BRICS untuk mengembangkan teknologi energi terbarukan dan mineral kritis. Lembaga ini akan menjadi pusat inovasi bagi para ilmuwan dan peneliti dari negara-negara anggota BRICS.
Vision for BRICS: A More Equitable Global Order
Prabowo dalam pidatonya juga mengemukakan visinya untuk BRICS sebagai blok yang mendorong keadilan dan keseimbangan dalam tatanan global. Menurutnya, ekonomi hijau dan mineral kritis dapat menjadi instrumen untuk menciptakan keadilan ekonomi bagi negara-negara berkembang.
"BRICS tidak hanya sekadar blok ekonomi, tetapi juga gerakan untuk menciptakan tatanana global yang lebih adil. Dengan memanfaatkan ekonomi hijau dan mineral kritis, kita dapat membangun keunggulan bersama yang tidak hanya menguntungkan beberapa negara tetapi seluruh anggota BRICS," tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Presiden juga menyampaikan apresiasi kepada Rusia sebagai tuan rumah KTT BRICS ke-16. Ia menilai konferensi ini menjadi penting dalam memperkuat solidaritas dan kolaborasi antar negara-negara berkembang.
"KTT BRICS ini menunjukkan komitmen kita bersama untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi rakyat kita. Dengan kolaborasi yang erat, saya yakin BRICS dapat menjadi kekuatan positif dalam membentuk tatanan global yang lebih adil dan berkeadilan," pungkas Prabowo.
Komentar (0)