Ace Hasan hingga JK Hadiri GIHES 2026, Bicara soal Pendidikan Pesantren
Kegiatan Global Islamic Education Summit (GIHES) 2026 berlangsung meriah dengan menghadirkan berbagai tokoh penting di bidang pendidikan Islam. Acara yang berlangsung selama tiga hari ini menghadirkan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dan Ace Hasan Syadzily sebagai pembicara utama yang membahas pentingnya pendidikan pesantren dalam konteks modern.
GIHES 2026 mengusung tema "Pendidikan Islam dalam Era Digital: Menjaga Tradisi Menghadapi Perubahan". Acara ini mengumpulkan ulama, akademisi, praktisi pendidikan, dan praktisi teknologi dari berbagai negara untuk membahas bagaimana pesantren dapat mempertahankan esensi nilai-nilai Islam sekaligus mengadaptasi diri dengan perkembangan teknologi digital.
Visioner Pendidikan Pesantren
Dalam sambutannya, Ace Hasan Syadzily menekankan bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia memiliki peran krusial dalam menjaga keberlanjutan pendidikan Islam yang berkualitas. Menurutnya, pesantren tidak boleh terjebak dalam kekakuan atau mengabaikan perkembangan zaman.
"Pesantren harus mampu menjadi bridge antara tradisi dan modernitas. Kita perlu mengakui bahwa dunia telah berubah drastis dengan hadirnya teknologi digital. Namun, perubahan itu tidak boleh mengikis nilai-nilai fundamental yang menjadi ciri khas pesantren," ujar Ace Hasan dalam sesi pleno pembukaan GIHES 2026.
Ia menjelaskan bahwa pesantren perlu bereksperimen dengan metode pembelajaran yang lebih menarik bagi generasi milenial dan generasi alpha, tanpa meninggalkan metode klasik yang telah terbukti efektif dalam membentuk karakter santri.
Kolaborasi Tradisi dan Teknologi
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam pidatonya menyoroti pentingnya kolaborasi antara tradisi pesantren dengan teknologi modern. Menurut JK, pesantren memiliki keunggulan dalam pembentukan karakter dan moral, sedangkan teknologi dapat memperluas jangkauan akses pendidikan.
"Pesantren tidak perlu takut dengan teknologi. Sebaliknya, pesantren harus merebut teknologi untuk kepentingan pendidikan. Bayangkan saja jika jutaan santri di seluruh Indonesia dapat mengakses perpustakaan digital atau belajar melalui platform e-learning tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren," ujar JK yang akrab disapa JK ini.
JK mengungkapkan bahwa ia mendukung penuh inovasi dalam pendidikan pesantren asalkan tidak mengabaikan esensi pendidikan karakter yang menjadi ciri khas pesantren. Ia mencontohkan beberapa pesantren yang telah berhasil menggabungkan kurikulum pesantren dengan kurikulum nasional bahkan internasional.
Inovasi Pendidikan Pesantren
Selama tiga berlangsung, GIHES 2026 menghadirkan berbagai sesi diskusi yang membahas inovasi dalam pendidikan pesantren. Salah satunya adalah sesi tentang penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran agama Islam.
"Kita sedang mengembangkan sistem AI yang dapat membantu kiai dan ustad dalam mempersonalisasi pembelajaran agama sesuai dengan karakter dan kebutuhan masing-masing santri. Sistem ini tidak menggantikan peran kiai, tetapi menjadi asisten yang membantu proses belajar mengajar," jelas salah satu narasumber dari Tim Inovasi Pendidikan Pesantren.
Sesi lain membahas tentang pengembangan kurikulum pesantren yang relevan dengan kebutuhan industri 4.0. Beberapa pesantren telah memasukkan mata pelajaran seperti pemrograman, data science, dan entrepreneurship ke dalam kurikulum mereka tanpa meninggalkan pembelajaran kitab kuning.
Masa Depan Pendidikan Pesantren
Acara ini ditutup dengan penandatanganan perjanjian kerjasama antara pesantren-pesantren besar di Indonesia dengan beberapa universitas internasional untuk mengembangkan program pendidikan yang menggabungkan nilai-nilai Islam dengan ilmu pengetahuan modern.
"GIHES 2026 bukanlah akhir dari perjuangan mengembangkan pendidikan pesantren, melainkan awal dari kolaborasi yang lebih besar. Kita percaya bahwa pesantren akan terus beradaptasi dan memberikan kontribsi signifikan dalam pendidikan Islam di masa depan," tutup Ketua Panitia GIHES 2026, Ahmad Fauzi.
Dihadapan ratusan peserta dari dalam dan luar negeri, Ace Hasan dan JK menyampaikan pesan optimisme bahwa pesantren akan terus survive dan berkembang seiring dengan perubahan zaman, asalkan mampu menjaga esensi nilai-nilai Islam yang telah menjadi warisan leluhur.
Komentar (0)