Basarnas Siagakan 30 Ambulans untuk Tangani Korban Kapal Virgo Transport 8
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) telah menyiagakan 30 unit ambulans untuk menangani korban yang terdampak tenggelamnya kapal motor Virgo Transport 8 di perairan Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Kapal yang membawa 32 penumpang tersebut tenggelam pada Rabu (15/11) sore setelah dilaporkan mengalami kebocoran di bagian lambung.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Basarnas Jachril Pratama mengatakan bahwa pihaknya telah mengirimkan tim gabungan yang terdiri dari personel Basarnas, TNI AL, Polri, dan BPBD setelah menerima laporan tentang tenggelamnya kapal tersebut. "Kami telah mengaktifkan mekanisme darurat dan menyiapkan 30 unit ambulans untuk mendukung evakuasi korban," ujar Jachril dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Basarnas, Jakarta, Kamis (16/11).
Evakuasi Korban Terus Berlangsung
Evakuasi korban tenggelamnya kapal Virgo Transport 8 terus dilakukan oleh tim gabungan hingga Kamis (16/11) siang. Menurut informasi terakhir, sebanyak 25 orang telah berhasil diselamatkan, sedangkan 7 orang lainnya masih dalam pencarian. Tim SAR masih terus melakukan pencarian di lokasi kejadian yang berjarak sekitar 10 mil dari Pantai Selayar, Kabupaten Lingga.
"Kondisi di lokasi pencarian masih tergolong sulit karena arus laut yang cukup deras dan curah hujan yang tinggi. Namun, tim SAR tetap berupaya maksimal untuk menemukan korban yang masih hilang," kata Jachril menambahkan.
Kapal Mengalami Kebocoran Lambung
Menurut keterangan saksi mata, kapal Virgo Transport 8 mengalami kebocoran di bagian lambung saat berlayar dari Pelabuhan Dabo Singkep menuju Pulau Lingga. Akibat kebocoran tersebut, air laut masuk ke dalam kapal dengan cepat sehingga menyebabkan kapal miring dan akhirnya tenggelam.
"Penumpang sempat panik saat melihat air mulai masuk ke dalam kapal. Beberapa di antaranya langsung melompat ke laut sementara yang lain mencari pelampung untuk diselamatkan," ujar salah satu korban yang berhasil dievakuasi, Ahmad (35), yang dirawat di RSUD Lingga.
Upaya Pencarian dan Evakuasi
Tim gabungan SAR yang terdiri dari personel Basarnas, TNI AL, Polri, dan BPBD telah melaksanakan operasi pencarian sejak Rabu sore. Selain 30 unit ambulans, Basarnas juga telah mengerahkan 3 unit kapal patroli, 2 unit speedboat, dan 1 pesawat untuk mendukung operasi SAR.
"Kami juga telah menghubungi kapal-kapal nelayan di sekitar lokasi kejadian untuk membantu proses pencarian. Para nelayan setempat sangat membantu dengan memberikan informasi dan membawa korban yang berhasil diselamatkan," tambah Jachril.
Kondisi Korban
Dari 25 korban yang berhasil diselamatkan, 19 orang dalam kondisi sehat dan langsung dievakuasi ke lokasi yang aman. Enam orang lainnya mengalami luka ringan dan mendapat perawatan medis di RSUD Lingga. Sementara itu, 7 korban yang masih hilang diduga berada di dalam air atau sudah terbawa arus laut.
"Kami terus berharap korban yang masih hilang dapat ditemukan dalam keadaan selamat. Tim SAR akan terus melakukan pencarian hingga semua korban ditemukan," ujar Jachril dengan harap.
Ketua Basarnas: Ini Prioritas Utama
Ketua Basarnas, Marsdya TNI F.H. Bambang Soesatyo, menegaskan bahwa evakuasi korban menjadi prioritas utama dalam kejadian ini. "Kami meminta masyarakat untuk tetap tenang dan kooperatif dengan tim SAR. Informasi terkait perkembangan pencarian akan kami sampaikan secara berkala," kata Bambang.
Menurut Bambang, kejadian ini menunjukkan pentingnya keselamatan pelayaran di perairan Indonesia. "Kami akan mengevaluasi kejadian ini untuk mengetahui penyebab pasti tenggelamnya kapal Virgo Transport 8. Pihak berwenang akan menindaklanjuti sesuai prosedur yang berlaku," tambahnya.
Sementara itu, Gubernur Kepulauan Riau, Nurdin Basirun, telah memerintahkan BPBD Provinsi Kepulauan Riau untuk mendukung operasi SAR dan menyiapkan tempat penampungan bagi korban yang dievakuasi. "Kami berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten setempat untuk memastikan semua korban mendapatkan bantuan yang memadai," ujar Nurdin.
Basarnas meminta masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi yang belum dapat dipastukan kebenarannya. "Informasi yang akurat dan terpercaya sangat penting dalam situasi darurat seperti ini," tutup Jachril.
Komentar (0)