17, 2026
Nasional

Anak Krakatau Dilaporkan Erupsi, Warganet Was-was Kaitkan Suara Dentuman

Gunung Anak Krakatau dilaporkan erupsi sedikitnya 10 kali. Warganet was-was dan mengaitkannya dengan suara dentuman di sejumlah wilayah.]]>

Lestari Purnama
Lestari Purnama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Anak Krakatau Dilaporkan Erupsi, Warganet Was-was Kaitkan Suara Dentuman

Anak Krakatau Dilaporkan Erupsi, Warganet Was-was Kaitkan Suara Dentuman

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali melontaskan material vulkanik dalam erupsi yang terjadi pada Rabu (15/5) malam. Informasi ini segera menyebar di kalangan masyarakat setempat dan menjadi perhatian di media sosial, dengan banyak warganet yang menyatakan was-was setelah mendengar suara dentuman yang diduga berasal dari gunung berapi tersebut.

Berdasarkan laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi Anak Krakatau berlangsung selama 2 menit 11 detik pada pukul 21.14 WIB. Gunung ini melontaskan abu vulkanik setinggi 500 meter di atas puncak gunung. Meskipun demikian, status gunung tetap berada pada Level II (Waspada) dengan ancaman terbatas pada radius 2 kilometer dari puncak.

Aktivitas Vulkanik Terus Termonitor

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapi (BPPTKG) Hanum Maryanto mengatakan bahwa aktivitas Anak Krakatau terus dipantau secara ketat. "Kami telah meningkatkan frekuensi pengamatan sejak awal Mei lalu. Selama seminggu terakhir, tercatat 21 kali gempa tektonik lokal dan 64 kali gempa vulkanik," jelas Hanum dalam rilis resminya.

Menurut data BPPTKG, deformasi tanah di sekitar kawah Anak Krakatau menunjukkan adanya aktivasi magma. Namun, hingga saat ini tidak ada indikasi bahwa erupsi akan bertransisi menjadi tahap yang lebih besar. "Meski ada erupsi, kita belum melihat tanda-tanda seperti gelombang tsunami atau letusan eksplosif seperti tahun 2018," tambah Hanum.

Reaksi Masyarakat dan Warga Sekitar

Erupsi Anak Krakatau langsung menimbulkan reaksi dari masyarakat di sekitar pulau Sumatera dan Jawa bagian barat. Banyak warga di Kepulauan Seribu, Lampung, dan Banten melaporkan mendengar suara dentuman yang keras sekitar pukul 21.00 WIB. Suara ini menimbulkan kepanikan di kalangan warga, terutama mereka yang masih ingat dengan bencana tsunami yang terjadi pada akhir 2018 lalu.

"Tiba-tiba ada suara dentuman yang keras, seperti ledakan. Langsung saya cek ke arah Anak Krakatau, tapi karena malam, hanya terlihat cahaya merah samar," kata Ahmad, warga di Carita, Banten, yang dihubungi secara telepon.

Sementara itu, di media sosial, berbagai unggahan tentang erupsi Anak Krakatau dengan cepat viral. Banyak pengguna Twitter dan Facebook membagikan video yang menunjukkan cahaya merah di langit malam. Beberapa akun resmi pemerintah daerah segera memposting informasi untuk menenangkan masyarakat.

Upaya Evakuasi dan Penanganan Darurat

Pemerintah setempat telah mempersiapkan langkah-langkah antisipasi meskipun status ancaman masih terbatas. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Selatan, Eka Fadillah, mengatakan tim siaga siap diterjunkan bila diperlukan. "Kami sudah mempersiapkan posko darurat di beberapa titik dan mengimbau warga untuk tetap waspada namun tidak panik," ujar Eka.

Untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik, pemerintah telah mendistribusikan masker ke warga di sekitare kawasan pesisir. Selain itu, petugas BPBD juga memantau kualitas udara secara berkala. "Abu vulkanik saat ini belum berdampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat, tetapi kami tetap waspada," tambah Eka.

Potensi Bahaya dan Mitigasi

Anak Krakatau merupakan gunung berapi aktif yang lahir dari letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883. Letusan tersebut menghasilkan ledakan yang terdengar hingga Australia dan mengakibatkan tsunami yang menewaskan lebih dari 36.000 orang. Potensi bahaya dari Anak Krakatau terus menjadi perhatian serius bagi para ahli vulkanologi.

Dr. Devi Kamil, seismolog dari Institut Teknologi Bandung, menjelaskan bahwa meskipun erupsi terkini tidak menunjukkan tanda-tanda bahaya besar, masyarakat tetap perlu waspada. "Karakter Anak Krakatau adalah tidak dapat diprediksi. Meski sekarang aktivitasnya masih normal, kita tetap perlu mengikuti anjuran PVMBG," ujar Devi.

Untuk mengurangi risiko, pemerintah berencana melakukan sosialisasi intensif kepada masyarakat tentang prosedur darurat saat gunung berapi meletus. "Kami akan bekerja sama dengan BPPTKG untuk menyediakan informasi yang akurat dan cepat kepada masyarakat," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari.

Saat ini, aktivitas Anak Krakatau terus dipantau oleh tim BPPTKG. Setiap perubahan status akan segera disampaikan kepada masyarakat melalui berbagai saluran komunikasi. Warga di sekitar kawasan diminta untuk tetap tenang dan mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Purnama

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter