03, 2026
Internasional

China Disebut Batasi Informasi Banjir Bandang di Tibet, Ratusan Orang Masih Hilang

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/08/27/6a8fe83f852fb-rekaman-cctv-banjir-bandang-di-perbatasan-china-tibet_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Dian Gunawan
Dian Gunawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

China Disebut Batasi Informasi Banjir Bandang di Tibet, Ratusan Orang Masih Hilang

Wilayah Tibet di China dilanda banjir bandang yang mematikan pada akhir Agustus 2023, namun informasi mengenai bencana ini dikabarkan dibatasi oleh pemerintah pusat. Banjir bandang yang terjadi di daerah perbatasan Tibet mengakibatkan ratusan orang dilaporkan hilang dan puluhan rumah hancur. Bencana ini menimpa wilayah yang berbatasan dengan provinsi Sichuan, di mana arus deras menyerang beberapa desa dan kota kecil.

Menurut informasi yang beredar, banjir bandang terjadi secara tiba-tiba pada tanggal 25 Agustus 2023, setelah hujan deras mengguyoni wilayah tersebut dalam beberapa hari. Arus air yang sangat deras dengan cepat merendam permukiman warga, mengakibatkan banyak warga tidak sempat menyelamatkan diri. Video yang menunjukkan keadaan banjir bandang di wilayah Tibet beredar di media sosial, menampilkan air yang mengalir deras dengan membawa puing-puing bangunan dan pohon-pohon besar.

Penyebab dan Dampak Banjir Bandang

Banjir bandang ini disebabkan oleh curah hujan ekstrem yang melanda wilayah pegunungan Tibet. Daerah ini secara alami rentan terhadap bencana alam karena topografi yang berbukit-bukit dan tanah yang mudah longsor. Menurut para ahli, perubahan iklim global menjadi salah satu faktor utama meningkatnya frekuensi dan intensitas hujan ekstrem di wilayah tersebut.

Dampak bencana ini sangat dirasakan oleh warga setempat. Selain ratusan orang yang dilaporkan hilang, puluhan rumah hancul dan infrastruktur seperti jalan jembatan dan jaringan listrik putus. Warga yang selamat dievakuasi ke tempat pengungsian sementara, namun kondisi di sana masih sangat memprihatinkan karena keterbatasan pasokan makanan, obat-obatan, dan air bersih.

Keterbatasan Informasi dan Reaksi Publik

Beberapa organisasi internasional dan aktivis HAM mengkritik pemerintah China karena dianggap membatasi informasi mengenai bencana ini. Meskipun ada video yang menunjukkan keadaan darurat di Tibet, media negara China kurang memberitakan secara lengkap tentang dampak banjir bandang ini. Para pengamat berpendapat bahwa pembatasan informasi ini mungkin dilakukan untuk menghindari kritik terhadap kebijakan lingkungan atau untuk menahan reaksi publik yang tidak terkontrol.

Salah satu sumber yang meminta tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa pihak berwenang di Tibet telah membatasi akses jurnalis dan aktivis ke daerah terdampak. Langkah ini dianggap akan mempersulit proses evakuasi dan bantuan bagi para korban. "Kami tidak bisa memastikan jumlah korban yang tepat karena akses ke daerah terdampak sangat terbatas," ujar sumber tersebut.

Respons Pemerintah China

Pemerintah China secara resmi telah mengumumkan akan memberikan bantuan bagi korban banjir bandang di Tibet. Pihak berwenang mengatakan telah mengirim tim penyelamat dan pasokan darurat ke daerah terdampak. Namun, banyak pihak yang menganggap respons ini terlambat dan tidak sesuai dengan skala bencana yang terjadi.

Menteri Urusan Darurat China, Li Xueqiang, dalam konferensi pers menyatakan bahwa pemerintah sedang melakukan segala upaya untuk menangani situasi ini. "Kami fokus pada pencarian dan penyelamatan korban serta pemulihan infrastruktur yang rusak," kata Li. Namun, ia tidak memberikan detail mengenai jumlah pasti korban hilang atau kerugian material akibat bencana ini.

Kondisi Saat Ini dan Harapan di Masa Depan

Saat ini, operasi pencarian dan penyelamatan masih terus berlangsung meski dihadang oleh kondisi cuaca yang masih buruk dan akses yang sulit. Para penyelamat menghadapi tantangan dalam menjangkau daerah terdampak karena infrastruktur yang rusak dan medan yang berbahaya. Beberapa korban yang berhasil diselamatkan dilarikan ke rumah sakit di dekatnya, namun kapasitas medis di daerah tersebut terbatas.

Para aktivis dan organisasi kemanusiaan meminta pemerintah China untuk memberikan akses yang lebih terbuka bagi tim bantuan internasional dan media untuk mengevakuasi korban serta mendistribusikan bantuan dengan lebih efektif. Mereka juga menekankan pentingnya transparensi dalam memberikan informasi mengenai bencana ini demi memastikan semua korban mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.

Banjir bandang di Tibet ini menunjukkan betapa rentannya wilayah pegunungan terhadap bencana alam dalam konteks perubahan iklim. Para ahli lingkungan menekankan perlunya strategi mitigasi dan adaptasi yang lebih baik untuk mengurangi dampak bencana serupa di masa depan, terutama di daerah-daerah yang rawan bencana seperti Tibet.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dian Gunawan

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter