17, 2026
Nasional

Dana Pensiun Rp 1.669 Triliun, Ketua OJK Soroti Minimnya Peserta

Budi Gunawan
Budi Gunawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Dana Pensiun Rp 1.669 Triliun, Ketua OJK Soroti Minimnya Peserta

Indonesia memiliki dana pensiun yang mencapai Rp 1.669 triliun namun pesertanya masih sangat minim. Hal ini disampaikan oleh Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso dalam sebuah acara terkait industri jasa keuangan. Menurutnya, meskipun jumlah dana yang terkumpul terdengar besar, namun jika dibandingkan dengan jumlah peserta yang ada, angkanya masih sangat kecil.

Prosentase Peserta yang Masih Rendah

Menurut data yang dihimpun OJK, jumlah peserta program pensiun di Indonesia baru mencapai 9,5 juta orang. Angka ini sangat kecil jika dibandingkan dengan total angka kerja di Indonesia yang mencapai lebih dari 130 juta orang. Artinya, baru sekitar 7,3% pekerja di Indonesia yang terdaftar dalam program pensiun.

"Ini menunjukkan bahwa masih banyak pekerja yang belum memiliki persiapan untuk pensiun. Padahal, persiapan pensiun harus dimulai sejak dini," kata Wimboh Santoso saat memberikan sambutan dalam acara tersebut.

Upaya Meningkatkan Literasi Keuangan

Untuk mengatasi masalah ini, OJK bersama pihak terkait sedang berupaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat, khususnya mengenai pentingnya memiliki persiapan dana pensiun. OJK melalui berbagai program edukasi dan kolaborasi dengan perusahaan asuransi dan dana pensiun berusaha menjangkau lebih banyak masyarakat.

"Kami juga mendorong agar perusahaan memberikan program pensiun bagi karyawannya. Selain itu, kami juga berupaya memudahkan akses bagi pekerja informal untuk terlibat dalam program pensiun," tambah Wimboh.

Tantangan di Masa Depan

Minimnya peserta pensiun menimbulkan tantangan besar di masa depan, terutama mengingat Indonesia akan mengalami aging population atau pertumbuhan penduduk yang menua. Diperkirakan pada tahun 2045, proporsi lansia di Indonesia akan mencapai 25% dari total populasi.

Dengan persiapan pensiun yang masih minim, dikhawatirkan banyak lansia di masa depan akan mengalami kesulitan ekonomi. Hal ini akan memberikan beban tambahan pada sistem jaminan sosial yang ada.

Peran Perusahaan dan Pemerintah

Untuk mengatasi masalah ini, dibutuhkan peran aktif baik dari perusahaan maupun pemerintah. Perusahaan diimbau untuk menyediakan program pensiun bagi karyawannya, baik melalui program jaminan pensiun (JP) maupun program pensiun pilihan (PP).

Sementara itu, pemerintah perlu memperhatikan nasib pekerja informal yang mayoritas belum memiliki jaminan pensiun. Diperlukan kebijakan yang inklusif agar seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan manfaat dari program pensiun.

Inovasi Produk Pensiun

OJK juga mendorong inovasi dalam produk pensiun agar lebih menarik bagi masyarakat. Saat ini, OJK sedang mengembangkan produk pensiun yang fleksibel dan dapat diakses dengan mudah, termasuk produk pensiun yang dapat diakses melalui aplikasi digital.

"Kami berharap dengan adanya inovasi produk dan peningkatan literasi, makin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya persiapan pensiun," ujar Wimboh.

Target Peningkatan Peserta

OJK menargetkan jumlah peserta pensiun dapat meningkat secara signifikan dalam lima tahun ke depan. Target ini tidak mudah mengingat tantangan yang ada, namun OJK optimistis dapat mencapainya melalui berbagai program yang sedang digulirkan.

"Pensiun bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga tanggung jawab kolektif. Dengan kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat, kami yakin kita dapat membangun masa depan yang lebih baik bagi para lansia," tutup Wimboh.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Budi Gunawan

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter