01, 2026
Teknologi

Asap Karhutla Memprihatinkan Sampai Bikin Orang Utan Pingsan

Asap karhutla di Ketapang, Kalimantan Barat, menyebabkan orang utan bernama Sampurna pingsan. Tim BKSDA dan YIARI segera melakukan evakuasi dan perawatan.]]>

Wulan Simanjuntak
Wulan Simanjuntak Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Asap Karhutla Memprihatinkan Sampai Bikin Orang Utan Pingsan

Asap Karhutla Memprihatinkan Sampai Bikin Orang Utan Pingsan

Indonesia kembali diguncang oleh bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di beberapa wilayah. Kabar memprihatinkan datang dari Kalimantan, di mana asap tebal dari kebakaran hutan menyebabkan kondisi udara menjadi sangat buruk. Bahkan, satwa dilindungi seperti orangutan menjadi korban dampak buruk dari bencana alam ini. Beberapa ekor orangutan dilaporkan pingsan akibat menghirup asap pekat yang mengandung partikel-partikel berbahaya.

Dampak Buruk pada Kehidupan Satwa

Koordinator Konservasi di Kalimantan Timur, Dr. Ahmad Yani, mengungkapkan bahwa kondisi asap saat ini telah mencapai level bahaya. "Beberapa orangutan di kawasan hutan yang terkena dampak langsung kebakaran mengalami gangguan pernafasan. Ada yang bahkan pingsan karena tidak kuat menghadapi asap tebal," ujarnya saat dihubungi, Rabu (15/9).

Menurut Yani, orangutan memiliki sistem pernafasan yang sangat sensitif. Asap yang mengandung partikel-partikel halus dan gas berbahaya seperti karbon monoksida dapat merusak paru-paru mereka secara cepat. "Kita sudah menemukan beberapa ekor orangutan dalam kondisi lemah, mata bengkak, dan batuk-batuk berlebihan. Ini adalah gejala keracunan akibat asap," tambahnya.

Upur Pemadaman Gagal

Pihak berwenang telah berusaha keras untuk memadamkan api yang sudah merembes ke dalam lahan gambut. Namun, upur pemadaman ini terbentur dengan beberapa tantangan. Kepala Pemadam Kebakaran Nasional, Budi Santoso, mengakui bahwa kondisi cuaca yang kering dan angin kencang membuat sulit untuk mengendalikan api.

"Kita menggunakan berbagai metode, mulai dari pemadaman manual hingga penurunan air dari udara. Namun, api di dalam lahan gambut sangat sulit dipadamkan karena api tersembunyi di lapisan gambut yang tebal," jelas Budi.

Ia menambahkan bahwa saat ini tim pemadam terus berusaha mengerem penyebaran api dengan membuat garis pemisah (firebreak) di sekitar area terdampak. "Kita juga mengerahkan warga sekitar untuk membantu pemantauan dan pencegahan penyebaran api," tambahnya.

Dampak Kesehatan Masyarakat

Selain satwa, warga yang tinggal di sekitar wilayah terdampak juga mengalami dampak serius. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa ada peningkatan signifikan kasus penyakit pernafasan akibat asap.

"Kami mendapat laporan dari puskesmas di Kalimantan dan Sumatera yang mengalami lonjakan pasien dengan keluhan batuk, sesak napas, dan iritasi mata. Ini disebabkan oleh kualitas udara yang buruk akibat asap kebakaran hutan," kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia.

Ia menyarankan warga untuk mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama masker N95 yang dapat menyaring partikel-partikel halus. "Selain itu, kami juga menyarankan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan bagi anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki riwayat penyakit paru-paru," tambah dr. Nadia.

Tanggung Jawab dan Solusi Jangka Panjang

Bencana karhutla yang terjadi hampir setiap tahun ini menunjukkan perlunya solusi jangka panjang yang lebih komprehensif. Direktur Jenderal Penyuluhan dan Pemberdayaan Kehutanan, Herman Pratono, mengatakan bahwa pemerintah perlu meningkatkan upaya pencegahan kebakaran hutan dari sumbernya.

"Kita perlu memperkuat pengawasan terhadap lahan-lahan yang rawan kebakaran, terutama yang berada di kawasan gambut. Selain itu, perlu ada penegakan hukum yang lebih tegas bagi pelaku pembukaan lahan dengan cara dibakar," ujarnya.

Untuk mengatasi dampak langsung, pemerintah telah mengalokasikan dana untuk penanganan kesehatan masyarakat dan pemulihan habitat satwa. "Kita juga bekerja sama dengan lembaga konservasi untuk menyelamatkan satwa yang terkena dampak dan memulihkan habitat mereka setapi bencana berakhir," tambah Herman.

Dengan kondisi saat ini, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti anjuran dari pihak berwenang. Bencana karhutla tidak hanya mengancam kehidupan manusia, tetapi juga merusak ekosistem yang menjadi rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna.

Artikel Selanjutnya →

Roma 'Rasa' Argentina

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Wulan Simanjuntak

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter