Chat Terakhir Penumpang KM Virgo ke Saudara Kembar Sebelum Insiden Tenggelam
Sebuah percakapan singkat namun penuh makna menjadi sorotan setelah kapal feri KM Virgo tenggelam di perairan Selat Sunda. Pesan terakhir yang dikirim oleh salah satu penumpang kepada saudara kembarannya sebelum kapal tersebut dilaporkan mengalami masalah menjadi bukti betapa tiba-tibanya insiden tersebut terjadi.
Dokumen yang diperoleh dari penyelidikan awal menyebutkan bahwa pesan tersebut dikirim oleh Budi Santoso (35), seorang wiraswasta asal Jakarta, kepada saudara kembarnya, Doni Santoso. Pesan yang dikirim melalui aplikasi pesan instan itu berisi informasi tentang kondisi kapal yang saat itu dalam pelayaran menuai Pelabuhan Merak dari Pelabuhan Tanjung Priok.
Kronologi Pesan Terakhir
Berdasarkan hasil visualisasi data yang dilakukan tim investigasi, pesan tersebut tercatat terkirim pada pukul 20:15 WIB, tepat 45 menit sebelum KM Virgo dilaporkan mengalami masalah navigasi. Dalam pesan tersebut, Budi menuliskan, "Kapal ini agak miring nih kak, tapi kayaknya masih aman. Saya akan cek ke depan nanti."
Respon dari Doni datang beberapa menit kemudian, "Wah hati-hati ya kak. Kalau ada masalah segera ke kapten. Aku akan terus monitor posisimu." Namun, Budi tidak pernah lagi membaca atau merespons pesan tersebut karena sesaat setelahnya, KM Virgo dilaporkan mulai kehilangan kendali.
Keterangan Saksi Mata
Salah satu penumpang yang selamat, Siti Aminah (42), mengungkapkan bahwa kondisi kapal memang terasa tidak stabil sebelum tenggelam. "Saat itu sedang hujan deras dan ombak cukup besar. Saya melihat beberapa awak kapal tampak sibuk di bagian depan. Beberapa saat kemudian, kapal tiba-tiba miring dengan sangat tajam," ujar Siti saat ditemui di RSUD Pelabuhan Ratu.
Kapten KM Virgo, Ahmad Yani (52), dilaporkan telah berusaha menghubungi pusat kendali lalu lintas laut sebelum kapal benar-benar kehilangan kendali. "Pukul 21:00 WIB, kapten mengumumkan bahwa kita mengalami masalah teknis dan meminta semua penumpang untuk mengenakan pelampung darurat," tambah Siti.
Proses Evakuasi yang Kacau
Menurut kesaksian beberapa penumpang lainnya, proses evakuasi berjalan tidak terorganisir dengan baik. "Saya melawan kerumunan saat menuju ke sekoci. Banyak orang panik dan menyerobot tempat di sekoci. Saya melihat Budi mencoba membantu anak kecil dan ibu hamil, tapi dia sendiri tidak sempat menyelamatkan diri," jelas Ahmad, penumpang lain yang berhasil selamat.
Data resmi dari Badan SAR Nasional menunjukkan bahwa dari 186 penumpang dan 12 awak kapal, hanya 98 orang yang berhasil diselamatkan. Pencarian korban masih terus dilakukan hingga hari ketiga setelah insiden terjadi.
Respon Pemerintah dan Investigasi
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi segera turun tangan setelah mendapat laporan tentang insiden ini. "Kami telah membentuk tim investigasi khusus untuk menyelidiki penyebab tenggelamnya KM Virgo. Kami akan memeriksa kondisi teknis kapal, kompetensi awak, dan faktor cuaca yang mungkin memengaruhi insiden ini," ujar Budi dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta.
Tim investigasi dari Ditjen Perhubungan Laut telah menyita dokumen-dokumen kapal, termasuk surat-surat izah layar dan catatan navigasi. Selain itu, pemeriksaan terhadap awak kapal yang selamat juga sedang dilakukan untuk mengetahui kronologi lengkap kejadian.
Kondisi Korban dan Upaya Pencarian
Dari korban yang berhasil diselamatkan, 25 orang mengalami luka-luka ringan dan dirawat di beberapa rumah sakit di sekitar wilayah Banten. Sementara itu, korban dalam kondisi kritis masih dirawat intensif di RSUD Pelabuhan Ratu dan RSUD Serang.
Keluarga korban dan penumpang menggelar doa bersama di Masjid Agung Tanjung Priok untuk menunggu kabar tentang anggota keluarga mereka yang masih dianggap hilang. Pemerintah memberikan bantuan psikosocial bagi keluarga korban dan menjamin semua biaya pengobatan untuk korban luka.
Komentar (0)