19, 2026
Nasional

B50 Sukses, Prabowo Ingin Buat Bensin dari Batu Bara

Eka Kusuma
Eka Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

B50 Sukses, Prabowo Ingin Buat Bensin dari Batu Bara

Kepala Negara Prabowo Subianto menyatakan keinginannya untuk mengembangkan teknologi produksi bensin dari batubara, seiring dengan kesuksesan program B50 yang telah berhasil diimplementasikan. Pernyataan ini disampaikan oleh Presiden Prabowo saat membuka Rapat Koordinasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta, Kamis (15/6/2023).

"Kami melihat bahwa program B50 telah berhasil dan membuktikan bahwa Indonesia mampu mengandalkan sumber energi domestik. Langkah selanjutnya adalah mengembangkan teknologi yang lebih maju, termasuk produksi bensin dari batubara," ujar Prabowo dalam sambutannya.

Program B50 Sebagai Dasar Pengembangan

Program B50, yang merupakan campuran 50% biodiesel dengan 50% solar telah memberikan kontribusi signifikan dalam mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak goreng sebagai bahan baku biodiesel. Program ini telah dijalankan sejak tahun 2022 dan telah membuktikan keberhasilannya dalam mendukung ketahanan energi nasional.

Menteri ESDM, Arifin Tasrif, menjelaskan bahwa program B50 telah menghemat devisa sebesar Rp 12 triliun dalam periode Januari hingga Mei 2023. "Kesuksesan program B50 membuktikan bahwa kita mampu mengoptimalkan sumber daya alam yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan energi domestik," kata Arifin.

Teknologi Bensin dari Batu Bara

Dalam rapat koordinasi tersebut, Presiden Prabowo meminta tim ahli untuk mempelajari lebih lanjut teknologi konversi batubara menjadi bensin. Teknologi yang dimaksud adalah proses Fisher-Tropsch, sebuah metode kimia untuk mengubah batubara atau gas alam menjadi cairan hidrokarbon.

"Kita memiliki cadangan batubara yang sangat besar. Jika kita bisa mengubahnya menjadi bensin, kita tidak lagi bergantung pada impor. Ini akan menjadi pukulan telak bagi ketahanan energi kita," tambah Prabowo.

Proses Fisher-Tropsch telah dikembangkan sejak abad ke-19 dan telah digunakan di beberapa negara seperti Afrika Selatan dan Qatar. Teknologi ini memungkinkan batubara diubah menjadi berbagai jenis bahan bakar, termasuk bensin, diesel, dan bahan bakar jet.

Reaksi dari Berbagai Pihak

Keinginan Presiden Prabowo untuk mengembangkan teknologi bensin dari batubara mendapat beragam respons dari kalangan profesional energi dan lingkungan. Beberapa pihak menyambut positif gagasan ini sebagai langkah strategis dalam mengurangi ketergantungan impor minyak bumi.

"Ini adalah langkah yang tepat mengingat Indonesia memiliki cadangan batubara yang melimpah. Dengan teknologi yang tepat, batubara bisa menjadi aset strategis untuk ketahanan energi," kata Profesor Teknik Kimia dari Universitas Indonesia, Dr. Budi Santoso.

Sementara itu, kelompok lingkungan khawatir dengan dampak lingkungan dari penggunaan batubara sebagai bahan bakar. "Meskipun teknologi Fisher-Tropsch lebih bersih dibandingkan pembakaran langsung batubara, tetap saja akan menghasilkan emisi karbon yang signifikan. Kita perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan," ujar aktivis lingkungan dari Greenpeace Indonesia, Ratri Kinasih.

Target dan Rencana Implementasi

Presiden Prabowo menargetkan bahwa produksi bensin dari batubara dapat dimulai dalam jangka pendek, yaitu 2-3 tahun ke depan. Untuk mencapai target ini, pemerintah akan bekerja sama dengan para ahli, industri, dan lembaga penelitian.

"Kami akan membentuk tim khusus yang akan bertanggung jawab atas pengembangan teknologi ini. Tim ini akan terdiri dari para praktisi dari Kementerian ESDM, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), serta perguruan tinggi ternama," jelas Prabowo.

Menteri Arifin Tasrif menambahkan bahwa pemerintah akan menyediakan dana sebesar Rp 1 triliun untuk memulai penelitian dan pengembangan teknologi ini. "Anggaran ini akan digunakan untuk studi kelayakan, pengembangan prototipe, dan uji coba di lapangan," katanya.

Potensi Dampak bagi Ekonomi Nasional

Jika berhasil diimplementasikan, produksi bensin dari batubara diharapkan dapat mengurangi impor minyak bumi yang mencapai 30% dari total kebutuhan energi Indonesia. Hal ini akan menghemat devisa negara dan meningkatkan kemandirian energi.

Selain itu, industri batubara yang saat ini menghadapi tantangan akan mendapat nilai tambah dengan adanya teknologi ini. "Ini akan menciptakan industri baru dan meningkatkan nilai ekonomi dari batubara kita," kata Ketua Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Pandu Sjahrir.

Dengan langkah ini, pemerintahan Prabowo menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan ketahanan energi melalui pemanfaatan sumber daya alam domestik yang optimal. Meskipun ada berbagai tantangan, terutama dalam hal teknologi dan lingkungan, keinginan untuk mengembangkan bensin dari batubara menunjukkan visi jangka panjang Indonesia dalam menghadapi tantangan energi global.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Eka Kusuma

Kontributor rubrik data dan visualisasi angka penting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter